Warisan Cenning Rara

0
242
views

Teman-teman selalu mengejekku. Katanya aku hitam, jelek, hidup lagi. Bukan hanya mereka yang bilang tapi orang-orang disekitarku mengatakan hal yang demikian. Aku sendiri heran, kenapa aku berbeda dari Ammak ku, Ammak Beka’ ku,dan Amma Pute ku. Mereka semua cantik dan putih. Kakekku juga sama Tetta Paca’ yang memiliki wajah yang tampan nan rupawan.
“Anaknya Daeng Puji itu?”.
“Iyyo,tapi tidak miripki mamakna!”
“Ih mamakna putihki,cantik lagi!”
Begitulah sindiran yang sering mereka lontarkan. Bahkan teman-teman sekolahku pun sama. Mereka heran melihat perbandinganku dengan Ammak.
Aku merasa sedih dengan semua ucapan yang menyesakkan dada. Di sekolah saja aku terkenal cupu dan tidak punya pacar. Padahal teman-teman seusaiku semuanya sudah memiliki pacar. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri. Jangan-jangan aku bukan keturunan keluarga ini?
***
“Dinda, kau tau Ulfa yang anak IPA 2?” tanya Sinta saat kami sedang makan di kantin.
“Iyyo, kenapai?”tanyaku balik.
“Kalau cowok liatki,cantikki toh?” ujarnya dengan mimik yang sangat meyakinka.n
Aku diam sejenak. Mencerna Apa maksud perkataan Sinta.
“Weh..pake ki beng canning rara nah!?”bisiknya ditelingaku
“Apa itu canning rara?”tanyaku penasaran
“Semacam susuk, supaya banyak sukaki cowok.” Sinta menjelaskan dengan suara yang sangat pelan
“Itumi na banyak sukaki, na tidak cantikji nah!”lanjutnya lagi
“Ah! sudahmi deh. Tidak baik membicarakan orang apalagi kalau tidak ada buktinya!”. Aku tidak percaya dengan perkataan Sinta.
“Sudahlah kalau tidak percaya!” Sanggahnya lagi.
Sampai pulang sekolah, fikiranku masih saja diliputi tentang pembicaraanku dengan Sinta tadi di kantin. Tentang canning rara. Apa itu canning rara?. Akhirnya aku coba bertanya pada nenekku Ammak Beka’ karna selama ini aku memang tinggal bersama dia.
“Ammak Beka’, apa itu dibilang canning rara?”
“Oh canning rara itu warisannya nenek buyutmu. Dulu itu, Ammak Pute yang sering pakai dan mewariskannnya pada saya.” Jelaskannya.
“Ammak Beka’, ndag dosaji orang pake begituan?” pertanyaanku mulai meragu.
“Tidak ji. Selama tidak kau gunakan untuk hal-hal yang musryik. Karna canning rara itu hanya untuk mencerahkan wajah saja, bukan untuk menarik hati kaum adam”. Ammak beka’ diam sejenak.
“Lalu, apakah Ammak juga dapat warisan itu.”
Ammak bekak mengambil unti yang ada di meja. Lalu melanjutkan penjelasannya.
“Sebenarnya, Ammak Pute hanya mewariskannya padaku. Dia bilang aku adalah anaknya yang paling cantik dibandingkan saudaraku yang lain. Walaupun mereka juga dapat dari kakek buyutmu. Tetapi tak pernah memakainya.”
Akupun berfikir sejenak, kalau aku memakai canning rara apakah masih ada yang menghinaku?
Ah, aku harus coba canning rara.
“Kalau mauko gunakanki canning rara, nanti kalau kau sedang bepergian”
Tetapi aku masih bingung, dengan canning rara tersebut. Kata Sinta canning rara semacam susuk. Jadi kalau mau memakianya pipiku harus dimasukkan jarum dan dimantra-mantra.ihh…aku ngeri.
“Dinda”panggilan Ammak Beka’ membuyarkan khayalanku.
“Eh…iyye Ammak Beka’. Tapi Itu kalau mauki pakai canning rara haruski ditusuki jarum pipita’?. Aku bertanya sambil memegang pipiku dengan sedikit ngeri.
Ammak beka’ hanya senyum-senyum mendengar ucapanku.
“Canning rara yang diwariskan Ammak Pute dan Tetta Paca’mu itu bukan susuk!” Ammak Beka’ menjawab dengan tegas.
Diapun menyuruhku menulis bacaan canning rara dikertas untuk kubaca. Bacaan itu diawali dengan ucapan basmallah dan diakhiri dengan ucapan kunfayakun. Keningku berkerut heran seribu makna. Aku selalu berfikir bacaan seperti ini hanya untuk orang musyrik tetapi ammak beka’ selalu menyertakan nama Allah dibalik bacaannya.
“Gunakan baik-baik itu, jangan gunakan untuk hal yang tidak perlu!” katanya seraya menasehatiku
***
Dengan memantapakan hatiku, akhirya kugunakan juga canning rara warisan dari leluhurku itu.
Dan anehnya setiap kali kugunakan canning rara itu, tidak ada lagi yang berani menghinaku bahkan cowok-cowokpun mulai tertarik padaku. Aku tersenyum bahagia dan bangga dengan canning rara sebagai warisan nenek buyutku.

 

Penulis : Imelda Guzel

Editor : Irma Muhsen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here