Peduli Royalti Penulis Mengalahkan Peduli Minat Baca Di Indonesia

0
45
views

Apakabarkampus.com – Baru – baru ini dunia literasi digoyahkan dengan pengumuman penulis kondang Tere Liye yang berhenti menerbitkan buku kayarnya. Bersamaan dengan itu ia memutuskan kontrak kerja sama dengan penerbit Gramedia dan Republika. Sontak hal ini menarik perhatian masyarakat.

Pajak royalti yang dikeluhkan Tere Liye dianggap tidak adil. Dilansir dari cnnindonesia.com Tere Liye menukiskan bahwa, “Penulis buku membayar pajak 24x dibandingkan pengusaha UMKM dan 2x lebih dibandingkan profesi pekerjaan bebas. Dan jangan lupakan lagi, penulis itu dipajaknya dipotong oleh penerbit, itu artinya, dia tikdak bisa menutup-nutupi pajaknya.” Ia mengaku sudah menyurati lembaga pemerintah terkai, termasuk Direktorat Jendral Pajak hingga Badan Ekonomi Kreatif. Namun ajakan berdiskusi itu tidak diacuhkan.

Royalti bagi penulis Indonesia untuk penerbit besar berkisar antata 10-15%. Cetakan pertama berjumlah 3000-5000 eksamplar rata royaltinya 10% dan akan meningkat jika masuk cetakan-cetakan berikutnya hingga maksimal 15% . Angka ini cukup besar bila dibandingkan dengan pegiat seni lainnya seperti music yang royaltinya maksimal 10%

Di Amerika dan Eropa, ternyata angka royalty bagi penulis jiga berkisar antara 10-12,5% untuk hardback dan 7,5 – 10 % untuk paperback. Royalti 15 % diberikan untuk pada penulis eksepsional. Jepang juga demikian. Namun, yang membedakan adalah kebanyakan penerbit di Jepan membayar secara penuh hak penulis paling lambat sebulan setelah terbit. Sementara di Indonesia royalti dibayarkan rata-rata per semerteran berdasarkan hasil penjualan buku.

Angka royalti yang hampir sama di berbagai Negara tidak serta merta membuat semua penulis berhenti menerbitkan karya mereka. Bahkan beberapa penulis seperti J.K. Rowling penulis nover berseri Harry Potter dan  James Petterson penulis genre misteri bahkan masuk daftar orang terkaya dunia. Dilansir dari detikhot  Forbes baru saja mengeluarkan daftar 100 selebriti berpendapatan terbesar 2017. Nama J.K Rowling masuk dalam bursa sebagai penulis terkaya di dunia.

Melihat dari fakta bahwa seorang penulispun bisa makmur dengan angka royalti yang sudah ditentukan. Tentu ada hal lain yang menyebabkan penulis di Indonesia tidak semakmur penulis di Negara lain. Salah satu penyebabnya adalah faktor minat baca di Indonesia yang sangat memprihatinkan.  Kesadaran membaca di luar lebih besar dibandingkan di dalam negeri. Kesadaran membaca buku di Amerika rata-rata seumur hidupnya membaca 1.000 judul buku.

Dilansir dari Kompas.com  berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

“Penilaian berdasarkan komponen infrastruktur Indonesia ada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan,” papar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan.

Kenyataan itu, menurut Anies, menunjukkan Indonesia masih sangat minim memanfaatkan infrastruktur. Jadi, menurut dia, indikator sukses tumbuhnya minat membaca tak selalu dilihat dari berapa banyak perpustakaan, buku dan mobil perpustakaan keliling.

Penulis Irma Muhsen

Editor Irma Muhsen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here