Tahun Baru Budaya Siapa.

0
87
views
Muhammad Yusuf Uno (Mahasiswa Peternakan UNHAS).

TAHUN BARU BUDAYA SIAPA?

Setiap akhir tahun lebih tepatnya tanggal 31 Desember, berbagai kalangan merayakan malam pergantian tahun. Bahkan hampir di seluruh penjuru dunia ikut merayakannya. Gegap gempita perayaannya dipenuhi dengan pesta pora yang diiringi sorak-sorai suara terompet dan teriakan di tengah malam. Tak pernah ketinggalan pesta kembang api, entah berapa rupiah uang melayang untuk membeli kembang api dalam rangka pesta akhir/awal tahun.

Jiwa-jiwa yang haus hiburan, tua maupun muda, laki-laki juga wanita, bahkan anak -anak kecil hingga bayi yang masih digendong ibu-bapaknya, semua tumpah ruah di jalanan, lapangan, mall, hotel, kafe, dan juga tempat-tempat wisata.

Masyarakat pun larut dalam euforia satu malam. Bila kita melihat sejarahnya, Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diberlakukan sejak abad ke-7 SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 ditambah seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM. Sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Namun tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, yakni Kaisar Augustus, sehingga jadilah bulan Agustus.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari.

Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut. Pada berbagai negara, perayaan Tahun Baru tak lepas dengan ritual keagaaman yang diyakini oleh tiap negara. Contohnya di Brazil, pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang Dewa Lemanja—Dewa Laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Seperti halnya Brazil, di Jerman orang-orang meyakini jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh.

Di Amreika Serikat, perayaan tahun baru dilakukan pada malam ke 31 Desember di mana orang-orang berkumpul di pusat kota melihat pesta kembang api, meniup terompet dan membunyikan lonceng. Hal ini diyakini bahwa terompet merupakan panggilan ibadah bagi agama Yahudi sedangkan menyalakan kembang api dan membunyikan lonceng adalah panggilan ibadah bagi agama Majusi dan Kristen. Lalu bagaimana di Indonesia?

Perayaan tahun baru di Indonesia memiliki kesamaan dengan negara lain. Terompet dan pesta kembang api tidak pernah lepas dari perayaan malam tahun baru. Bila kita melihat faktanya, perayaan tahun baru bukan hanya ajang untuk berpesta pora pada akhir tahun, tetapi juga dimana angka kriminal meningkat. Tindakan kriminal dan ajang maksiat pun tidak bisa dipungkiri menghantui masyarakat tiap malam pergantian tahun itu.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka kriminal pada tahun 2015 mencapai 352.956 kasus. Hal ini mengalami peningkatan pada tahun 2014 yang hanya 325.317 kasus. Bebasnya penjualan miras dan kondom yang menunjukkan pola kehidupan masyarakat yang bebas dan hedonis serta jauh dari nilai spiritual. Bukan hanya itu, hal ini pun diduga kuat menjadi salah satu faktor pemicu meningktanya kasus kriminal.

Kita bisa saksikan di media massa, cetak, maupun elektronik. Pihak kepolisian selalu melakukan razia miras di toko, kafe dan tempat lainnya untuk mengantisipasi atau mengurangi dampaknya pada perayaan tahun baru.

Menyikapi Tahun Baru, Perayaan tahun baru tidak terlepas dari unsur ritual keagaaman di tiap negara. Olehnya itu, sudah seharusnya kaum muslim di Indonesia bijak dalam menyikapi perayaan tahun baru. Dalam perspektif Islam, ada larangan menyerupai aktifitas suatu kaum, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”. (HR. Abu Dawud, Ahmad).

Syaikhul Islam berkata, “Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun zahirnya mengafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).” (Al-Iqtidha’: 1/237).

Perayaan tahun baru masehi sejatinya adalah bagian dari hari suci umat Nasrani. Bagi orang Nasrani yang mayoritas menghuni belahan benua eropa, tahun baru Masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus. Dalam Islam jelas mengharamkan perbuatan menyerupai suatu kaum sebagaimana penjelasan hadits diatas apalagi dalam masalah akidah (keyakinan) termasuk dalam perayaan tahun baru.

Oleh karena itu, seorang muslim sudah seharusnya menjadikan Islam sebagai standar perilaku kehidupan sehari-hari termasuk dalam hubungan antar umat beragama. Senantiasa menaati Allah SWT dan meneladani Rasul- Nya dalam menjalani kehidupan ini. Kita harus kembali kepada jati diri kita sebagai seorang muslim, yaitu terikat dengan syariah Islam. sebab toleransi adalah membiarkan mereka melangsungkan ritualnya tanpa mengganggu dan tidak ikut-ikutan.

 

Penulis : Muhammad Yusuf Uno (Anggota LDK An-Nahl Unhas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here