MERAWAT RASIONALITAS

0
84
views

Oleh: Zulkarnain Hamson
Dosen Komunikasi Fisip UIT Makassar

Yodhia Antariksa, menuliskan; “Manusia itu, saya dan Anda semua, pada dasarnya suka berpikir secara tidak rasional atau irasional. Begitu ujar Prof. Dan Ariely – pakar _behavioral economics_ – dalam bukunya yang terkenal berjudul Predictably Irrational.

Selama ini, kita selalu merasa sudah berpikir rasional dan obyektif. Sayangnya, perasaan ini hanya fantasi. Karena tanpa landasan yang jelas, fakta yang benar dan argumentasi yang logis.

Kita sebagai manusia ternyata punya begitu banyak bias atau thinking error, yang acap tak kita sadari, dan membuat keputusan kita dalam banyak hal menjadi kacau.

Sembari menghirup kopi, pagi ini, saya terinspirasi untuk menulis sedikit catatan, bukan saja pada fenomena kian ramainya cara berfikir irasional, tetapi juga cara orang disekeliling kita memberi respon pada apa yang kita kemukakan.

Air yang mengalir dari Hulu ke Hilir, indahnya tak terletak di Muara, akan tetapi terlihat dilekukan Alirannya, Hidup pun demikian. Keberhasilannya, bukanlah Diakhir, namun pada Proses yang menyertainya. Gapailah hidup pada prosesnya, sebab dari situlah kehidupan itu bisa memberi Arti demikian ujar kawan saya, Saifuddin Almughniy.

Saya bersyukur, lekukan sungai kehidupan saya, meliuk diantara sejumlah media, diantaranya menjadi loper Republika di awal terbit, tabloid Ekobis Publik, mingguan Medkop Jakarta, anggota Dewan Pembaca Rakyat Merdeka, Harian Pedoman Rakyat, Harian Ujungpandang Ekspres, Koran Tribun Sulbar, Majalah Inspirasi Usaha, dan terakhir portal berita Apakabarkampusdotcom.

Dibanyak kesempatan saya beruntung bisa belajar Jurnalistik, bukan hanya di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Unhas, juga pada pelatihan jurnalistik di berbagai even.

Bingkai yang membentuk ‘sungai’ hidup saya dari sejak aktif di media hingga kini, adalah jangan percaya sesuatu tanpa sodoran fakta. Ternyata hal itu pula yang menjadi instrumen penting semua sahabat jurnalis saya.

Fakta empirik, fakta psikologis, fakta publik, dan fakta opini. Jika gagal menemukan ke 4 fakta ini pada sebuah informasi, juga berita, maka pastikanlah anda sedang tersesat. Hal inilah yang terus saya suarakan saat menghadapi mahasiswa kelas Jurnalistik, saat memberi kuliah.

Sulit rasanya menolak argumentasi sejumlah kolega terkait keputusan saya memenuhi undangan CelebesTV, yang meminta saya mengulas temuan Transparency International Indonesia (TII), yang menempatkan Kota Makassar di peringkat 2 kota terkorup di Indonesia, setelah Medan.

Komentar yang pro dan kotra, awalnya saya tanggapi dingin. Tetapi setelah bola salju kian membesar, dan mulai menyeret politik kedalam gulungan bola isu itu, saya memutuskan untuk menuliskan hal ini.

Profesor Sangkala Rewa, kawan saya dosen Fisip Unhas, baru saja tiba di tanah air, dari perjalanan akademiknya di belahan Eropa, menuliskan pesan kepada saya, “Lanjutkan, tak akan ada asap kalau tak ada api” demikian tulisnya menyemangati saya.

Temuan survei TII adalah fakta empirik, menolaknya hanya akan membuat orang mencemooh cara berfikir kita yang keliru. Ini bukan soal siapa yang paling banyak air liurnya untuk berdebat, ujar kawan lain yang jengkel dengan komentator yang hanya mengandalkan intonasi tanpa isi.

Saya bisa memahami setiap lekukan ‘sungai’ dari hidup seseorang, dalam kapasitas apapun dia saat ini. Terpenting dari itu semua, apakah seseorang memiliki fakta yang cukup untuk bisa menolak setiap sodoran informasi yang diterimanya. Terlepas apakah saat ini dia partisan atau oposan.

Korupsi itu kata orang seperti kentut. Baunya merebak namun sulit ditebak siapa pembuang gasnya. Jika ada yang wajahnya merona merah, boleh jadi dia pelakunya, terkebih ketika urat lehernya membesar untuk melawan tudingan sebagai penebar bau.
Mari kita tinggalkan bau kentut yang tak sedap itu, kita perlu merenung apakah kita termasuk dalam pribadi yang acapkali membuang gas busuk, namun enggan dituding.

Prilaku korupsi bisa menyergap siapa saja, pertanyaan lanjutannya adalah apakah kita akan terus melakukannya atau memutuskan berhenti. Apakah kita akan melakukan pembelaan dan melindungi pelaku dengan atau tanpa imbalan, semua berpulang pada kesadaran diri.

Agar kita tidak tersesat pada logika keliru, sebaiknya belajarlah melawan argumentasi dengan argumentasi. Survei dengan survei, fakta dengan fakta dan yang terakhir emosi dengan kepala dingin.

Kopi pahit di cangkir saya habis sudah, tulisan ini juga mendekati akhir, saya masih tetap berusaha meyakinkan diri saya bahwa tidak semua yang ada dalam benak kita sebagai sebuah kebenaran, akan diterima kepala dan hati orang lain sebagai hal yang sama. Seperti peringatan Allah, “Semua perbuatan tergantung niat.”

Makassar, 30 November 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here