Efikasi vaksin difteri mencegah difteri sebanyak 87 %

0
31
views
Apakabarkampus.com-Secara umum Wabah dapat diartikan sebagai kejadian penyakit melebihi dari normal (kejadian yang biasa terjadi). Banyak definisi yang diberikan mengenai wabah baik kelompok maupun para ahli diantaranya :
• Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang didaerah luas ( KBBI : 1989 ).
• Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit ( depkes RI, DirJen P2MPLP : 1981).
• Wabah adalah kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka ( UU RI No. 4 tahun 1984 ).

Jadi istilah wabah hanya berlaku untuk penyakit menular atau disebut penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi yang kembali mewabah di Indonesia adalah difteri. Wabah difteri pernah terjadi juga pada 2009. Namun, kini wabah tersebut lebih meluas hingga dilaporkan di 20 provinsi. Menurut Soedjatmiko, kemungkinan terjadinya wabah difteri akan terus ada jika masih banyak anak yang tak diimunisasi, dan atau diimunisasi tapi tak lengkap.
difteri adalah penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium Diptheriae yang mudah sekali menular melalui batuk atau bersin karena bakteri tersebut paling banyan bersarang di tenggorokan Dan hiding sehingga membentuk selaput Putin dan tebal yang lama-lama menutupi saluran Napas.
Dalam dua sampai tiga tahun terakhir terjadi penurunan minat orang tua memberikan imunisasi terhadap anak termasuk pemberian vaksin difteri. Oleh karena itu, Pemerintah melaksanakan ORI atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri. Pekan depan, tiga provinsi yang ditengarai kasus difteri paling banyak, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten menjalani program ini secara berkala, pada 11 Desember 2017, 11 Januari dan 11 Juli 2018. Jawa Timur yang juga tinggi kasus difterinya sudah lebih dulu melaksanakan ORI.
Sejauh ini belum ada penelitian percobaan secara klinik mengenai efektivitas vaksin toxoid difteri untuk mencegah penyakit difteri. Terdapat penelitian secara observasional untuk menilai keefektivan vaksin difteri, meskipun keefektivannya tidak mencapai 100%. Seperti penelitian cross-sectional yang dilakukan oleh yamen yaitu perlindungan vaksin difteri mencapai 87% bagi yang menerima 3 atau lebih vaksin difteri
Diphtheria vaccine – World Health Organization
PDFwww.who.int › sage › meetings › april
Annisa Riska Yanti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here