Who Am I? (Catatan Desy Eps.2)

0
91
views

Perlahan aku mendengar suara ketukan pintu kamarku, tidak lama kemudian pintu kamarku terbuka, ku lihat seorang wanita tua meghampiriku dengan segelas susu ditaangannya. “mbok ani !” batinku berteriak aku girang ! aku melompat dari tempatku dan menghampiri mbok ani. Tersenyum lebar didepannya. “aaauuuggghhh?” aku menanyakan susu ini untukku? dan mbok ani mengangguk. Ku rampas dari tangan keriputnya dan langsung kuhabiskan semua. Entah mengapa, melihat mbok ani membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri.  Aku menangis dan memeluk tubuh mbok ani dengan erat, dia merasakannya. Dia mengusap sudut-sudut mataku, dan menggiringku ketempat tidur. Membaringkanku dan berkata “malam ini adalah malam terbaik untukmu, hari ini kamu berulang tahun, lihatt ! tinggal 2 menit lagi. Mbok ani mengangkat weekerkku dan memperlihatkan jarum-jarum jam yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku tersenyum.
Ku letakkan kepalaku tepat di pangkuannya, aku melihat ada air yang menggenang disudut matanya. Mbok ani masih nyaman mengusap rambutku yang tidak terlalu panjang ini. Tak lama kemudian aku mendengar suara yang melantunkan sebuah lagu yang tak asing di telingaku, lagu yang biasa aku dapatkan di acara pesta ulang tahun teman-temanku. “slamat ulang tahun… slamat ulang tahun, slamat ulang tahun desy, slamat ulang tahun…” suaranya begiitu lembut, dan genangan air di sudut matanya terlihat bertambah, entah apa yang difikirkan olehnya. Didaratkannya kecupan paling manis di jidatku, terasa basah.
‘’aauugghh…” aku tersenyum. mbok ani mengikatkan gelang berwarna merah di lengan kananku. Tampaknya ini adalah hadiah. Aku menyukainya. “tidurlah, sudah malam. Selamat ulang tahun desy” dia kembali mengecup keningku. Aku kembali menangis, kupeluk dia dengan erat, lebih erat dari pada sebelumnya. Tubuhnya bergetar, begitupun aku. kulepaskan tubuhnya dan membiarkannya pergi, tak lupa dia mematikan lampu dan menutup pintu. Akupun tertidur.

1 januari 2013, 12.45
Hari ini mama benar-benar marah padaku, aku ketakutan, mata mama merah, suaranya lantang. Mama marah karena tanpa sengaja aku memecahkan vas kesayangannya, pemberian papa sewaktu mereka masih akur. Aku mundur satu demi satu langkah. Aku ketakutan melihat mama. “anak kurang ajar ! tidak berguna” makian mama semakin membuatku takut, aku mundur, mundur dan terus mundur. Mama menghampiriku dengan penuh amarah, melancarkan kata-kata kasarnya padaku. Hatiku sakit, aku takut. Mama membersihkan liurku dengan kasar hingga aku terjungkal kebelakang. Kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Mbok Ani datang menghampiriku dan mengangkat bahuku, membawaku masuk kedalam kamarnya.aku menangis, terlalu sakit rasanya melihat mama marah. Belum pernah mama marah seperti itu. Mbok Ani membawakanku segelas air putih. Ku lihat dia penuh dengan kesedihan. Lagi-lagi di sudut matanya terlihat genangan air yang tertahan untuk mengalir. Mbok ani menyodorkan minuman itu. Entah mengapa, aku merasa kepalaku begitu sakit. Hingga aku tertidur di kamar mbok ani.

17:55
Aku terbangun, ku lihat disekelilingku ternyata aku masih ada dikamar mbok ani. Tak sengaja, pandanganku menyenggol cermin pada lemari pakaian yang terletak di sudut kamar mbok ani. Kulihat mataku bengkak, pipiku terlihat merah, akibat tangan mama. Aku tidak bisa benci sama mama. Tidak sama sekali.
Aku melangkahkan kakiku keluar rumah, duduk diantara bebatuan taman depan rumah. Aku melihat mobil limousine putih berhenti tepat di dipagar rumahku. Tiba-tiba pak narto mengajakku masuk kedalam rumah. Aku tidak mau, aku menolak. Aku ingin melihat siapa pemilik mobil itu. Tapi pak narto terus membujukku. Katanya mama akan marah bila melihatku disini, itu tamu mama, dia tidak ingin tamunya melihatku. Akupun menuruti kata pak narto. Aku kembali kekamar, memandangi orang-orang  itu dari dalam kamar. Terlihat dua orang perempuan seumuran mama datang, mereka cantik-cantik. Aku selalu senang melihat tamu-tamu yang datang kerumah ini, karena mbok ani pernah bilang kalau tamu itu harus selalu menjadi orang yang penting.
Aduh… kepalaku terasa sakit lagi. ku baringkan badanku di sofa yang ada disudut kaamarku. rasanya sangat sakit, apa mungkin karena terlalu lama menangis? akhirnya kuputuskan untuk tidur kembali. (Bersambung)

Penulis Novia Sulistiawati

Editor Irma Muhsen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here