Mengapa di Desa tak Ada Perguruan Tinggi

0
100
views

Oleh: Dr. Indar Arifin

MAHASISWA saya duduk di lantai, maklum ruangan tidak cukup buat menampung mereka, kursi tak cukup untuk duduk. Silakan melantai. Sayapun mulai berdiri, seperti biasa saya pandang mahasiswaku satu persatu, dan begitu yakin mereka akan menjadi pemimpin masa depan bangsa.

Siapa anak desa ayo naikkan tangan. Dan hampir setengah dari ruangan berasal dari desa. OK desa adalah kusebut negara kecil (memiliki otonominya, bahkan adat Istiadatnya, memiliki hukumnya sendiri, mandiri, bahkan perwujudan bangsa yang paling kongkrit).

Desa dari bahasa India yakni swades, yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal, atau tanah leluhur yang merujuk pada saru kesatuan norma, dan memiliki batas yang jelas, bahkan memiliki bahasanya sendiri. Kerukunan mereka teruji.

Tahukah kalian mengapa ibu kota sesak, padat, karena kalian datang kesini untuk menimba ilmu pengetahuan, kalian tidak ada pilihan, harus kesini jika ingin berpendidikan tinggi, sayangnya, teman temanmu sebelumnya banyak tak kembali lagi ke desanya setelah pintar (termasuk saya sambil menunjuk diriku sendiri), mereka malah beranak pinak di sini, hingga desa kehilangan SDM.

Ini mata kuliah berhubungan dengan Desa, maka tidak hanya pintar tapi harus sadar untuk kembali membangun desanya.
Jumlah desa di negerimu banyak sejumlah 74.754, banyak khan, bukan karena ada anggaran Pemerintah yang miliaran itu, saya tak perduli tentang itu akan tetapi dari dulu saya berharap kalian pulang setelah pintar, jadikan desamu terkaya didunia, terbersih di dunia, terindah di dunia, dan lain lain yang lebih positif, usia 25 tahun usia yang cukup memimpin desa, dan bertempat tinggal paling kurang satu tahun sebelum pendaftaran (silakan baca undang undang).

Saya juga tak paham mengapa tak ada kebijakan ada perguruan tinggi di desa.–silakan usut yah– mengapa hanya kota kota besar memiliki perguruan tinggi, sementara di berbagai negara sebut saja Jerman, Perguruan tinggi justru ada di desa-desa dengan pemandangan yang sangat indah, nanti kita akan pelajarinya.

Entah kenapa anak anak saya meleleh, sesekali menyeka air matanya. “Kalian menangis?” Seorang berdiri dan mengambil mikrofon, doakan kami bu Insya Allah, sambil mengacungkan tangannya dengan gumpalan tangannya, seolah ingin mengatakan kami pasti bisa….!!!.. ayo kita mulai dari sini.(dipetik dari FB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here