Temu intelektual OMIK dan OMEK Perppu dalam kacamata pemuda dan Mahasiswa generasi Millennial

0
104
views
  1. (Rabu 18/10/2017) Gerakan Mahasiswa Pembebasan cabang kota Makassar mengadakan “Temu intelektual” bersama beberapa perwakilan dari masing-masing organisasi Mahasiswa internal kampus (OMIK) dan organisasi Mahasiswa ekstra kampus (OMEK). Diantaranya Ada dari DPC HIPMAS Tellu Limpoe, KKMS Komisariat UIN Alauddin, HIPMABA Makassar, HMTP UMI, KOMA UIT, dan PEKANDIS Makassar.
penayangan slide soal perppu no. 2 thn 3017

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Bes Coffee Pasar segar pengayoman Makassar, Pukul 20.13 WITA sampai Selesai. Dalam hal ini, Gerakan Mahasiswa Pembebasan kota Makassar bertindak sebagai fasilitator untuk membahas Status Perppu No.2 Tahun 2017, tepatnya Temu Intelektual ini dapat disebut dengan “Perppu dalam kacamata pemuda dan Mahasiswa generasi Millennial”.

Terlihat dalam perbincangan yang penuh dengan kehati-hatian ini, Abdul Rifai selaku ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan cabang kota Makassar memaparkan dengan jelas dan tegas bahwa.

“Hadirnya perppu no.2 tahun 2017 ini yang katanya berdasar dan berkekuatan hukum, nyatanya adalah, Perppu tersebut hanyalah pedang sakti yang digunakan oleh rezim agar tak ada yang dapat membantah apapun keinginan dan kemauannya (Sangat subjektif), sehingga apabila ada yang berusaha untuk menggagalkan rencananya ataupun hanya sekedar mengkritik, maka ia akan mendapat sabetan pedang sakti tersebut yang akan mengakibatkan kematian terhadap individu ataupun ormas yang berupaya untuk melakukan pengkritisan terhadap rezim kuasa hari ini”. Tutur Rifai (Ketua GEMA Pembebasan kota Makassar).

Terlihat pula dalam bincang tersebut pengupasan awal dikeluarkannya perppu, realitas, serta bahaya dari keluarnya Perppu no.2 tahun 2017 tersebut hingga solusi dan konsolidasi untuk menindaklanjuti hasil Temu Intelektual ini.

Dari HIPMAS Tellu Limpoe pun menyampaikan penolakannya terhadap perppu no.2 tahun 2017 yang di keluarkan oleh rezim Jokowi JK.

“Saya menolak Perppu tapi bukan atas dasar ideologi melainkan atas dasar penindasan dan kesewenang-wenangan pemerintah”. Pungkas Kasrum Hardin perwakilan dari HIPPMAS Tellu Limpoe dan selaku Mahasiswa Hukum UIN Alauddin Makassar.

foto bersama dengan seluruh perwakilan OMIK dan OMEK yang hadir

Hadirnya Perppu ini memang sangatlah meresahkan karena membatasi aktivitas para Aktivis serta tokoh dan Ulama, bahkan Perppu ini memang adalah sebuah manajemen konflik agar masyarakat dapat terpecah menjadi dua, mana yang mendukung keserakahan rezim dan mana yang menolak, sehingga kita perlunya hati-hati dan terus melakukan perlawanan secara hukum dan mencekal terlegitimasinya perppu no.2 Tahun 2017 tersebut. Tutup Abdul Khaliq selaku ketua Wilayah Gerakan Mahasiswa Pembebasan Sulawesi selatan dan Barat.

Selanjutnya kegiatan berakhir dengan ditutup foto bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here