Hanya Karena Cabe, Mahasiswa UKI Paulus ini Dipecat

0
151
views
Massa aksi memadati rektorat UKI Paulus

Makassar, apakabarkampus.com – Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Keadilan (AMPEK) padati gedung rektorat Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus Jalan Perintis Kemerdekaan km.13 Makassar, jumat (22/9).

Aksi unjuk rasa yang dimulai pukul 10 pagi tadi, menyikapi pemberhentian Risaldi Andika Putra dari status mahasiswanya. Massa menuntut rektor UKI Paulus untuk mencabut surat pemberhentian yang dilayangkan kepada ketua umum himpunan mahasiswa teknik informatika itu.

Erwin Pranoto selaku jendral lapangan menjelaskan bahwa pemecatan ini buntut dari pelanggaran yang dilakukan saldi. “Setelah kasus ini di proses di birokrasi, kemudian keluar sk pemberhentian secara hormat dikeluarkan tanpa ada pemanggilan untuk klarifikasi dari pelaku, saksi maupun korban. Itulah yang kemudian menjadi tanda tanya besar bagi teman-teman sehingga hari ini kami bersepakat untuk melakukan aksi.”

Menurut Erwin sendiri pelanggaran yang dilakukan Saldi adalah jenis pelanggaran ringan. “Hanya karena Saldi memberikan lombok (baca:cabe) kepada juniornya sebagai bentuk hukuman, yang menurut pihak rektorat itu adalah pelanggaran berat, dia harus diberhentikan sebagai mahasiswa. SK pemberhentian itu sendiri dikeluarkan tanggal 8 September 2017, akan tetapi baru diterima saldi pada tanggal 14 September 2017.”

Adapun Tuntutan AMPEK sendiri ialah yang pertama, mengembalikan saudara Risaldi Andika Putra ke UKI Paulus untuk berkuliah seperti biasanya, yang kedua memperjelas proses pengambilan keputusan yang ada di birokrasi, sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya.

Tidak berselang lama setelah dimulainya aksi, massa yang oleh pihak rektorat diajak untuk berdialog bersama rektor. Hasil dialognya pun tidak sesuai dengan tuntutan massa aksi. “Rektor tidak ingin mencabut SK pemecatan karena ketakutannya jangan sampai mempengaruhi keputusan-keputusan sebelumnya dan nama baik UKI Paulus itu tidak baik di mata publik dan tidak dipercaya lagi”, ungkap Lexy Datuan salah satu mahasiswa yang ikut dalam dialog bersama rektor.

“Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang konsisten dalam gerakan hari ini. Kemudian juga apabila langkah-langkah aksi tidak bisa lagi mengubah keputusan rektor, mungkin proses-proses hukum akan kami lanjutkan, entah itu melaporkan kepada PTUN ataupun berkoordinasi dengan teman-teman lembaga bantuan hukum,” tutur Lexy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here