Guru Sejarah Itu Bernama Subair

0
41
views

Apakabarkampus.comSekolah dirundung duka, salah satu pengajar terbaiknya berpulang ke pangkuan ilahi. Pak Ferdy namnya, beliau adalah guru sejarah kami.

Selain meninggalkan duka, kepergiannya juga meninggalkan misteri, lantaran penyebab kematiannya hingga saat ini tidak diketahui. Tetapi banyak yang mengatakan bahwa beliau mati diracun. Desas-desus yang lain mengatakan bahwa Pak Ferdy meninggal karena kena serangan jantung. Entahlah yang mana benar? Tetapi sebuah kepastian bahwa beliau telah tiada.

Hingga dua bulan kematiannya, polisi belum mampu menyingkap tabir kematian Pak Ferdy. Ibunda dan saudara Pak Ferdy begitu terpukul atas kematian tak wajar anaknya. Tetapi ada satu tanya yang berkelebat di kepalaku, siapa gerangan yang tega membunuh Pak Ferdy? Guru honor yang dikenal bersahaja itu. Ah sungguh bodoh nian diriku. Mana ada pembunuh yang ingin mengaku.

***

Saya masih menyempatkan menghadiri pemakaman kawan lama saya sewaktu di kampus. Ferdy namanya. Selain sebagai kawan lama, Ferdy juga adalah rekan kerja di sekolah. Banyak juga yang menghadiri pemakamannya—memberikan penghormatan terkahir. Kulihat juga salah satu kawanku, teman sekelas Ferdy. Rupanya dia hadir. Mungkin sebaiknya kupinta ia menggantikan Pak Ferdy nantinya.

***

Sebenarnya saya tak ingin menjadi guru honor menggantikan almarhum Ferdy. Setidaknya ada dua alasa, pertama Ferdy adalah bekas musuh saya, kedua saya tidak mempuni dalam mengajarkan sejarah. Tetapi lantaran penghormatan saya terhadap Pak Mujahidin Musa yang berkebetulan senior saya di organda dulu, maka saya harus mengiakan.

***

Tiga bulan setelah kematiannya, kami kedatangan guru baru. Lelaki perawakan sedang, matanya cekung dan ada garis hitam di bawah kelopak matanya. Tubuhnya kurus, nampak dari kemeja yang dikenakannya begitu longgar. Wajahnya begitu pucat. Jika saja rambutnya panjang, sang guru baru itu begitu mirip dengan Profesor Snape dalam lakon Harry Potter. Ah, rambutnya sedikit tipis dan mulai beruban. Mengakunya baru berumur seperempat abad—umur  yang sama dari Pak Ferdy—tetapi wajahnya menampakkan usia di atas tiga puluh.

“Nah anak-anak sekalian, saya guru baru kalian. Mengampuh mata pelajaran Sejarah Indonesia. Kali ini coba buka buku paket mu. Halaman 32.”

Lah buset! Baru pertemuan pertama langsung main buka-buka halaman. Seharusnya perkenalan dulu kan?

Sebagai siswa yah kami hanya menurut, mebuka lembaran buku paket hasil bagian dana Bantuan Operasional Sekolah atau dana BOS. Wau rupanya materi yang akan diajarkan yakni kehadiran V.O.C. Di Bumu Nusantara. Sebuah kongsi dagang yang dikendalikan dari gedung yang tak terlalu megah nun netherlands sana—yang mampu mengobok-ngobok kedaulatan kerajaan Mataram, Gowa-Tallo, Pajajaran, dan lain sebagainya.

“Anak-anak sekalian?! Tahukah kalian tentang V.O.C.?” sang guru melemparkan tanya, matanya mengeker satu per satu siswa termasuk saya yang duduk di pojokan.

“Tak ada yang bisa jawab?!” nada suaranya sedikit meninggi. Matanya semakin tajam menatap, membuat saya sedikit bergidik. Matanya seperti burung hantu, ngeri euy!

***

Sepertinya ada yang keliru dalam pertemuan pertama tadi, seharusnya saya memperkenalkan dulu siapa sebenarnya diriku. Tetapi yah sudahlah kepalang basah. Setidaknya materi bisa dilanjutkan.

“Tidak ada yang bisa jawab pertanyaanku? Tentang V.O.C?”

“Saya pak!”

“Yah, gadis dengan rambut yang dikepang itu, silahkan dijawab.”

***

Ruang guru hari ini auranya gelap. Mungkin lantaran kepergian Pak Ferdy yang mendadak. Ah, guru yang nyentrik dan cerdas itu sudah tak ada lagi, candanya yang smart sudah tak mengisi waktu suntuk para guru yang dijejali rutinitas dan beban kerja berat apatah lagi full day school yang diberlakukan.

