Nelangsa di Ujung Negeri

3
34
views

Anyir darah mewarnai angin malam

Malam tak hanya menabur debar tapi resah
Suara kaki serdadu soviet
Memecah senyum menjadi cemas
Siapa lagi yang arwahnya dicumbui maut?

Titik – titik harapan ku rangkai di gelapnya keputusasaan
Membentuk garis tekad penguat langkah
Bahkan pada sapuan badai salju
Menutup jejak kaki tapi tidak gairahnya

Kerongkongan mereka tandus
Dirapas rakusnya pemerintah
Hak raga seolah mimpi belaka
Tanpa air
Tanpa padi
Tubuhku nelangsa namun rinduku menjadi santapan jiwa

Kabut derita seolah betah di negeri ini
Anak kecil menutup lahat ibunya dengan jemari kecil
Air matanya mengkrital dan mengeras di dadanya
Tuhan adilkan negeri ini merampas rumahku?
Merampas ladang ayahku
Merampas kain gendonganku
Melahirkanku dalam keyatiman yang pekat

Langit desaku menghitam
Burung sirtu berpesta pora di atas tubuh saudara-saudaraku
Kali ini anyir darah telah terurai
Membusuk dan menyisahkan kenangan pahit

Makassar 19 April 2017
Dialog Malam dan Ragu

Angin membisikku…
Kata yang ku kecup digerus badai
Kau pulang setelah habis dan terbakar
Mengurung diri di kotak hitam yang hanya bisa dibuka olehku
Namun tetap saja ada yang hilang dari mu

Pikiranku terpatri dan tertuang dalam ribuan aksara
Kau merebut semua resahku
Meskipun dunia membencimu
Sungguh mereka hanya mengenal satu sisimu saja

Kau tempah luka dan duka dalam sekejap
Ia berhamburan keluar dari tanganku tersapu menjadi abu
Lalu kutiup perlahan dengan mata terpejam
Agar dia tidak berbalik menghilangkanmu
Tanpa sadar selubung bahagian kembali membungkus keraguan

Oleh Irma Muhsen

Karya ini pernah terbit di harian Go Cakrawala

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here