“Arung Palakka Tak Berkhianat” (Refleksi Perkaderan Kepmi Bone DPC Kahu)

0
224
views

Apakabarkampus.com-Pada akhir pekan itu, di sepertiga malam yang hampir pula berujung subuh. Terdapat sekumpulan mahasiswa asal Bone masih saja sibuk bercengkrama.

“Kenal dengan Arung Palakka??”, Si A tiba-tiba bertanya.
“Tidak, tidak baku kenal lebih tepatnya”, si B menimpali.
Hahahahahha…..!!!!
Serentak semua tertawa.

Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa daerah Bone yakni Kesatuan Mahasiswa Bone Dewan Pengurus Kecamatan Kahu.

“Arung Palakka pengkhianat”, Si C tiba-tiba nyeletuk
“Wah,,ini menarik, perlu kita simak sejarah sedikit. Kalau dari cerita sejarah itu sudah kawan-kawan pahami, silahkan mengambil kesimpulan sendiri. Apakah itu adalah sebuah pengkhianatan ataukah sebuah pengorbanan untuk membebaskan rakyatnya”, Si A dengan serius menjawab.

Dialog-dialog tersebut adalah bagian dari dialektika forum antara Si A sebagai narasumber dengan peserta. Mereka mengadakan perkaderan anggota baru gelombang kedua. Peserta yang masih mahasiswa baru itu, sebenarnya penat, letih dan terkantuk-kantuk, setelah hampir sepanjang malam duduk melantai, disuguhi beragam materi oleh organizing coomite. Tetapi pembawaan narasumber yang sedikit kocak membuat tawa mereka masih mampu menghiasi ruangan sederhana di pinggiran pantai Tanjung Bayang itu.

Kepmi Bone yang memiliki 23 Cabang Kecamatan dan sekitar 11 Cabang Kampus gencar melakukan kaderisasi dan pergantian pengurus akhir-akhir ini.

“Sekitar bulan Oktober-November ini hampir semua Dewan Pengurus Kampus melakukan kaderisasi anggota, sementara Cabang juga aktif melakukan pergantian pengurus. Malam ini saja(25-26/11/2017). Saya harus berkeliling menghadiri 4 kegiatan DPC dan DPK yang digelar bersamaan, semoga saja generasi Bone semakin memiliki daya saing yang mumpuni melihat geliat organisasi menggodok anggotanya.” Terang Justang selaku ketua Dewan Pengurus Pusat.

Pada malam itu saja Justang dua kali bolak-balik Tanjung Bayang untuk membuka acara di DPC Kahu, kembali ke Gedung Mulo disekitaran jalan Ratulangi menghadiri acara Milad Cabang UNM(Lapawawoi) kemudian kembali lagi ke Tanjung Bayang mengisi materi di DPC Kajuara dan kemudian singgah kembali bersilaturrahim di DPC Kahu sekaligus melepas penat sebentar.

“Kita dari Kahu patut berterima kasih dengan kunjungan ketua DPP yang bahkan dua kali malam ini, bagi kami itu istimewa,” Tutur Mustakim, Dewan senior yang hadir pada kegiatan adek-adeknya malam itu.

“Memang harus begitu pak Justang, ketua DPP harus rajin membangun silaturrahmi ke bawah dan jangan bosan melakukan itu.” Lanjutnya.

Takim demikian sapaan akrabnya juga adalah mantan ketua umum Dewan Pengurus Pusat yang kemudian dilanjutkan oleh Justang saat ini.

Peneguhan identitas ke-Bone-an adalah salah satu tema besar perkaderan di KEPMI Bone. Meretas makna pesan-pesan leluhur seperti Mabbulo Sipeppa Malilu Sipakainge Mali Siparappe Nennia Rebba Sipatokkong dan masih banyak lagi merupakan bagian dari local wisdom yang membuat manusia Bone melegenda sampai di negeri seberang. Pun demikian dengan pengurus Dpc Kahu, bagi mereka tanggung jawab mereka sebagai pengurus adalah membina kader selanjutnya agar generasi Bone khususnya di Kahu tetap memiliki prinsip kehidupan berciri khas orang Bone.

“Tanggung jawab itu kak, meski sumberdaya kami terbatas dan di dominasi oleh perempuan, tetapi semangat kami tak kalah dengan kader laki-laki, khusus ketua dan sekretaris umum kami sedikit acuh, jadi kami dengan modal sumange tealara melaksanakannya,” tutur Andi Maghfirah Maulani pengurus DPC sekaligus penanggung jawab acara.

“Kami tak ingin adek-adek kami lupa akan akan dirinya sebagai orang Bone, karena bagi kami pemuda millenial jaman now adalah mereka yang memahami persoalan terkini tapi tidak lupa akan sejarah”, Lanjut Andi Fira sapaan akrabnya.

