All About Myopia Control

0
543
views

Apakabarkampus.com-Untuk memperoleh penglihatan yang jelas, bayangan harus jatuh tepat pada retina (bagain belakang bola mata yang mengandung saraf-saraf penglihatan).  Kekuatan refraksi ditentukan oleh indeks bias kornea dan lensa serta aksis (panjang)  bola mata. Pada myopia banyangan jatuh didepan retina karena kurvatura kornea atau lensa yang terlalu cembung, atau karena bola mata terlalu panjang. Ketika bayangan jatuh tepat pada retina disebut sebagai emetropia, ketika banyangan jatuh dibelakang retina disebut hipermetropia.  Myopia adalah kelainan refraksi yang hampir selalu menduduki urutan pertama dibanding kelainan-kelainan refraksi yang lain. Prevalensi myopia cenderung mengalami peningkatan, terutama pada anak-anak usia sekolah, baik pada usia belasan maupun dua puluhan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya frekuensi mereka dalam melakukan aktivitas seperti membaca, menonton televisi, bermain komputer dan bermain game. Penyebab tersebut menimbulkan miopia ringan atau faktor-faktor lain yng dapat mendukung timbulnya myopia. Penderita myopia seharusnya tidak membaca terlalu lama dalam satu waktu, sedangkan penerangan yang digunakan saat membaca haruslah cukup terang. Posisi membaca yang paling baik adalah dengan posisi duduk, jika membaca dengan posisi yang terlentang  atau menelungkup, berat badan akan menyebabkan mata yang makin lama makin dekat dengan buku dan akhinya panjang anterior-posterior bola mata makin melebar.

Sebagian besar anak-anak yang menderita miopia akan berkembang menjadi myopia ringan dan moderat atau bahkan myopia berat. Faktor resiko untuk menjadi myopia berat temasuk etnis, status refraksi orang tua, dan perkembangan myopia. Pada anak-anak yang memiliki faktor resiko, intervensi sebaiknya dipertimbangkan.

Usaha untuk mencegah perkembangan myopia, latihan mata, obat-obatan, dan higienitas telah diajukan untuk mencegah mata malas. Usaha-usaha terkini telah difokuskan pada penurunan kebutuhan akomodasi mata. Antikolinergik seperti atropine telah digunakan pada kombinasi dengan kacamatabifocal dalam sebuah percobaan untuk memperlambat perkembangan miopia. Meskipun perkembangannya melambat selama pengobatan, namun penggunaan jangka panjang hanya berbeda tidak lebih dari 1-2 dioptri, dan miopi patologi tidak dapat dicegah dengan cara seperti ini.

Usaha akomodasi dan penglihatan kabur dapat diminimalkan dengan kacamata bifokal, yang dapat mengubah fokus pada penglihatan dekat. Menggunakan kacamata bifokal mungkin dapat memperlambat perkembangan myopia.

Lensa rigid juga mungkin dapat memperlambat perkembangan myopia. Rata-rata perkembangan myopia lebih lambat pada orang yang menggunakan lensa kontak dibandikan menggunakan lensa yang dipasang di kacamata. Mekanisme pasti mengapa kontak lensa rigid  dapat mencegah miopia axial (miopia yang disebakan karena axix bola mata terlalu panjang) belum diketahui dengan jelas.

Operasi laser ( Laser refractive surgery)  dapat menghilangkan miopia akan tetapi tidak menurunkan risiko kondisi kebutaan yang disebabkan oleh ablation retina (terlepasnya lapisan retina), degenerasi macular dan glaukoma sebagai akibat miopia yang tinggi.

Penanganan lain termasuk vitamin, operasi sclera untuk mengurangi panjang bola mata, biofeedback, hipotensi ocular, teknik relaksasi ocular. dan akupuntur terhadap miopia belum dapat dibuktikan.

 

Referensi

Hubungan antara ketaatan berkacamata dengan progresivitas derajat miopia pada mahasiswa FK Universitas Islam Indonesia. JKKI. Vol. 5, No. 2, Mei-Agustus 2013

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1123161/

By : Annisa Riska Yanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here