Ada Kisah Di Taman Mawar

0
211
views

Apakabarkampus.com-
Malam itu dia pergi tanpa sepatah kata. Meniggalkanku sendiri dalam gelapnya malam. Aku mungkin sedikit berlebihan malam itu. Semua perempuan pasti akan marah ketika kau memukul kakaknya.

Karakterku yang emosional memang salah satu kelemahan diriku. Semua berawal di pasar malam meriah di malam tahun baru. Aku kebetulan bertemu Alice di sana. Kulihat ia bersama seorang pria berbadan tegap dan berkulit putih.

Matanya jernih seindah air terjun di tengah hutan tropis yang hijau. Pria itu tampak menawan dengan jaket hitam dan celana hitam yang ia pakai. Kupandangi mereka beberapa saat. Alice terlihat sangat senang dengannya.

Mereka terlihat sangat akrab untuk seorang teman. Tertawa, berbelanja dan masih banyak lagi yang mereka lakukan malam itu. Mereka seakan tidak peduli dengan suara bising dari motor roda maut yang berdenging sekeras speaker konser di dekat mereka atau suara para penjual pasar malam yang berteriak dengan khasnya untuk menarik pembeli yang datang semakin banyak saat malam pun semakin larut.

Satu-satunya hal yang menarik perhatian mereka adalah kembang api yang di lontarkan ke langit malam yang memancarkan warna pelangi berbentuk bunga matahari besar. Kembang api itu membuat bulan iri akan dirinya malam itu.

Malam semakin larut. Aku terus mamandangi mereka dari jauh. Hatiku terus menerka-nerka, “Siapakah orang yang bersama alice itu?”. Semua ini bukan tentang orang itu tetapi ini tentang kelanjutan dan masa depan hubunganku dengan Alice. Aku harus tahu siapa orang itu. Orang yang mengajak pergi bulanku, tertawa bersama bulanku, makan malam bersama bulanku dan tersenyum bersama bulanku.

Ayam jantan mulai berkokok ketika Alice dan pria menawan tadi beranjak dari resto kecil yang disebut warteg. Mereka menuju sebuah mobil biru yang terparkir di pinggir jalan dekat tiang listrik tepat di depan pasar malam. Aku mulai gelisah melihat mereka pergi tanpa tahu, “siapa pria menawan itu?”. Bahkan angin malam yang berhembus terasa terhenti bagiku, waktu-pun begitu; terasa cepat tak seperti biasanya.

Jantungku berdegup kencang semarak pesta kemerdekaan di bulan Agustus. Mesin mobil itu berbunyi seperti musik rock ditelingaku; indah dan berani ketika melewatiku terdiam diatas trotor jalan yang mulai sunyi. Bahkan aku tak bisa bergerak melihat Alice pergi dengan pria yang tidak kukenal itu.

Samar-samar suara kecil kudengar dari samping kanan telingaku. Tiba-tiba aku terkejut dan terjatuh dari ranjangku dalam kamar tidurku yang sedikit berantakan. Jantungku terasa ingin pecah dan napasku terengah-engah. Aku duduk tepat dilantai kamarku dengan bersandar pada tiang ranjang tempatku jatuh. Terbersit dalam kepalaku,“Apakah tadi aku hanya bermimpi?”, tetapi,“Mengapa semua terasa nyata bahkan untuk kembang api di pasar malam itu?”. Aku merenung beberapa saat sampai suara kecil tadi kembali bernyanyi di sampingku. Ternyata suara hanphoneku yang sejak semalam tidak kubuka karena sibuk.

Alice meneleponku pagi ini,“Alvin bisakah kita bertemu malam ini di tempat biasa pukul 20.00 Wita?”. Tentu aku tak bisa menolak ajakan Alice. Kukatakan padanya akan kupenuhi permintaannya seperti penuhnya ember oleh air. Setelah Alice menutup telepon, aku kembali merenung seperti awal aku bangun tidur.

Aku masih bertanya-tanya,“Apakah tadi malam aku benar-benar bermimpi?”. Atau mungkin itu bukan mimpi dan aku hanya tidak bisa mengingatnya dengan pasti?. Lagi-lagi hatiku dipaksa berdilema dengan masalah diluar kemampuanku.