Dewan Pengurus Cabang Kecamatan Kahu sendiri adalah salah satu Cabang besar dibawah naungan KEPMI Bone. Terbukti dua kali berhasil mendudukkan kadernya di jabatan puncak Dewan Pengurus Pusat Kepmi Bone. Kecamatan yang berada di titik sentral Bone bagian Selatan ini digadang-gadang menjadi Ibukota Kabupaten Bone Selatan yang sampai hari ini perjuangannya masih tertahan oleh moratorium dua Presiden yakni SBY dan Jokowi.

Salah satu yang menarik dari dialektika perkaderan itu adalah bedah sejarah tentang Arung Palakka sebagai simbol Bone yang masih saja dianggap pengkhianat oleh generasinya. Pertanyaan itu rupanya menggelitik narasumber untuk memberikan wejangan panjang tentang sejarah Arung Palakka.

“Kawan-kawan sekalian, Arung Palakka dalam sejarahnya sempat diasuh oleh bangsawan Kerajaan Gowa yang baik hati yaitu Karaeng Pattingngaloang. Arung Palakka diperlakukan layaknya anak sendiri tumbuh besar dan bergaul bersama para anak-anak bangsawan Gowa, bahkan dalam salah satu literatur disebutkan kalau Hasanuddin yang kelak mewarisi kerjaan Gowa merupakan salah satu sahabat akrabnya,” Tutur narasumber dengan serius dan bersemangat.

Peserta yang semula hampir “lowbat”, seketika terjaga dan serius mengikuti penjelasan narasumber.

“Tetapi setelah tumbuh besar dan menyaksikan perlakuan kerajaan Gowa terhadap para pekerja di semenanjung bantaran sungai Jeneberang. Mereka diperlakukan sebagai budak dipekerjakan paksa membangun Benteng Somba Opu. Para pekerja yang jumlahnya ribuan itu yang tak lain adalah rakyat Bone, Rakyat yang harus di jaganya sebagai salah satu pewaris tahta kerajaan Bone. Pertanyaannya kemudian kawan-kawan sekalian, jikalau kita memberontak dan menyelamatkan rakyat kita dari penjajahan seperti demikian itu apakah ini yang dimaksud dengan pengkhianatan??”, Lanjut narasumber kemudian bertanya balik.

“Tidaaaak….!!!!”
Peserta serentak menjawab.

“Perjuangan selanjutnya dari Arung Palakka adalah mencari daya dan upaya melindungi rakyatnya dari penjajahan Kerajaan Gowa, salah satu jalan yang ditempuhnya adalah bersekutu dengan Kompeni Belanda untuk mengalahkan Gowa. Dan pada akhirnya, Arung Palakka sendiri tak tunduk dengan Kompeni Belanda, persekutuan mereka berujung pada pertempuran kembali Arung Palakka dengan VOC karena mereka juga berkeinginan menjajah Bone”, Tutur narasumber menutup materinya.

Perjuangan organizing coomite kegiatan akhirnya tuntas di pagi itu, dengan panitia didominasi oleh perempuan. Peserta pun mendapatkan pelayanan prima dengan konsumsi dan minuman ringan yang membuat mereka bertahan sampai selesai.

Bagi panitia, perjuangan mereka itu terbayar lunas. Menghadirkan generasi Arung Palakka di pesisir pantai Tanjung Bayang penuh suka-duka. Salah satunya adalah animo mahasiswa saat ini yang cenderung apatis terhadap kegiatan kemahasiswaan apalagi organisasi berlabel daerah.

Mahasiswa daerah lebih cenderung lapar akan suasana kota, menikmati dinamika kota. Sementara organisasi semacam ini justru membawa mereka kembali menapaki jejak sejarah dalam kampung halaman dialog-dialog yang menjenuhkan.

“Alhamdulillah selesai juga kak, penuh perjuangan sedding, mulai kumpul-kumpul dana dan keliling cari yang bisa bantuki. Semoga bagusji nanti kader setelah ini, kami pantang menyerah meski jumlah kami yang bekerja sedikit. Terima kasih juga khusus untuk Kak Takim, kalau bukan beliau yang kasi arahan dan dampingi terus mungkin kami sudah menyerah di tengah jalan. Semoga beliau akan terus dampingi dan semangati kami hehe,” Vivin Oktafian selaku bendahara panitia sumringah menjelaskan dengan logat khasnya.

Pagi hari kegiatan itupun ditutup oleh Mustakim sebagai Dewan Pembina. Dan generasi Arung Palakka itu akhirnya pulang dengan semangat penuh di dadanya.

Penulis: Andi Maghfirah Maulani
(Mahasiswa UNISMUH, Jur. Administrasi Negara dan Pengurus Kepmi Bone DPC Kahu)

Andi Magfirah Maulani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here