Who Am I? (Catatan Desy Eps.1)

0
46
views

31 Desember 2012
Siang itu, kompleks terasa sepi. Semua orang telah meninggalkan rumah mereka menuju pantai, untuk merayakan malam tahun baru. Sunyi, sepi, dan tanpa suara. Ya, begitulah keadaan kompleks perumahan bunga indah yang ku tempati. Bahkan mama telah keluar rumah sejak jam tiga sore tadi. Tinggallah aku, mbok ani, dan pak narto. Aku berdiri di balik jendela kamar, memandang jalan komples yang sepi, hanya terlihat beberapa ekor kucing sedang mengorek-ngorek tempat sampah depan rumah. Lucunya.. batinku terasa ingin berterik memanggil kucing-kucing itu, “aaauuugggghhh” dan yang terdengar hanya suara yang membuat kucing-kucing itu pergi.

Aku seorang cacat mental, kedua orang tuaku sama sekali tidak pernah mengharapkan kehadiranku di dunia ini. Mereka melihatku seperti musuh dari dulu. Hanya mbok ani dan pak nartolah yang mengajariku membaca dan menulis. tidak ada kasih sayang yang menyirami perkembanganku setiap tahun. Tidak ada perayaan ulang tahun seperti teman-temanku yang lain. Dan aku pun disembunyikan dari publik, seolah aku adalah aib paling buruk bagi mereka.
Mungkin saat ini mama sedang asyik bersama teman-temannya, merayakan malam tahun baru dipuncak. Yah, mama sangat sering keluar rumah semenjak telah diceraikan oleh papa se tahun lalu. aku tahu jelas, mereka bercerai gara-gara aku, mereka selalu meributkan aku, aku,dan aku.  Papa curiga pada mama, dan menuduhnya selingkuh, karena rupaku ini memang tidak mirip mereka. Mama yang cantik dan papa yang manis. sedang aku? gadis dengan keterbelakangan mental, dengan kepala yang kecil, bola mata yang besar, seakan ingin menerobos kantung mataku, hidung pesek, dan di tambah lagi mulut yang lebar dan terus menganga serta  terus mengeluarkan air liur tanpa henti.

Kadang aku merindukan belaian mama, tak pernah sedetikpun aku melihat mama tersenyum padaku, yang ada hanya kemarahan dan cacian yang selalu ku terima dari mama. Aku merindukan kata-kata lembut dari papa, tapi kenyataannya papa tidak pernah sekalipun mengeluarkan suara untukku. terkadang, begitu menyakitkan hidup dalam kesunyian ini, aku merasa telah berdosa dengan lahir kedunia. Bahkan, aku berfikir, mengapa aku hidup? diberi tempat tinggal, dan makananpun seharusnya aku sudah merasa cukup. Tapi aku ingin lebih dari ini, aku ingin mama tahu, kalau aku juga ingin disayangi.
Mama dan Papa sangat berbeda dengan Mbok Ani dan Pak Narto. Mereka selalu sudi tersenyum padaku, selalu sudi menolongku ketika jatuh, mbok Ani yang selalu ikhlas membersihkan tetes-tetes air liur yang membasahi bajuku, bahkan mbok Ani membacakan dongeng dan menyanyikan sebuah lagu sebelum aku tidur. Hal yang tidak pernah mama berikan padaku.
31 desember 2012, 23.40
Sebentar lagi, tahun baru akan datang, itu artinya ulang tahunku pun akan datang pula. Aku tetap berdiri dibalik jendela kaca di kamarku. Menatap jalan yang hanya diterangi oleh lampu jalan. Aku mulai meraba masa-masa kecilku. ces!! air liurku kembali menetes dan membasahi bajuku. Aku hanya melihatnya dan kembali menerawang dunia luar.
“Mama dimana ?” batinku merindukan mama, “aaauuughhhh” tapi lagi-lagi aku hanya dapat mengeluarkan suara yang sangat menakutkan. Aku benci menjadi AKU. Aku ingin hidup normal, aku tidak ingin dicaci, dimaki, dan di sembunyikan. Aku ingin disayangi. (Bersambung….)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here