PIPK-Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar Gelar Bedah Buku ‘Warisan Sejarah Arianisme’

0
29
views

Gowa, Apakabarkampus.com – Perkumpulan Islam Paramartha-Kadisiyah (PIPK) Makassar dan Pascasarjana UIN Alauddin Makassar menggelar Seminar dan Bedah Buku Warisan Sejarah Arianisme dari Maurice Wiles Reguis Professor of Divinity di Universitas Oxford. Kegiatan tersebut dipusatkan di Gedung Rektorat Lantai 4, Selasa (12/09/2017).

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian milad UIN Alauddin Makassar ke-52 pada 11 November 2017 mendatang. Pembicara yang dihadirkan diantaranya adalah penerjemah buku arianisme, Zaenal Muttaqin, pembedah buku, Ishak Ngeljaratan, Dr Muhammad Sabri AR M.Ag. dan pemandu acara, Dr Nurman Said MA.

Ketua PIPK Makassar, Herman Sutomo dalam sambutannya mengatakan bahwa bedah buku arianisme ini adalah cara belajar yang membuka ketakjuban pengetahuan.

“Kita akan memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam terhadap apa yang akan diungkap oleh narasumber,”ucapnya.

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Dr Musafir M.Si. dalam sambutannya menuturkan, dengan kegiatan ini dapat mengdialegtikakan pemikiran-pemikiran kita selama ini dengan pengetahuan yang baru.

“Saya sangat mengapresiasi acara ini karena pemikiran kita akan terbuka dengan pemikiran yang baru, aku Musafir,” pungkasnya.

Penerjemah buku arianisme, Zaenal Muttaqin menyampaikan bahwa pemahaman kaum Arian (Pengikut Kristen kuno) tersebut terkait posisi Yesus sebagai logos atau hikmat yang sekunder dan memiliki kesejajaran dengan konsepsi Islam tentang Nur Muhammadiyah. Islam sering bersentuhan dengan Kristen sejak awal hingga sekarang.

Sementara, pembedah buku, Ishak Ngeljaratan mengungkapkan bahwa teologi akan memecah bela dan menyusahkan orang. Arius meniadakan keilahian Yesus sedangkan Trinitas membentuk simbol-simbol Tuhan.

Pembedah buku kedua, Dr Muhammad Sabri AR M.Ag. menggambarkan sosok Arius sebagai golongan bidah dari Kristen yang mencoba mengapresiasi teologi setiap dunia kode yang dilambangkan kepada Tuhan.

Pemikiran Arius menggambarkan Tuhan adalah percakapan yang tak tercakapkan dan tidak dilambangkan sehingga keterbatasan bahwa manusia jangan terjebak oleh lambang yang membatasi hubungan manusia dengan Tuhan, tutupnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here