Sajian Kopi Tengah Malam

0
236
views

apakabarkampus.com- Sudah dua purnama saya menjadi peracik kopi di kedai ini. Selama itu pula banyak cerita dan pengalaman yang unik kualami.

Kedai kopi tempatku bekerja terbilang strategis, berada di jalan poros yang menghubungkan ibukota propinsi dengan kabupaten. Secara rinci, kedai kopi ini terletak di dekat tikungan—para pengendara mengenalnya sebagai tikungan maut—yang berbatasan langsung dengan tugu perbatasan.

Kedai kopi ini memiliki halaman parkir yang cukup luas, setidaknya bisa menampung dua truk dan dua bus berukuran besar. Di kedai kopi itulah tiap malam saya bergumul bersama racikan kopi dan pesanan para pengunjung. Kebanyakan pengunjung kedai kopi ini penumpang bus antar propinsi, termasuk juga supir truk dan minibus.

Terkadang kutemukan pelanggan yang usianya sepantaran dengan saya. Ada yang pelancong dari selatan, ada pula bikers yang mencoba menjajal tikungan terjal jalan poros ini.

“Muchsin, tolong antarkan kopi hitam ini untuk supir bus di meja enam,” sahut Pak Jupri—si pemilik kedai kopi—sembari berjalan mendekatiku yang sedang asyik meracik pesanan.

“Siap Bos! Tapi saya antar dulu pesanan dari gadis yang duduk di pojokan sana,” sahutku kemudian menyusuri kedai kopi yang tidak terlalu luas ini. Di dalamnya terdapat sepuluh meja yang terbuat dari kayu jati dan tiap satu meja terdapat empat kursi. Jadi setidaknya kedai kopi ini mampu menampung empat puluh pengunjung.

Malam ini kedai kopi nampak ramai, hampir seluruh kursi yang ada telah terisi. Jika diperhatikan, kebanyakan dari mereka spelancong yang akan berlibur. Setidaknya asumsiku berdasar pada kamera DSLR yang tergantung di leher mereka.

“Ini pesanan kopinya, Nona. Selamat menikmati,” sahutku kepada pelanggan itu. Perempuan itu hanya mengulas senyuman, kemudian tenggelam pada koran yang dibacanya. Sejenak kulihat headline news koran itu mewartakan rusaknya jalan poros yang menghubungkan ibukota propinsi dengan kabupaten.

Saya kemudian berlalu menuju dapur sembari memikirkan berita yang diwartakan koran itu. Aneh saja, jalan poros yang pembiayaan pengaspalannya dari APBN, kini rusak dan berlubang.

Ironisnya baru dua bulan dilakukan pengaspalan, kini terkelupas kembali. Bahkan aspal jalanan di depan kedai kopi ini juga bernasib sama. Terdapat lubang yang menganga. Kemarin saja seorang pengendara motor terjatuh karena mencoba menghindari lubang tersebut.

Di dapur, saya meracik kembali biji kopi—yang dikirim langsung dari lembah Pegunungan Sesean, Toraja Utara. Biji kopi digiling lalu diseduh air panas, aroma khas menyeruak memenuhi dapur. Kini telah tersaji sempurna secangkir kopi untuk pelanggan.

“Pesanan meja nomor enam sudah siap?” tanya Pak Jupri kepadaku, saya hanya mengangguk sembari memegang nampan.
“Ya sudah, cepat antar sana.”
***
Makin malam, kedai kopi semakin ramai. Jikalau kuperhatikan hampir kesemua kursi di kedai telah berisi. Sepasang bola mata ini terkadang mencuri pandang dan memerhatikan perempuan itu, ia sedang asyik membaca koran, aneh juga malam-malam begini baca koran.

Perlahan-lahan suasana malam menjadi sejuk nan dingin. Di luar kedai nampak malam diguyur hujan lebat. Kulangkahkan kakiku menuju salah seorang pengunjug, tepatnya seorang gadis berparas ayu yang telah menguasai meja nomor delapan.

“Selamat malam. Nona mau pesan apa?” tawarku kemudian menyodorkan daftar menu. Gadis itu dengan seksama membaca daftar menu kemudian memesan segelas cappuccino.

Setelah ke meja nomor delapan, kulangkahkan kakiku menuju meja nomor tujuh. Dari tampilannya dapat dipastikan bahwa penghuni meja nomor tujuh adalah supir truk. Baju kemeja yang dua kancing atasnya dilepas, kacamata hitam yang bertengger di kepala, kemudian ada handuk kecil yang tersampir di pundaknya. Dari raut wajahnya pasti lelaki itu berumur empat puluhan.

Belum sempat kusodorkan daftar menu, lelaki itu langsung memesan kopi hitam. Saya hanya mengangguk kemudian berlalu menuju dapur.

Setelah beberapa saat, saya keluar dari dapur sembari membawakan pesanan meja nomor delapan dan tujuh. Sejenak kuperhatikan suasana meja nomor enam, tujuh, dan delapan. Lalu mengantarkan pesanan ke pengunjung kedai.

