Kawali (Badik), Pusaka Istimewa dari Bugis

0
296
views

Apakabarkampus.com – Ada istilah “Taniya Ugi narekko de’na punna kawali.” yang berarti bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik. Dalam masyarakat Bugis, badik dikenal sebagai senjata, alat berburu sekaligus menjadi identitas. Masyarakat Bugis juga meyakini bahwa di dalam badik terdapat kekuatan magis yang dapat mempengaruhi kehidupan pemiliknya. Badik diyakini dapat membawa ketenangan, kedamaian dan kemakmuran. Namun di sisi lain, badik juga dapat membuat pemiliknya menjadi sial dan penuh penderitaan.

Badik telah menjadi identitas diri masyarakat Bugis. Badik merupakan bagian dari keluhuran yang menjadi kekayaan tersendiri. Sebetulnya badik bukan hanya dimiliki masyarakat Bugis, daerah lain seperti Makassar dan Mandar juga menggunakan senjata serupa namun dengan sebutan dan corak yang berbeda.

Badik tidak bisa dilepaskan dari asal-muasalnya dibuat, yaitu sebagai senjata untuk membela diri dan senjata perang. Dulu, masyarakat dan para raja-raja Bugis menggunakan badik dalam peperangan. Badik yang dipakai adalah badik beracun yang digunakan untuk melumpuhkan musuh dengan cara ditikamkan di bagian perut atau leher.

Namun, perlu diingat bahwa pembawaan masyarakat Bugis yang sampai saat ini gemar membawa badik tidak bisa disimpulkan sebagai suku yang suka berperang ataupun berbuat keonaran. Itu kembali lagi kepada perilaku si pemilik badik. Karena sejatinya masyarakat Bugis gemar membawa badik itu mencerminkan perbuatan dan pamor bagi pemiliknya.

Secara historis sesuai penggunaanya, banyak masyarakat Bugis yang kemudian menyakralkan senjata ini. Badik yang disakralkan biasanya yang telah berusia cukup tua dan memiliki nilai historis yang tinggi. Apabila badik sudah dikeramatkan dan disucikan oleh pemiliknya, maka secara otomatis badik itu tidak akan digunakan lagi sebagai senjata. Karena apabila setelah disakralkan masih digunakan untuk melukai ataupun membunuh seseorang, diyakini darah yang menempel pada badik akan selalu meminta tumbal berikutnya termasuk si pemilik. Untuk menghilangkan aura negatif itu biasanya si pemilik bersumpah untuk tidak lagi menggunakan badiknya dengan melaksanakan ritual tertentu. Namun, badik yang biasanya disakralkan akan disimpan rapi, dipercantik dengan ornamen emas ataupun permata dan dipajang di ruang tamu pada rumah masyarakat Bugis.

Sebegitu istimewanya badik di hati orang Bugis, nilai-nilai yang terkandung dalam sebilah badik masih dipertahankan sejak dari leluhur hingga kini. Maka tak heran ketika diadakan pesta rakyat, upacara adat, festival budaya maupun hari jadi daerah Bugis di Sulawesi Selatan, maka acara pencucian benda pusaka termasuk badik akan selalu ada dalam setiap rangkaian kegiatannya.

Masyarakat Bugis juga meyakini orang yang tidak mempertahankan nilai-nilai positif dalam sebilah badik dan menggunakan badik itu untuk keperluan yang buruk, sejatinya dia bukan termasuk bagian dari masyarakat Bugis itu sendiri.

Penulis : Indar Ariska 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here