Penanda Laboratorium Terbaru Untuk Mengidentifikasi Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Pada Tahap Lebih Awal

0
222
views

Apakabarkampus.com-Sekarang ini telah terjadi pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi menjadi penyakit noninfeksi terutama penyakit metabolik. Penyakit metabolik ini diawali oleh adanya sindrom metabolik. Sindrom metabolik yang disebut juga sindrom resistensi insulin merupakan suatu kumpulan faktor resiko yang bertanggung jawab terhadap peningkatan morbiditas penyakit kardiovaskuler pada obesitas dan diabetes mellitus tipe 2. Kumpulan utama dari sindrom metabolik meliputi : resistensi insulin, obesitas abdominal/sentral, hipertensi, dislipidemia.
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai peningkatan kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida diatas normal serta penurunan kadar HDL didalam darah. Dislipidemia merupakan awal mula terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Ketika komponen kolesterol LDL lebih banyak dalam peredaran darah maka akan terbentuk plak-plak pada pembuluh darah yang disebut sebagai aterosklerosis. Aterosklerosis merupakan kondisi patologis yang berhubungan erat dengan serangan jantung, penyakit jantung koroner serta penyakit kardiovaskuler lainnya. Oleh karena itu tingginya kadar LDL dari hasil pemeriksaan laboratorium merupakan tanda terjadinya kelainan pada pembuluh darah.
Selain LDL, pemeriksaan rutin lain untuk mengukur kadar kolesterol dalam darah yaitu kolesterol HDL, VLDL dan trigliserida, serta pemeriksaan apoprotein. Apoprotein merupakan protein yang berfungsi sebagai transport lipoprotein disebabkan karena sifat lipid yang tidak dapat larut didalam air. Apoprotein berfungsi mengangkut HDL sedangkan apolipoprotein mengangkut LDL.
Penelitian dari King’s College London yang diketuai oleh Professor Manuel Mayr menemukan adanya kelompok lain dari apolipoprotein dapat mengukur jumlah dan jenis kolesterol: apoE,apoC2, apoC3. Apolipoprotein ini berkaitan dengan very low density lipoprotein (VLDL) dan sebagian besar berhubungan dengan jenis lemak lain yaitu trigliseida. ApoE, ApoC2, dan ApoC3 menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan penyakit kardiovaskuler dibandingkan ApoA1 dan apoB, karena kadar apoA1 dan apoB pada beberapa orang yang memiliki faktor resiko penyakit jantung dan pembuluh darah tidak dapat diukur.
Penelitian yang dilakukan selama sepuluh tahun ini, membandingkan secara langsung hubungan antara apolipoprotein dengan onset kejadian penyakit kardiovaskuler dan menghasilkan kesimpulan bahwa apoliproprotein ApoE, apoC2, dan apoC3 lebih baik dibandingkan jenis apolipoprotein lainnya.
Penemuan ini dapat menuntun untuk mengganti cara mengidentifikasi penyakit jantung dan pembuluh darah pada tahap lebih awal yang menyebabakan angka kematian 160.000 penduduk setiap tahun di united kingdom.

Sumber : NIHR Biomedical Reseacrh
Penulis : Annisa Riska Yanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here