Titiek Soeharto dan Kemandirian Partai Golkar

0
16
views

Oleh: Notrida Mandica,P.hD.
Anggota Dewan Pakar DPP Partai Golkar

Konstalasi politik Partai Golkar (PG) saat ini mulai menghangat menyusul desakan dilakukannya Munaslub untuk segera mengganti Ketua Umum (Ketum) Setya Novenato dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) PG provinsi dan kabupaten/kota se Indonesia.

Bahkan nama yang santer disebut sebagai calon Ketum menggantikan Setnov adalah Airlangga Hartarto, Idrus Marham, Titiek Soeharto dan Azis Syamsudin.

Saat ini Calon ketua umum PG Airlangga Hartarto yang telah menggalang dukungan ke 34 DPD I, sementara pihak Titiek Suharto nampak tenang mencermati situasi. namun hari ini di hadapan 11 Ketua PG DPD II Provinsi NTT, Titiek Suharto menyatakan angkat bicara secara terbuka dan blak-blakan soal kesiapannya menjadi Ketum PG mengganti Setya Novanto.

Dari diskusi pengurus daerah dan Titiek Soeharto mencuat beberapa isu penting yang perlu menjadi perhatian bagi para calon Ketum DPP PG. Pertama, keengganan daerah untuk menjadi pengikut partai lain. Kedua, Pengurus Daerah menghendaki agar DPP PG tidak ditaktis oleh tokoh partai lain yang menjadikan PG sebagai ekor yang diatur sesuai keinginan penguasa. Ketiga, para pengurus daerah menghendaki PG sebagai partai yang mandiri, kokoh, dan mampu mengatur diri sendiri. Terakhir, mereka menghendaki perhatian DPP PG ke pengurus daerah bukan malah membiarkan daerah berkembang tanpa arahan.

Dalam mengamati situasi saat ini, DPP PG semestinga harus membenahi diri. dimana Seharusnya para calon Ketum DPP PG memperhatikan suara dan tuntutan daerah. Tidak semata mata menggantungkan diri pada penguasa. Seolah olah PG tidak akan eksis tanpa dukungan penguasa. Perlu diperhatikan bahwa PG seharusnya menjadi partner seimbang bagi penguasa.
Partai Golkar mendukung pemerintah namun seyogyanya tetap kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.

Partai Golkar harus berpacu dengan waktu. Setahun bukan waktu yang panjang untuk membenahi internal partai dan hubungan eksternal dengan pemilih dan konstituen.

Dalam waktu yang singkat ini, Partai Golkar harus mampu mendongkrak elektablitas dan popularitas yang terjun bebas beberapa waktu terakhir ini.

Karenanya Partai Golkar membutuhkan tokoh popular yang diterima oleh semua kalangan, penguasa dan rakyat. Seorang tokoh yang memiliki konsep dan karya untuk kemajuan bangsa dan negara. Sosok yang siap mengabdikan diri untuk Partai Golkar.(*).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here