Kubuka pintu kamarku dan kutatap langit indah pagi itu; biru dengan sedikit awan tipis. Embun mulai menetas dan menguap karena malu terhadap mentari yang semakin menampakkan dirinya. Burung-burung berkicau dan terbang disekitar pohon ketapang tepat di halaman rumahku. Kulihat tetanggaku mengantar surat kabar mingguan yang ia siapkan kemarin malam. Dengan sepeda ontel tua tanpa ragu ia mengayuh menjemput rezeki tuhan pagi itu.

Beberapamasyarakat Perumaham Mawar tempatku tinggal juga terlihat sibuk dengan rutinitas mereka pagi itu. Ada yang mulai mencuci kendaran roda mereka yang sebelumnya satu minggu tak di cuci karena sibuk bekerja. Beberapa mulai membersihkan halaman rumah mereka. Di hari minggu bahkan orang-orang yang awalnya terlihat malas ternyata adalah orang yang rajin.

Matahari mulai hilang di ufuk barat ketika aku mulai bersiap-siap untuk pergi menemui Alice. Aku tentu tahu, tempat biasa yang dimaksud Alice adalah taman kecil dipinggir Perumahan Mawar tempat aku tinggal. Disanalah pertama kali aku bertemu dengan Alice. Saat itu aku berjalan di jalan kecil ke arah rumahku seusai melihat pertandingan PSM Makassar di Stadion Andi Matalatta, Mattoanging.

Aku memakai seragam PSM hari itu dengan sebuah payung yang kupegang erat karena hujan yang mulai turun. Tiba-tiba hujan sangat deras dan petir sambar-menyambar membuat suasana mencekam kala itu. Aku berlari secepat-cepatnya sampai di sebuah taman kecil asri bernama Taman Mawar.

Disana aku melihat sebuah bangku taman kecil dengan atap dari seng yang mulai berkarat. Tanpa berfikir panjang, aku berlari dan berteduh disana. Angin semakin cepat, petir yang menggelegar, dingin yang menusuk tulang, hujan dengan tempo tinggi dan suasana yang mulai gelap menambah nasibku yang sial hari itu.

Hari mulai gelap dan matahari tak terlihat cahayanya karena tertutup uap air yang hitam. Awan hitam komulonimbus semakin menjadi, membuat rintik hujan menambah tempo dan irama musiknya. Angin-pun begitu, ia tak segan-segan menerbangkan barang atau sampah kecil ditaman itu.

Aku termangu sejenak melihat alam sedang mengamuk kala itu. Aku berfikir bahwa alam mungkin sedang marah atau mungkin ia sedang protes dengan kita seperti mahasiswa yang demo karena subsidi BBM yang dipotong. Hujan itu berorasi menuntut agar manusia tak membuang sampah di sumber air seperti sungai dan danau. Begitu-pun angin, ia marah karena manusia seenaknya membawa sampah ke taman yang ia sayangi itu.

Aku tetap terdiam beberapa saat sampai akhirnya aku melihat seseorang berlari dari jalan depan taman menuju arahku. Ia nampaknya tak memakai payung atau apapun yang bisa melindunginya dari amukan alam hari itu. Aku tak tahu mengapa badanku bergerak sendiri ketika melihatnya terjatuh sebelum sampai di bangku tempatku berteduh.

Aku berlari ke arahnya membawa payung biruku dan membantunya. Aku berdiri tetap disebelahnya dan kemudian kupayungi dia agar tak terkena hujan, kemudian kubantu dia untuk berdiri. Aku cukup terkejut hari itu ketika melihat wajahnya. Seorang gadis dengan wajah seindah rembulan. Gadis itu memakai seragam PSM yang sama denganku. Ia tersenyum padaku hingga membuat jantungku berdegup kencang seperti suara tapal kuda dalam pacuan. Aku tak bisa berbicara sepatah katapun ketika ia tersenyum padaku. Mulutku benar-benar kaku dibuatnya.

Matanya yang indah seperti bola pingpong, hitam dengan alis panjang yang cantik membuatku tak bisa mengedipkan mata. Bibir dan pipinya yang merah benar-benar sebuah godaan yang nyata. Untuk beberapa saat aku bahkan melupakan amukan alam karena dirinya. Nasib sialku hari itu telah menghilang digantikan sebuah bulan ditengah badai menjelang malam: indah dan menentramkan.

