Mengangkat Tema Gender, Seminar Internasional di Padang Menghadirkan Pembicara Dari Berbagai Kalangan

0
636
views

Apakabarkampus.com-Dalam rangka ulang tahun UIN Imam Bonjol Padang yang ke-51, Center for Gender and Child Studies mengadakan seminar Internasional dan mengundang para peneliti mengirimkan abstrak untuk diseleksi dan dipresentasekan pada hari seminar. Terdapat 28 tulisan yang diloloskan dan kemudian dipresentasekan di Gedung Serbaguna UIN Imam Bonjol Padang pada tanggal 09 November 2017 kemarin.

Tema yang diangkat dalam seminar tersebut adalah “Gender Equity and Equality in Islamic Perspective: Hope and Challenge” yang kemudian menghadirkan tiga pembicara yang ahli dalam hal tersebut. Ada Dr. Wan Fariza Alyati Wan Zakaria dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Siti Aisyah, M.A., Ph.D dari UIN Alauddin Makassar dan juga Prof. Dr. Ruhaini Dzuhayatin dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pembicara menegaskan agar tidak ada lagi yang membawa dalil-dalil agama untuk mendiskreditkan kaum perempuan sebab tidak ada nash yang hendak memperlakukan perempuan secara tidak adil. Pemahaman-pemahaman yang sebelumnya begitu konservatif agar diubah dan tidak serta-merta memahami dalil secara teks.

Seminar ini tidak hanya dihadiri oleh kaum perempuan namun juga kaum laki-laki dari berbagai kalangan. Pembicara yang peka terhadap isu gender dan berusaha memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki saling bertukar pikiran dan berbagi pandangan.

Seorang mahasiswi alumni UIN Alauddin Makassar misalnya membahas mengenai ciri-ciri pemimpin perempuan ideal yang diabadikan dalam al-Qur’an.

Mengangkat kisah Ratu Balqis yang bijaksana, demokratis, tegas dan cerdas dalam memimpin. Pembahasan lain yang justru masih dianggap tabu dan sulit diterima oleh masyarakat hingga saat ini dan mengalami perdebatan panjang pada seminar tersebut datang dari penelitian Hikmalisa, mahasiswi UIN Sunan Kalijaga yang membahas tentang praktik khitan perempuan di Kuntu Darussalam, Riau.

Sebagian besar masyarakat masih belum mau menerima jika khitan terhadap anak perempuan ditiadakan meski dari segi kesehatan tidak memiliki pengaruh dan juga dalam hadis berstatus da’if. Hal ini terjadi karena masyarakat masih menganggap sakral akan hal tersebut dan takut untuk menyalahi konstruksi sosial budaya yang ada.

Dari seminar ini diharapkan agar orang-orang yang peka mengenai isu gender semakin bertambah agar kesetaraan dan keadilan antara kaum perempuan dan laki-laki dapat dengan mudah tercapai.

Penulis: Hasvirah Hasyim Nur (Alumni UIN Alauddin Makassar).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here