“Selamat siang Pak Mujahidin.”

“Siang Pak Subair, sudah mengajar. Bagaimana hari pertamanya?”

So far so good lah.?”

“Yah alhamdulillah.”

Subair. Guru sejarah baru pengganti almarhum Ferdy. Beliau sesungguhnya teman angkatan Pak Ferdy yang berkebetulan teman sefakultas dulu. Ah jadi ingat masa lalu ketika Pak Ferdy menjabat sebagai ketua HMJ dan saya sendiri sebagai Presiden BEM. Adapun Subair hanya menjadi staff biasa, gagal dia dalam pemilihan ketua HMJ.

Subair yang saya kenal dahulu suka dengan hal-hal yang berbau detektif, ia mengeloksi novel Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle. Bahkan suka drama-drama thriller atau detektif. Subair mengingatkan saya dengan siswi di kelas bahasa itu. Suka drama Korea genre thriller dan novel-novel detektif.

“Masih suka main detektif-detektifan Subair?!” tanyaku padanya. Sontak ia tertawa sembari kemudian mengedipkan matanya.

***

Sepekan setelah pertemuan pertama, barulah kami tahu bahwa nama guru itu adalah Subair. Katanya, Pak Subair itu satu angkatan dengan almarhum Pak Ferdy di jurusan Pendidikan Sejarah—salah satu jurusan mentereng di Universitas Jingga. Kala siang itu, Pak Subair sedikit menyinggung tentang almarhum Pak Ferdy, beliau sempat bercerita tentang rivalitas ketika masih kuliah.

“Saya sama si Ferdy itu adalah rival, kami selalu bersaing satu sama lain, mulai dari urusan akademik hingga permasalahan asmara. Yah saya selalu kalah dengan almarhum. Bahkan ketika mencalonkan sebagai ketua HMJ saya kalah tipis. Berbeda satu suara.”

Selama 45 menit pembelajaran Sejarah Indonesia, Pak Subair hanya nyerocos tentang Pak Ferdy, dari nada suaranya begitu satir nampaknya ada dendam bersemi di hatinya. Pada menit ke 46 Pak Subair kemudian memberikan sebuah post card atau kartu pos. Ada sekira 18 post card yang dibagikan. Kartu pos itu menunjukkan litografi—atau seperti ilustrasi—kapal-kapal V.O.C. Belanda. Tiap-tiap post card diberikan untuk dua orang.

“Anak-anak, karena rombongan belajar berjumlah 36, maka tiap dua orang mendapat satu post card. Kalian silahkan mengikuti instruksi dibalik post card itu.”

Dengan perasaan sedikit riang gembira saya membuka post card itu. Oh iya, saya riang bukan tanpa alasan, pertama kartu pos ini begitu indah. Menampakkan sosok pelaut Belanda yang sedikit merunduk menaruh hormat pada seseorang yang berpakaian khas, di kepalanya terlilit kain. Sekilas mirip sorban dari Yaman. Kartu pos itu seperti menggambarkan suasana pendaratan Cornelius de Houtman di Pelabuhan Banten pada Juni 1596. Kemudian yang kedua, kegiranganku karena saya tandem dengan lelaki tampan bernama Surya Al Gazali. Lelaki yang sudah lama kutaksir.

Di bagian post card itu terdapat tulisan tangan Pak Subair, tulisannya jelek sekali, tapi untunglah dapat terbaca. “Amati post card tersebut, dan gunakanlah imajinasimu untuk menuliskan atau menggambarkan adegan dalam gambar tersebut”. Pada bagian bawah kartu pos itu dibubuhi tanda-tangan yang diakhiri dengan titik dan garis datar serta sebuah huruf yang menyerupai “F”.

“Nah sudah baca kan instruksinya. Kalian sebenarnya diminta menggunakan imajinasi untuk membuat suatu narasi sejarah berdasarkan post card yang saya bagi. Sederhananya kalian diperintahkan membuat cerita pendek.”

Ha?! Maksudnya? Saya tidak mengerti? Sahutku dalam hati mendengarkan pinta Pak Subair.

“Kalau tidak paham, coba kalian baca beberapa karya sastra yang dimuat di koran, seperti karya Ibe S. Palogai yang berjudul ‘Bongaya” atau karya Kasman Mc Tutu berjudul ‘Daeng Serang Adikku’. Dengan banyak membaca kalian akan paham maksud dari tugas yang saya berikan. Saya sengaja menyuruh kalian mengarang agar tidak diterungku oleh Mbah Google. Paham kan dengan instruksinya?! Pekan depan dikumpul. Ingat satu post card satu cerita. Itu berarti setiap dua orang siswa akan bekerjasama membuat satu cerpen.” Demikianlah Pak Subiar melontarkan kata sembari mata yang sedikit juling itu menatap kami.