Senja telah pergi digantikan gelapnya malam yang menyelimuti bumi. Aku dan gadis tadi masih terperangkap di bawah seng berkarat dengan sebuah bangku tepat di tengah taman mawar dengan rumput yang agaknya sedikit panjang. Walau tak sekeras sore tadi, awan komulonimbus tetap meneteskan rintik-rintik airnya membasahi bumi. Kami tetap dalam kesunyian tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut kami.

Sunyi menyeruak diantara dedaunan pohon gaharu dekat bangku tempat kami berteduh. Suara air hujan terdengar seperti melodi klasik bagiku: nyaman dan menenangkan jiwa.
Dan tiba-tiba!. “Namaku Alice”, gadis tadi berbicara padaku. Sebuah nama yang indah di telinga. Nama yang sangat cocok untuk sebuah bulan terang di tengah bintang ketika musim kemarau di penghujung September; terang dan menentramkan.

“Namaku Alvin, kau suka PSM?” tanyaku lagi dengan jantung yang hampir meledak. Namun tiba-tiba Alice meneteskan air mata dan mulai menangis. Aku terkejut dan tak tahu harus berbuat apa. Aku minta maaf padanya karena sudah membuatnya menangis saat itu. Namun keanehan lainnya terjadi. Alice yang awalnya menangis tiba-tiba saja tertawa lepas.

Aku heran dan terkejut melihatnya. Dalam pikiranku saat itu mungkin adalah ‘Cantik-cantik kok aneh”. Alice kemudian berhenti tertawa.
“Tak ada yang perlu dimaafkan disini, aku menangis bukan karena kau. Tetapi karena aku baru saja melihat pacarku bersama perempuan lain yang katanya adalah pacar barunya”.

Dari cerita Alice aku sadar ia menangis karena teringat kenangan bersama pacarnya melihat pertandingan PSM di stadion Andi Matalatta. Aku terdiam seperti batu dan Alice terus bercerita tentang kejadian sedih yang dialaminya hari itu. Kami terlarut dan tertawa bersama dalam canda malam. Bahkan kunang-kunang dan jangkrik ikut tertawa bersama kami. Rembulan mulai muncul beriringan dengan berhentinya hujan dan petir. Malam menjadi begitu tenang dan kami tetap larut dalam kebersamaan di sebuah bangku tepat dibawah atap seng berkarat ditengah taman mawar yang agaknya jarang dibersihkan itu.

Hari semakin malam, aku dan Alice pun berhenti berbicara. Aku meninggalkan Alice disana malam itu bersama kunang-kunang yang indah. Namun, sebelum aku pergi kukatakan padanya, “Manusia hidup pasti penuh dengan dinamika. Hidupmu akan berarti jika kau menghadapi banyak masalah dan jangan lari dari masalah itu. Jika orang yang kau sayangi meninggalkanmu, maka ihlaskan karena cinta yang sesungguhnya adalah merelakan bukan memiliki”.

Ia melihatku dengan tatapan penuh makna malam itu. Mungkin dia paham yang aku katakan padanya. Setelah itu aku pergi dari sana menembus diinginnya malam. Namun belum sepuluh meter aku pergi Alice bertanya padaku.
“Dimana kita akan bertemu lagi?”.
“Datanglah ke warung kopi di jalan mawar, aku bekerja disana dan akan kutraktir nanti” jawabku dengan sedikit senyum sambil berlari meninggalkan Alice bersama payung biruku yang sengaja kuutinggalkan untuknya.

Tak berselang beberapa hari sejak kejadian itu, Alice benar-banar datang ke tempat kerjaku. Tak pernah kusangka malam itu awal kedekatanku dengan Alice. Sejak itu kami sering bertemu, melakukan berbagai kegiatan bersama terutama menonton PSM dan sesekali kami berkunjung ke Taman Mawar tempat kami bertemu dulu. Malam pertemuan yang indah dan takkan pernah kulupakan.

