BEM FT-UNM Gelar Diskusi Ilmiah, ini yang dibahas.

0
24
views

Makassar, apakabarkampus.com – Uang Kuliah Tunggal atau biasa disingkat UKT merupakan sistem pembayaran pengganti SPP yang lahir dari Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UUPT No. 12 Tahun 2012) yang mulai diterapkan pada tahun 2013. UKT adalah hasil dari pembagian seluruh beban pembiayaan operasional pendidikan tinggi, keseluruhan biaya ini kemudian disebut Biaya Kuliah Tunggal (BKT). BKT sendiri dirumuskan sebagai dasar penetapan biaya yang akan dibebani kepada mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah. Sehingga dalam konsepsi dan penerapannya jelas bahwa UKT adalah bukti nyata dari lepas tanggung jawabnya pemerintah untuk membiayai pendidikan tinggi. UKT menjadi seakan baik atau adil karena didalamnya terdapat konsepsi bahwa UKT disesuaikan atau ditentukan berdasarkan kelompok kemampuan ekonomi masyarakat

Dalam hal ini, pembagian kelompoknya pun bervariasi, antara 3-8 kelompok. Asumsinya adalah semakin tinggi kelompoknya semakin besar biaya kuliahnya/UKT nya. Namun pada Peraturan Menteri DikBud tentang BKT dan UKT, tercantum bahwa sedikitnya hanya 5% yang ditampung dalam kelompok 1dan 2, yang biayanya berkisar 500.000-1.000.000. sementara itu pada kelompok 3-8, biayanya berkisar 1.500.000-25.000.000. Pada kelompok yang belakangan inilah dimaksimalkannya penerimaan mahasiswa. Sama halnya jalur Mandiri yang diterapkan khusus Universitas Negeri Makassar sangat jauh dari persentase yang telah ditetapkan sesuai Peraturan tentang penerapan UKT. (Sumber: http://bemfipunm1314.blogspot.co.id/2014/04/tahukahkalian-sejarah-lahirnya-ukt.html)

Berdasarkan permasalahan diatas, BEM FT UNM kemudian membuat sebuah kegiatan diskusi dengan mengangkat tema, “Apa Itu UKT?”, dimana sasarannya adalah mahasiswa-mahasiswa baru yang terkena dampak dari UKT itu sendiri. Kegiatan yang berlansung di pelataran gedung Dekanat tersebut dihadiri oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai jurusan di Fakultas Teknik.

Kegiatan yang awalnya tertunda lantaran tidak disetujui oleh pihak birokrasi karena melibatkan mahasiswa-mahasiswa baru ini kemudian dapat berlanjut setelah pengurus BEM FT UNM berdialog dengan Pembantu Dekan III bagian kemahasiswaan.

Sebelumnya di UNM telah beredar surat edaran nomor:3883/UN36/TU/2017 per tanggal 16 agustus 2017 oleh Pembantu Rektor III Universitas Negeri Makassar, yang berisi tentang larangan mahasiswa semester 1 dan 2 untuk mengikuti kegiatan lembaga kemahasiswaan mulai dari tingkat universitas, fakultas dan jurusan/prodi. Atas dasar inilah kemudian birokrasi melarang kegiatan diskusi ini.

Haerul mukmin selaku Presiden BEM FT UNM berharap bahwa dengan adanya kegiatan ini stigma masyarakat persoalan bentrok bisa diretas. “Disamping itu teman-teman mahasiswa baru bisa paham dengan kebijakan kampus, sehingga ketika mereka mau menolak mereka tahu apa yang mereka tolak”, lanjutnya.

Diskusi ilmiah ini berlansung dengan lancar, para peserta terlihat sangat antusias mengikuti jalannya diskusi.

“Kegiatan diskusi ilmiah yang dilakukan oleh BEM ini sangat bagus. Karena hari ini saya melihat sudah minimnya lagi budaya literasi atau diskusi dikalangan mahasiswa. Yang lagi trend sekarang ya ngumpul-ngumpul di kafe lalu sibuk dengan hp masing-masing. Padahal sebagai mahasiswa kita punya budaya baca, tulis, diskusi lalu aksi,” ungkap Ruslan Anwar selaku Ketua Maperwa FT UNM.

Besar harapannya kegiatan ini bisa berkesinambungan agar budaya ilmiah atau literasi bisa terus digelorakan khususnya di lingkup teknik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here