Modifikasi Vaksin Malaria Melindungi Monyet Terhadap Malaria

0
62
views

Apakabarkampus.com-Beberapa tahun lalu dunia medis Indonesia berduka sebab kematian seorang dokter yang bertugas di wilayah papua. Dokter yang menjalani masa internship ini meninggal akibat malaria serebral yaitu malaria berat yang telah menginfeksi sampai ke otak. Malaria masih menjadi momok menakutkan terutama untuk wilayah-wilayah endemik di indonesia seperti papua, dan di sulawesi selatan sendiri masih terdapat daerah endemik malaria yaitu daerah  mamuju.

Tindakan pencegahan infeksi malaria sangat penting untuk individu yang non-imun (individu yang belum memiliki kekebalan terhadap malaria) khususnya pada turis nasional maupun international. Namun pencegahan yang dianjurkan tidak memberikan perlindungan secara penuh. Oleh karenanya masih sangat dianjurkan untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk yaitu dengan cara: 1) Tidur dengan kelambu sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup pestisida: permethrin atau deltamethrin). 2). Menggunakan obat pembunuh nyamuk (mosquitoes repellants): gosok, spray, asap, elektrik. 3). Mencegah berada di alam bebas dimana nyamuk dapat menggigit atau harus memakai proteksi (baju lengan panjang, kaus/stocking). Nyamuk yang menyebabkan malaria akan menggigit diantara jam 18.00 sampai jam 06.00. Nyamuk jarang pada ketinggian diatas 2000; 4). Memproteksi tempat tinggal/kamar tiur dari nyamuk dengan kawat anti-nyamuk.

Pencegahan dengan melakukan vaksinasi terhadap malaria telah di kembangkan. Peneliti dari National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID), memodifikasi vaksin malaria secara  eksperimental dan menunjukkan bahwa didalam percobaan yang mereka lakukan dengan menggunakan delapan monyet percobaan, terdapat empat monyet yang dapat bertahan ketika terinfeksi Plasmodium falciparum, parasit yang dapat menyebabkan malaria berat.

Gejala malaria timbul saat parasit bereplikasi di dalam sel darah merah. Untuk memasuki sel darah, parasit ini mengeluarkan protein reseptornya sendiri, RON2, ke permukaan sel. Protein pada  permukaan sel parasit lainnya adalah AMA1 yang kemudian mengikat bagian RON2 tertentu, yang disebut RON2L, sehingga terbentuk complex protein reseptor yang dapat menempel pada membran  luar sel darah merah.

Beberapa vaksin malaria eksperimental  sebelumnya yang diuji pada manusia dirancang untuk mendapatkan antibodi terhadap AMA1 dan dengan demikian mencegah parasit memasuki sel darah. Meskipun vaksin AMA1 menghasilkan jumlah antibodi yang tinggi pada manusia, namun vaksin tersebut jarang menunjukkan keberhasilan dalam uji coba di wilayah endemik malaria.

Oleh karena itu, ilmuwan NIAID memodifikasi AMA1 Vaksin termasuk RON2L sehingga lebih mirip dengan kompleks protein yang digunakan parasit. Monyet divaksinasi dengan AMA1 saja atau dengan vaksin kompleks AMA1-RON2L. Meskipun tingkat keseluruhan antibodi yang dihasilkan tidak berbeda antara kedua kelompok, hewan yang divaksinasi dengan vaksin kompleks menghasilkan antibodi penetralisir yang jauh lebih banyak, menunjukkan respons antibodi kualitas lebih baik dengan vaksin kompleks AMA1-RON2L dapat melindungi dari beberapa strain parasit. Secara keseluruhan, data dari studi hewan ini membenarkan pengembangan vaksin AMA1 generasi heksan ini ke kemungkinan percobaan manusia, mereka menyimpulkan. Vaksin AMA1-RON2L  dapat dikembangkan dan kemungkinan dapat dilakukan percobaan pada manusia.

References :

Prakash Srinivasan, G. Christian Baldeviano, Kazutoyo Miura, Ababaca Diouf, Julio A. Ventocilla, Karina P. Leiva, Luis Lugo-Roman, Carmen Lucas, Sachy Orr-Gozalez, Daming Zhu, Eileen Vilasante, Lorraine Soisson, David L. A malaria Vaccine Protect Aotus Monkeys against virulent plasmodium falciparum infection. Npj Vaccines, 2017; 2 (1) DOI: 10.1038/s41541-017-0015-7

Buku Ajar Ilmu penyakit dalam edisi IV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here