Aku berjalan secepat yang kubisa. Aku tak mau membuat Alice menunggu di taman sendirian di malam yang gelap. Namun, setelah sampai disana aku melihat Alice bersama seseorang. Orang itu adalah pria menawan di pasar malam kemarin. Ternyata aku tak bermimpi hari itu!.

Aku hanya sedikit mabuk setelah dari pasar malam dan itulah alasan aku tak mengingat kejadian di pasar malam saat itu. Aku terdiam melihat mereka dari jalan depan taman. Dan tiba-tiba entah mengapa pria menawan tadi mengecup kening Alice dan itu membuat darahku mendidih. Aku tak tahu setan apa yang merasuki diriku malam itu. Hanya saja, satu hal yang pasti aku berlari menghampiri mereka dan tanpa pikir panjang aku memukul pria menawan itu.

Namun, setelah kejadian itu Alice menamparku dan pergi. Meninggalkanku dalam gelapnya malam bersama kesunyian yang pantas aku dapatkan. Alice berlari menembus dingin malam dan semakin menjauh. Aku tak sanggup mengejarnya seakan kakiku lumpuh oleh penyakit saraf. Aku terdiam bersama rasa bingungku ketika kutatap Alice menghilang dalam malam yang semakin sunyi; “Mengapa Alice menamparaku?”.
Keesokan harinya aku tahu jawaban atas semua pertanyaanku dari teman Alice bahwa pria menawan yang sering bersama Alice adalah kakaknya. Dan itulah alasan mengapa mereka sangat dekat, alasan pria menawan itu mengecup kening Alice yang adalah adik kesayangannya, dan alasan Alice menamparku setelah aku memukul pria menawan itu. Aku benar-benar merasa bersalah kepada kakak Alice dan bahkan terhadap Alice sendiri.

Sebagai seorang laki-laki aku datang ke rumah Alice di suatu pagi yang cerah dengan awan cirrus di langit yang biru. Aku meminta maaf kepada Alice dan kakaknya pagi itu. Aku mengetuk pintu rumah Alice dengan lembut sampai akhirnya seorang pria membukakan pintu untukku, pria itu adalah pria menawan yang kupukul tadi malam. Tak lama Alice datang dan terkejut melihatku pagi itu. Aku duduk diatas sofa lembut berwarna biru bermotif batik yang indah tepat berhadap-hadapan dengan alice dan pria menawan yang adalah kakaknya.

Keringatku menetes dengan deras seperti sungai di bawah lembah nan jauh di balik gunung. Kaki dan tanganku bergetar seperti mesin bubut para pengrajin kayu ataupun besi. Aku terdiam beberapa saat dan kemudian menyampaikan maksd kedatanganku pagi itu.
“Alice, aku minta maaf atas kejadian semalam dan aku benar-benar terbawa emosi kala itu. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu”.
“Kau tak perlu meminta maaf padaku. Minta maaflah kepada bang Roni yang kau pukul. Jika ia memaafkanmu maka aku pun begitu” jawab Alice dengan tatapan serius namun juga sedih.
“Bang Roni, saya minta maaf atas kejadian tadi malam. Saya tidak bermaksud melukai abang” bicaraku dengan gugup disertai keringat dingin dan wajah pusat pasi membayangkan apa yang akan dilakukan bang Roni padaku.
“Apa kau serius meminta maaf!”
“Iya bang, saya serius!”
“Kalau begitu saya memaafkan kamu. Namun lain kali jangan diulangi dan ingat jaga adik saya kalau kau memang suka dengannya”.

Entah apa tujuan bang Roni bicara begitu. Namun itu membuat perasaanku lega seperti seorang yang mengidap penyakit asma yang sembuh dari asmanya. Yah, mungkin belum terlambat bagiku untuk meminta maaf dan untungnya Alice dan kakaknya mau memaafkanku.

 

Biodata Penulis:
Nama saya Ali Wardani. Lahir di Panyurak kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi-Selatan. Mahasiswa jurusan Ekonomi Islam di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UIN Alauddin Makassar). Aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan khususnya di Forum Kajian Ekonomi Islam UIN Alauddin Makassar (FORKEIS UIN Alauddin Makassar) sebagai kordinator Departemen Kajian dan Riset (KASET). Hobi membaca novel dan menulis.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here