Jikalau penghuni meja nomor tujuh dan delapan duduk begitu takzim nan khidmat. Maka berbeda halnya dengan pengunjung di meja nomor enam. Suasanya begitu riuh, kulihat beberapa pengunjung kedai kopi menghampiri supir bus yang duduk di meja tersebut. Sepertinya mereka terlibat suatu pembicaraan serius.

“Kenapa belum berangkat Pak Supir? Rombongan harus tiba di penginapan sebelum matahari terbit.” Terdengar sebuah tanya dari salah seorang kerumunan itu.

“Kita berangkat setelah hujan reda,” sahut sang supir kemudian menyeruput kopinya.
“Jadi kita harus tunggu hujan reda? Sampai kapan? Hujan deras seperti ini pasti memakan waktu yang lama untuk redanya! Kita terobos saja.” Salah seorang dari kerumunan itu sedikit berseru nampak dari suaranya ia mulai kesal.

Kulihat supir truk yang duduk di meja nomor tujuh mulai terganggu, ia kemudian berdiri menghampiri kerumunan itu. “Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, saya sarankan untuk bersabar hingga hujan ini reda. Sangat beresiko berkendara dengan jarak pandang terbatas, asal tahu saja, medan jalan di depan begitu berliku dan beberapa titik jalan berlubang, ditambah lagi jalan licin karena hujan.”

Dengan seksama sang supir truk menjelaskan situasi jalanan yang akan mereka lewati. Nampak para penumpang bus itu larut dalam penjelasan sang supir truk itu.

Sependek pengetahuan saya, jalan yang dimaksud Pak Supir Truk itu baru-baru ini terkena material longsor. Jadi dapat dipastikan beberapa sedimen tanah berserakan memenuhi ruas jalan. Di sisi lain, takutnya hujan deras seperti ini akan menimbulkan longsor susulan.

Setelah mendengar penjelasan sang supir truk, akhirnya para penumpang bus itu mulai kembali ke tempatnya masing-masing. Salah seorang dari mereka melambaikan tangan ke arahku.

Sembari memegang daftar menu, kuhampiri ia. Dengan wajah yang sedikit masam, ia memesan secangkir kopi dan seporsi pisang goreng. Saya kemudian berlalu menuju dapur.

Di saat sedang asyik-asyiknya di dapur, terdengar suara decitan tajam. Seperti suara ban yang direm, kemudian disusul suara dentuman keras. Saya mendesah nafas pelan. Sepertinya ada kecelakaan lagi di luar sana.

“Muchsin, kamu berjaga di sini dulu, saya keluar dulu lihat situasi,” sahut Pak Jupri. Saya hanya mengangguk kemudian melanjutkan pekerjaan.

Entah mengapa suasana kedai kopi sedikit hening, ada aura ganjil yang menyelimuti. Di saat saya menaruh cangkir dan piring di atas nampan, tetiba saja kulihat seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian putih—yang dibagian kerah dan lengan bajunya terdapat noda bewarna merah—masuk ke dapur. Wajahnya sedikit pucat dan rambutnya dikepang dua. Ia celingak-celinguk, menoleh kanan dan kiri.

“Hai adik kecil, kamu kenapa ke sini? Ayah dan ibumu mana?” gadis cilik itu hanya terdiam, ia menengadahkan kepala. Matanya sedikit berkaca-kaca. Lantas gadis itu berbalik lalu berlari keluar dapur.
***
Kedai kopi nampak sepi, hanya tersisa beberapa pengunjung. Mungkin sebagian besar sedang keluar karena suara dentuman keras tadi. Setelah menaruh pesanan kopi dan pisang goreng, saya bergegas keluar kedai melihat situasi yang ada.

Benar saja dugaanku, para pengunjung kedai sedang berkerumun di bahu jalan. “Apa yang terjadi?” tanyaku pada Pak Jupri.
“Seperti biasa, lagi-lagi kecelakaan. Satu keluarga jatuh dari motor. Ayah dan ibunya hanya luka ringan, tetapi tidak untuk anaknya,” sahut Pak Jupri dengan perasaan simpatik.

Di bawah guyuran hujan, kudekati pengendara motor itu. Nampak kedua orangtua itu histeris dan menangis tersedu-sedu. Mereka mendekap anaknya, seorang gadis berambut kepang yang mengenakan pakaian serba putih, di bagian kerah dan lengannya penuh noda bewarna merah.
Saya bergidik melihat pemandangan itu, tetiba saja wajahku menjadi pucat.

“Kamu kenapa Muchsin wajahmu pucat begitu?” tanya Pak Jupri kepadaku.
“Oh tidak… tidak apa-apa,” sahutku

kemudian berlalu meninggalkan kerumunan itu dengan pertanyaan yang berkelebat di kepala. Kalau memang gadis cilik itu korban kecelakaan, lalu siapa gerangan yang kulihat di dapur tadi?

Kampus Pascasarjana UNM – Sungguminasa
14 – 25 Maret 2017
Catatan : terinspirasi dari Webtoon Ngopi Yuk! Episode 20. Gelang Mainan

 

Biodata Penulis:

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Untuk lebih mengenal penulis dapat menjalin komunikasi di sosial media FB : Ilyas Ibrahim Husain, Twitter: @adilbabeakbar, IG: @adilakbarilyasibrahimhusain. Kini sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here