Seni Menjadi Pendidikan Dasar Untuk Kecerdasan

0
50
views

Apakabarkampus – Membangun kesejahteraan rakyat memang tidak mudah. Sebab semuanya kembali kepada individu masing-masing sebagai subjek yang punya daya. Namun hal ini juga tidak terlepas dari upaya serius pemerintah untuk memberikan ruang memberdayakan masyarakat melalui lapangan pekerjaan dan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Bahkan bukan saja dengan membuka lapangan pekerjaan namun juga melalui perhatian peran pendidikan formal dan informal.

Finlandia sebagai Negara dengan gelar sistem pendidikan terbaik di dunia layak menjadi model pendidikan untuk Negara – Negara berkembang lainnya. Menariknya dari sistem pendidikan Finlandia seni menjadi pendidikan dasar yang bahkan ditentukan oleh kurikulum inti nasional. Kurikulum tersebut menyediakan isi pengajaran 9 (sembilan) macam bentuk kesenian, yakni musik, literatur, dansa, pertunjukkan (sirkus dan teater), serta seni visual (arsitektur, seni audiovisual, seni visual, dan seni rupa)

Berbagai hasil penilitian ilmiah mengemukakan adanya relasi positif antara perkembangan kreaktivitas dengan kecerdasan. Semakin dini anak terekspose dengan seni semakin berkembang pula kecerdasan otaknya.  Hasil riset juga menunjukkan bahwa anak yang secara aktif terliab dalam kegiatan seni cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi dibandingkan anak yang hanya terlibat kegiatan akademik saja.

“Seni adalah alat berpikir, cara anak-anak untuk berkomunikasi mengenai pemahaman dan kesalahpahaman. Tujuan dari seni tidak hanya sebatas pada kreativitas dan imajinasi,” ujar Margie Carter, seorang spesialis pendidikan anak usia dini, seperti dikutip dari Parentmap dilansir dari detik.com.


Rachel Glass dari West Seattle YMCA menuturkan bahwa seni adalah komponen penting untuk menuju kesiapan sekolah seorang anak. Sekolah lebih banyak mengajarkan tentang membaca, menulis dan berhitung, tapi seni lebih memberikan kontribusi dalam memberdayakan kemampuan si kecil dan juga mengembangkan perkembangan otaknya

“Misalnya menggambar dapat membantu perkembangan emosional, sehingga anak bisa memahami apa yang bisa membuatnya merasa senang, sedih atau takut. Sedangkan drama bisa membantu anak belajar tentang pengendalian diri dan empati. Ini adalah cara untuk memecahkan masalah, belajar menghadapi frustasi dan situasi sosial,” ungkap Glass.

Penulis : Irma Muhsen

Editor : Irma Muhsen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here