Angin September

0
22
views

Angin September menyeretku dalam tumpukan kenangan
Berserakan di lantai dingin bernama masa lalu
Telah usang kertas – kertas percakapan kita yang belum usai
Bibir cawan seperti ingatan yang begitu rawan
Maka mengingatmu laksana hujan mengguyur tanah gersang
Dahagaku sembuh tersirami ikhlas melepaskan

Mataku terarah lurus padamu, pada segaris senyum
yang mendamaikan dua riak arus laut sanubari
sementara diri berpayah menata lamunan yang menyulam angan
engkau telah menyandera imanku
yang membuatku candu wangimu yang tak mati – mati
betapa aku menginginkan temu, namun hamper mati menghindari
karena setelah bertemu, segala hasrat menyiksaku jauh lebih pedih

merekatkan belulangku ke belulangmu,
seperti mengulang panic dalam kisah ketabahan
menjadikan nafasku seiramah deruanmu
seperti membaca matra yang tak kuketaui dimana jedanya

waktu akan menguji kita, kataku.
Kau perlu tahu, di bawah kulit ari ini,
Masih tersimpan berlapis – lapis rindu
yang menghangatkan kita dari kesepian
cukup ijinkan ku genggam jemarimu dan berikrar
“Mendewasalah bersamaku hingga ketiadaan menjadikan kita abadi bersama”

Makassar, 13/September/2017

Penulis: Irma Muhsen

Editor: ZulKhulafair M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here