Road Show BPM dan LPM kota Makassar.

0
59
views

Apakabarkampus – Road show BPM dan LPM ke setiap kecamatan setiap minggunya sekaligus pengenalan produk baru yang digarap di kota Makassar ini.

Pada Jumat (8/12) sosialisasi ini di laksanakan di kantor Kecamatan Makassar Jalan Gunung Nona yang di mulai pada pukul 16.00-18.13 wita.

Yongris selaku narasumber menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk dari Pemberdayaan Masyarakat kota Makassar sekaligus perkenalan unit usaha yang sedang di garap.

Yongris (tengah batik merah).

“Ini merupakan bentuk dari pemberdayaan masyarakat, dan di bulan Desember ini setiap minggu kita Roadshow di setiap kecamatan2,” tuturnya.

Lelaki berkacamata itu pun melanjutkan, bahwa tujuan sebenarnya juga adalah untuk mensosialisasikan di setiap masyarakat beberapa program-program dari lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) juga untuk sosialisasi unit usaha yang akan kita buat di bulan Januari, Lanjutnya.

Salah satu kelemahan masyarakat kita ini yang masih kurang dan butuh peluang-peluang atau kesempatan untuk mereka agar bisa mempunyai penghasilan. Salah satu cara yang kita buat di LPM yaitu kita ingin mereka bisa mempunyai penghasilan tapi juga sekaligus membantu masyarakat, Tambahnya.

Yongris saat wawancara.

Masih panjang lebar, Yongris menjelaskan kalau dua hal ini yang lebih penting dia bisa berbisnis, berbisnis yang punya nilai-nilai sosial yang tinggi. Jadi ini adalah Sosial Bisnis. Yang kita buat ini namanya Unit Usaha Pemberdayaan Masyarakat atau di singkat UPA’NA.

UPA’NA itu adalah salah satu bentuk bisnis digital dimana dia bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk pembelian atau pembayaran, yakni bayar PDAM, Listrik pasca bayar dan listrik prabayar, Tiket dan PBB.

Dengan kehadiran UPA’NA masyarakat itu semakin dimudahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Selain itu LPM yang bekerja itu bisa juga mendapat penghasilan. Jadi yang bekerja itu dapat hasil lebih banyak, sedangkan LPMnya lebih sedikit, presentasinya walaupun kecil tapi kan banyak seperti kelurahan dapat 10%, dan kecamatan dapat 10%.

Untuk pengelolaan keuangan, kita serahkan ke masing-masing LPM, karena modal yang dibutuhkan hampir tidak ada karena aplikasi yang kita gunakan itu tidak dibeli (gratis). Aplikasi ini dibuat di Jakarta lalu diberikan gratis ke orang-orang lalu mereka itu hanya butuh modal awal saja untuk diputar. Misalnya modal awal 1 juta, maka 1 juta inilah yg dipakai transaksi. Tidak perlu modal terlalu besar yang penting dia jujur dan lancar perputarannya.

Kalau persoalan apakah ini efektif atau tidak, ya, Semua itu pasti akan ketahuan, baik atau tidak itu kalau sudah kita jalani, kalau kita tidak jalani mana kita tahu itu bagus atau tidak. Yang jelas bahwa aplikasi seperti itu sudah banyak dipakai orang, sudah banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar.

Cuman kita mau aplikasi ini bisa dipakai oleh tingkat RW dan RT. Jadi lakukan dulu, setelah lakukan rasakan manfaatnya, kalau tidak ada manfaatnya ya sudah tinggalkan, kalau ada manfaatnya teruskan kenapa? Karena aplikasi ini sangat membantu masyarakat, tutup Yongris. (*)

Penulis : Zulkhulafair.

Editor: Adji Sukman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here