Belajar Sejarah Dari Kasus First Travel

0
38
views

Apakabarkampus.com – Hal-hal yang dibangun dengan ketidakjujuran suatu saat pasti akan terbongkar, lalu musnah serta kembali ke posisinya yang semula.

Kira-kira hal inilah yang dialami oleh Andika Surachman dan istrinya, Annisa Hasibuan. Keduanya adalah bos First Travel yang ditangkap atas kejahatan penggelapan uang jamaah umrah. Ya, bisnis mereka memang termasuk bisnis yang mulia yakni membantu muslim menjalankan salah satu ibadahnya. Sayang, pada prakteknya kedua orang ini malah menyelewengkan dana klien mereka sendiri. Konon sistem yang mereka pakai dalam bisnis mereka adalah Skema Ponzi. Sistem yang sudah terkenal keburukannya.

Ditilik dari perjalanan pasutri ini sebenarnya kita bisa berdecak kagum dengan kisah mereka. Mulai dari bagaimana jatuh-bangunnya mereka membesarkan perusahaan sampai mereka meraih puncak kesuksesan. Itu kalau dijadikan buku bisa jadi dwilogi bahkan trilogi apalagi kalau penjualannya menunjukkan angka yang menjanjikan.

Buku itu bisa dimulai dari saat mereka masih berjualan humburger dipinggir jalan, jualan pulsa sampai akhirnya mereka membeli saham sebuah restoran di London yang konon harganya sampai 14 miliar. Epik sekali pasti. Tapi sekali lagi kisah ini berakhir sedih. Keduanya ditangkap. Harta kekayaannya disita. Yah … paling tidak mereka masih punya foto-foto cetar mereka sewaktu jalan-jalan di luar negeri.

Sejarah Skema Ponzi

Adalah Charles Ponzi, pria kelahiran 3 Maret 1882, orang yang dianggap sebagai pelopor pertama skema bisnis ini. Sepak terjangnya dimulai ketika ia meninggalkan tanah kelahirannya di Parma, Italia menuju Boston, Amerika serikat tahun 1903. Sebelum memulai bisnisnya sendiri – yang kemudian dikenal dengan skema Ponzi, ia bekerja di beberapa tempat mulai dari pengawai bank sampai penjaga toko. Diantara tahun-tahun itu Ponzi sempat dipenjara akibat beberapa kasus kriminal.

Ia mulai menjalankan skema ponzinya saat ia mulai menjual kupon khusus “seperti perangko” yang berlaku secara internasional. Ponzi menyadari ada perbedaan harga antara kupon yang dijual di negara satu dengan negara lainya. Hal ini ia sadari ketika menerima surat dari Spayol yang menggunakan kupon khusus tadi. Ia lalu menyuruh seseorang (agen) untuk membeli kupon itu di negara Spanyol kemudian menjualnya kembali di Amerika dengan harga yang lebih tinggi. Selisih dari harga kupon inilah yang menjadi keuntungan Ponzi.

Belakangan Ponzi mengajak orang untuk menginvestasikan uang mereka di bisnis ini. Ponzi menjanjikan mereka bunga 50% hanya dalam 45 hari bahkan 100% pada 90 hari. Sebuah tawaran yang menggiurkan bagi orang-orang disaat itu. Mereka yang tidak berpikir panjang kemudian bergabung dalam bisnis Ponzi.

Bisnis ini sebenarnya tidak memiliki produk yang bisa dijual baik itu barang maupun jasa. Tidak ada dana segar yang masuk ke bisnis ini selain uang yang disetor oleh investor yang baru bergabung. Yang Ponzi lakukan adalah menggunakan uang investor baru untuk membayar bunga/keuntungan investor yang lama. Persis seperti gali lubang tutup lubang. Masalahnya adalah lama kelamaan masyarakat akan mengalami kejenuhan, akibatnya sudah tidak ada lagi orang yang ingin bergabung ke dalam bisnis ini sebagai investor baru. Alhasil tidak ada aliran uang baru yang masuk dalam bisnis ini.

Skema Ponzi kemudian kolaps karena investor lama mulai menuntut hak mereka. Karena tidak ada kejelasan, para investor itu kemudian menuntut untuk menarik semua investasi mereka. Tentu saja Ponzi tidak dapat mengembalikan dana tersebut. Charles Ponzi akhirnya ditangkap pada 12 agustus 1920 dengan jumlah utang mencapai 7 miliar dollar. Total Ponzi menghabiskan 14 tahun dalam penjara sebelum meninggal dalam keadaan miskin pada tahun 1949 di Brazil.

Hal yang sama ditengarai dilakukan oleh First travel, mereka menggunakan uang setoran jamaah baru untuk memberangkatkan jamaah yang lebih dulu mendaftar. Mereka tidak memperhitungkan bahwa biaya keberangkatan, sewa hotel dan seluruh kegiatan umrah lain bisa berubah sewaktu-waktu. Sehingga, uang setoran jamaah yang baru mendaftar bisa jadi tidak bisa menutupi biaya keberangkatan pendaftar sebelumnya. Akhirnya terjadi penundaan keberangkatan. Pada kasus First Travel ada jamaah yang bahkan sudah dua tahun menunggu jadwal keberangkatannya. Resah karena tidak kunjung berangkat, para jamaah akhirnya menuntut uang mereka dikembalikan. Tapi ternyata uang mereka sudah raib entah kemana.

Berapa biaya Umrah yang rasional?

Dikutip dari Pikiran-rakyat.com, Ketua Komisi VIII DPR RI, Ali Taher Parasong menegaskan bahwa biaya umrah yang rasional untuk saat ini seharusnya tidak kurang dari Rp 28,6 juta. “Angka minimun untuk umrah itu 2.200 dolar AS. Itu masih rasional. Di luar itu tidak logis,” tegas Ali Taher. 

Belajar dari kasus ini masyarakat seharusnya selalu waspada dengan maraknya travel umroh dan haji saat ini. Jangan mudah terhasut dengan harga yang terlampau murah. Bisa cek dan ricek dulu apakah tidak ada penundaan terhadap jamah sebelumnya. Kalau ada, alasannnya apa?

Dengan biaya murah yang dipatok travel tertentu, maka itu berarti travel tersebut seharusnya memiliki sumber dana lain yang dapat mensubsidi biaya umrah yang mereka tetapkan. Sehingga bisa diteliti atau minimal ditanyakan. Dengan menyadari semua hal ini diharapkan tidak ada lagi korban yang berjatuhan.

Di sisi lain animo masyarakat yang sangat besar untuk berangkat ke tanah suci mestinya diregulasi oleh pemerintah dengan baik. Hingga saat ini belum ada standar khusus penetapan biaya umrah. Hal ini menyebabkan banyaknya travel yang menetapkan harga jauh dibawah standar. Kenyataan ini membuka peluang terjadinya penipuan. Sayangnya, untuk langsung menindak travel nakal ini pihak Kementerian Agama belum memiliki payung hukum yang jelas. Disinilah kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan. Sayangnya badan legislatif tidak bisa menjalankan fungsi legislasinya dengan baik karena belum punya rumah baru. Eh benar tidak sih?

Kasus First Travel jelas bukan yang pertama, pertanyaannya akankah ini jadi kasus yang terakhir? 

Penulis: Nur Hidayat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here