Kisah Cinta dan Kebudayaan Makassar dalam Film Silariang : Cinta yang (Tak) Direstui

0
367
views

Makassar, (27/9/2017). Setelah trailernya secara resmi dirilis pada perhelatan Makassar International Eight Festival & Forum tanggal 6 september yang lalu. Film Silariang ini banyak menuai pujian dari beberapa pihak, tidak terkecuali pemerintah kota Makassar. Film ini dinilai banyak membawa pesan positif dengan mengangkat tema kebudayaan lokal Makassar dan lokasi syutingnya yang berlokasi di destinasi wisata Sulawesi Selatan, Rammang-rammang. Film Silariang kemudian melibatkan kolaborasi secara nasional sehingga dibuat cocok untuk ditonton oleh semua kalangan, terutama anak muda.

Dengan menggandeng bintang kenamaan seperti Bisma Karisma, Dewi Irawan, Andania Lusi, Fhail Firmansyah serta talenta-talenta muda asal Makassar lainnya. Film ini bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih yang salah satu orangtua diantara mereka tidak menyetujui hubungan mereka. Sehingga mereka bersepakat untuk silariang (kawin lari) dan melanggar peraturan adat agar bisa tetap bersama dan berkeluarga. Untuk lebih jelasnya, berikut link official trailer film yang diproduksi atas kerjasama Inipasti Communika, Indonesia Sinema Persada serta Maogi Production ini.

Silariang secara umum juga terdapat dalam kebudayaan beberapa etnis di Indonesia, namun semuanya memiliki ceritanya masing-masing. Dalam kebudayaan Makassar, tindakan silariang sebenarnya merupakan sesuatu yang kurang terpuji karena menimbulkan siri’ bagi keluarga kedua belah pihak.

Secara umum silariang terjadi atas kehendak salah satu pihak keluarga yang tidak merestui hubungan anaknya, masalah strata sosial ataukah anak perempuannya hamil diluar nikah. Sehingga hal itu menjadi aib dan dapat dikenakan sanksi adat. Maka tak heran ketika tindakan silariang ini tidak dapat diselesaikan secara baik-baik dapat menimbulkan pertikaian bahkan pembunuhan.

Selain itu sisipan pesan moral yang terdapat dalam film ini lebih fokus ditujukan untuk anak muda sesuai isu-isu sosial yang ada. Bahwa generasi milenial sekarang condong menginginkan/berbuat instan suatu hal tanpa memikirkan dampak positif ataupun negatifnya. Maraknya berita aborsi dan hamil diluar nikah merupakan salah satu ide Huri A.Hasan (Eksekuif Produser) untuk menyampaikan pesan bahwa cinta yang ada itu tidak segampang yang dipahami anak muda lewat filmnya. Selain itu, pesan moral dalam film ini juga menjadi salah satu pertimbangan orangtua untuk tetap membagi waktu untuk mengawasi anak-anaknya dalam bergaul.

Sesuai rencana film ini akan tayang perdana pada november tahun ini. Beliau berharap masyarakat Makassar antusias untuk mengambil bagian menonton film yang mengangkat kebudayaan lokal Makassar ini. Karena dengan menonton film ini, kita juga turut mendukung kebudayaan lokal untuk diperkenalkan ke khalayak umum untuk dapat mengambil nilai moral tertentu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here