Setelah pembelajaran usai dan bel istirahat berbunyi, suasana kelas riuh rendah, ngedumel dengan tugas yang diberikan Pak Subair. Bgeitu pun diriku. Di dalam hati berkata, “Kenapa coba guru baru itu memberikan kami tugas mengarang? Bukankah dia guru Sejarah Indonesia?! Bukan guru Bahasa Indonesia!”

“Hei! Kamu dapat gambar apa?” tetiba salah seorang kawanku bertanya. Kuperlihatkan saja kartu pos di genggaman. Lantas, kawanku itu—Naufal namanya—memperlihatkan sebuah litografi yang mengilustrasikan sebuah perang. Di bagian kiri dan kanan atas gambar nampak sebuah potret dengan keterangannya. Samar-samar saya bisa membaca salah satunya, “Aru Palacca de King of Boni”.

“Ini ilustrasi Perang Makassar,” sahut Naufal. “Perang yang menguras banyak biaya. Tahu tidak?! Hingga sekarang, para lakon yang terlibat perang tersebut masih memiliki kontroversi, salah satunya yah raja Bone bernama Aru Palakka. Bagi sebagian orang beliau adalah pengkhianat. Tapi bagi sebagian lagi beliau adalah seorang pahlawan. Tapi itu tergantung bagaimananya orang memaknai peristiwa sejarah dan dari kaca mata yang mana ia memandangi peristiwa itu.”

Saya hanya mangut-mangut saja, sejenak Naufal memberikan kartu posnya. Kuperhatikan seksama dan membolak-baliknya. Kulihat ada bubuhan tanda tangan pak Subair. Namun ada sedikit berbeda, di bagian akhir diakhiri dengan satu garis, satu titik, dan dua garis. Seperti kode morse.

***

Sudah sepekan ini saya merasa gelisah, mungkin lantaran di luar mukim lalu-lalang orang yang mencurigakan. Badannya tegap seperti intel. Ah tidak mungkin dia datang kemari menemuiku. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan mereka sudah memecahkan kasusnya?! Wah-wah jangan katakan keisengan saya berbuah petaka. Kalau begitu sebaiknya kuhubungi dahulu Mujahidin.

“Halo?! Pak Mujahidin?”

***

Sebagai sekretaris ketua kelas, saya berkewajiban mengumpulkan lembar tugas kawan saya. Kini di hadapanku telah tersaji 18 post card. Dan besok saya harus menyetornya ke pak guru sejarah yang baru itu. Guru sejarah yang di mataku selalu mengeluarkan aura gelap. Ah sudahlah. Yang penting tugas sudah selesai!

Hmm. Tapi tunggu dulu, bagian belakang post card ini juga aneh. Kok Pak Subair selalu menyematkan pola simbol titik dan garis yang berbeda tiap-tiap post card ini yah? Mungkin penanda kali yah?! Tapi kalau dilihat-lihat kok mirip kode morse yah? Ah coba iseng ah… nyusun pola ini, siapa tahu ada sutau rahasia yang tak terungkap—seperti lakon penyidik kepolisian mencari petunjuk pembunuhan.

***

Kudengar hari ini gadis bermabut kepang dari kelas bahasa itu tak hadir. Izin. Katanya ke kantor polisi. Saya tak tahu mengapa? Tetapi saya tak khawatir selaku wali kelas. Karena kutahu ayahnya bekerja di kantor polisi sana sebagai penyidik. Ah sudahlah, sebaiknya saya ke ruang guru saja.

Sembari memandangi gawai—membaca pesan singkat dari Pak Subair—saya menyusuri selasar menuju ruang guru. Sesampainya di sana suasana ruang guru riuh rendah. Beberapa dari mereka membentuk kelompok sembari ngobrol. Tapi ada yang aneh? Sayup-sayup terdengar nama Pak Subair disebut-sebut. Karena penasaran kudekati saja salah seorang dari mereka.

“Ada apa sih Ibu Guru? Ramai nian suasananya?”

Dengan air muka yang sedikit tegang, salah satu guru itu kemudian menjawab pertanyaanku. Jawaban yang membuatku terhentak. “Pak Mujahidin. Sudah dengar belum?! Pak Subair ditangkap polisi!”

Sungguminasa, 10 Zulhidjjah 1438 / 1 September 2017

Biodata Penulis

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Untuk lebih mengenal penulis dapat menjalin komunikasi di sosial media FB : Ilyas Ibrahim Husain, Twitter: @adilbabeakbar, IG: @adilakbarilyasibrahimhusain. Kini sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here