Mengenal Angngaru, Sumpah Setia Hingga Penyambutan Tamu Kehormatan

0
167
views
Sumber Foto: tribratanews.com

Apakabarkampus.com – Dalam sejarahnya, prosesi Angngaru sesungguhnya merupakan ikrar kesetiaan rakyat atau prajurit kepada raja yang bersifat pemimpin. Raja yang bersifat pengayom disenangi rakyatnya.

Saat genderan perang ditabuh oleh sang Raja, maka rakyat serta merta menyodorkan diri, rela mengobarkan jiwa raganya untuk tunaikan titah sang Raja.

Semangat patriotisme dan nasionalisme menyatakan ikrar ataupun sumpah dihadapan raja. Apapun siap dikorbankan demi mempertahankan tanah tumpah darahnya. Berikut contoh ikrar angngaru’ prajurit kerajaan Bone yang diikrarkan saat Belanda menyerang Bone tahun 1905. Perang besar yang dikenal dengan nama Rumpa’na Bone. Raja Bone pada waktu itu La Pawawoi Karaeng Sigeri.
Kata Angngaru sendiri berangkat dari kata Aru yang berarti sumpah. Angngaru (bersumpah) biasanya juga dilakukan ketika tampil di hadapan Sombayya (Raja/Pemerintah), tubarani yang akan angngaru mengambil posisi berlutut dengan posisi badan tegap, tangan kanan memegang badik yang terhunus, dan wajah yang menatap ke arah depan dengan penuh kemantapan dan keyakinan hati, sebagai tanda atas kesetiaan kepada Sombayya.

Pada masa peperangan, para prajurit yang akan berangkat ke medan perang, terlebih dahulu mengucapkan sumpah aru (sumpah setia) di depan Sombayya. Dia akan berjuang untuk mempertahankan wilayah kerajaan, membela kebenaran, dan tak akan mundur selangkah pun sebelum melangkahi mayat musuhnya. Pada saat mengucapkan aru, dapat membakar semangat juang prajurit, menumbuhkan jiwa patriotik di kalangan laskar prajurit.

Di masa damai, dalam tradisi pemerintahan Kerajaan Gowa, para pejabat kerajaan yang baru diangkat, sebelum melaksanakan tugasnya, terlebih dahulu mengucapkan aru di hadapan Sombayya ri Gowa, bahwa dia akan bekerja bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan kerajaan dan menjungjung tinggi kemuliaan raja. Aru yang diucapkan itu pula merupakan dorongan atau motivasi untuk mewujudkan cita-cita dalam membangun kerajaan.

Namun  di masa sekarang, angngaru sering digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti upacara adat kegiatan pemerintahan, maupun penyambutan tamu-tamu kehormatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here