Senandung Gambus, Alunan Musik Kuno Yang Hampir Terlupakan

0
57
views

 

Gambus merupakan salah satu musik yang berusia ratusan tahun dan masih bertahan meskipun ribuan musik modern seolah mengepung. Gambus berkembang sejak abad ke-19 bersama dengan kedatangan para imigranArab dari Hadramaut, Yaman Selatan ke Nusantara.

Gambusu” nama lain dari Gambus, sekilas musik ini terdengar tidak jauh berbeda dengan permainan alat musik (gitar) oud yang berasal dari Timur Tengah, terutama di bagian intronya. Memang, musik Gambus yang menyebar dan berkembang di berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak banyak menyimpang dari bentuk musik asalnya. Namun setelah memasuki bagian vokal di situ mulai terasa karakter yang kuat dari musik Gambusu Sulawesi ini dengan pilihan nada yang khas, ditambah lagi karena lagu ini menggunakan bahasa daerah.

Gambus masuk ke Sulawesi Tenggara setelah datangnya pedagang Gujarat melalui jalur perdagangan. Berbeda dengan gambus yang ada di Sumatera, gambus Sulawesi Tenggara ini hanya memiliki 5-8 dawai yang akan menghasilkan nada-nada melodis saat dipetik.

Kesenian daerah yang mulai tergeser oleh zaman ini yang coba dilestarikan kembali oleh Idea Project dalam suguhan menyerupai konser tunggal Gambus dengan tajukSenandung Gambus: “Menengok Kesenian Rakyat” pada 16 September 2017, mulai pukul 19.30 WITA di Rumah Pengetahuan (RuPa), Kompleks Museum Prov. Sultra, Jl. Abunawas No. 191 Kota Kendari.

Acara ini tidak tanggung – tanggung menampilkan musik Gambus oleh para penampil Sura (Moronene),  Sarfin (Buton),  La Zainuddin dan keluarga (Muna), Hamrin Samad (Makassar. Apresiasipun hadir dari berbagai kalangan antara lain Komunitas Sastra Muda, Gerakan Kendari Mengajar, Lastra UHO, UKM Seni IAIN, KoheoFilms Kendari, Zona Sultra, Berita Kota Kendari, Sultranesia, PT. lumbung Buana celuller serta masyarakat.

Ari Ashari lelaki yang juga salah satu eksekutif produser film Suara Dari Pesisir ini mengatakan alasan memilih musik Gambus, “Yang pertama, karena memang ini inisiatifnya belum pernah dilakukan kegiatan seperti ini setau saya, ya, di Kendari. Kalau pun pernah ada, tapi itu selalu numpang pada peristiwa tertentu. Kemudian yang ke dua, ini kesenian yang dekat dengan rakyat sebenarnya, khususnya ya rakyat pesisir maupun pedalaman yang sudah jarang kita dengar dan sudah banyak yang hampir punah pelakunya. Nah, kalau ini tidak dilestarikan dari awal, ya kemungkinan berapa tahun berikutnya punah.”.

Penulis : Irma Muhsen

Editor : Irma Muhsen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here