Penyendiri Ideologis, Sastra sebagai peretas Jones yang menua

0
243
views
Suljaris Djamil (Mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Inggris UINAM)

PENYENDIRI IDEOLOGIS

Pernahkah ada rasa kagum dengan seseorang?. Tipelogi yang perfeksionis mungkin?. Embrionya bermula dari informasi yang diperoleh kemudian ditata hingga membonsai simpulan yang utuh. Barangkali sindrom merah jambu kebanyakan diidap oleh mereka yang dalam usia ideal dan produktif dimana kondisinya berada pada fase kecanduan afeksi.

Dosakah orang yang sedang jatuh cinta?, Tanya sang pecandu.

Ditemukan fakta di dalam masyarakat bahwa tidak sedikit terinfeksi kasmaran secara prematur. Falling in love sebelum nikah. Jatuh cinta tapi tak siap mempermaklumkan di sanad famili, atau tidak berani memproklamasikan di mimbar pelaminan akan menyebabkan kecemasan yang berlebihan sehingga keresahan perlahan menyeruak menggeser psikologinya. fitrah yang situasional, akan tetapi pemantik yang menimbulkan rasa tersebut perlahan akan menghegemoni dan terus bergolek-golek dalam rasa hingga sesaklah dada.

Adalah faktor x yang menyebabkan orang terlalu pagi bersalaman dengan cinta kepada lawan jenis. Sehingga banyak di antaranya mengambil jalur illegal untuk melampiaskan rasa kagum itu. Seolah pacaran adalah pilihan alternatif rapi dan tidak ruwet. Tanpa signifikansi tanggungjawab. Bisa disaksikan anak-anak muda jaman now, marak mengadopsi pacaran sebagai sistem percintaan yang dianggap jitu dengan berbagai spekulasi bahwa, pacaran mampu menyelesaikan nelangsa sang penyendiri.

Sumbangsih nomor wahid yang membuat pemuda jatuh cinta sebelum matang adalah faktor HIJAB. Sistem pergaulan di dalam masyarakat yang bercampur baur di semua aspek. Baik di kehidupan umum yang disertai interaksi yang menggombal, apatah lagi di kehidupan khusus yang sangat privat. Tak kalah pentingnya adalah pola berpikir tanpa hijab yang akan melahirkan habit of mind.

Mengkonsumsi informasi tanpa penyaringan sehingga apa yang dilihat, apa yang dibaca, apa yang didengar membentuk mindset yang amat berpengaruh terhadap pola tindaknya. Kasus ini, mungkin saja amatlah tepat bila yang didakwa dari pihak lain adalah liberalisme.

Sistem pergaulan yang liberal memungkinkan memproduksi kepribadian-kepribadian yang liberal pula. Hasilnya adalah pacaran. Selain tidak sesuai dengan kultur siri’ dalam budaya suku Bugis-Makassar, apa lagi ini jelas melanggar rambu-rambu agama. Dalam konteks ini hijab maksudnya semacam dinding yang membatasi bagaimana cara bergaul termasuk cara mengindra, cara berinteraksi, bahkan cara berpikir.

Lebih lanjut dengan kasus mereka yang sudah menua dalam kesendirian. Mengamalkan konsep hijab yang sesuai dengan ajaran islam. Namun proposal nikah masih menggantung tanpa mufakat. Ini tak ubahnya seperti pungguk mendambakan bulan.

Para Penyendiri yang Budiman, bujangan yang bertebaran di mana-mana memiliki masalah yang sangat kompleks. ada yang jomblo karena memilih, ada pula sendiri karena dipilih. Diversitas fenomena penyendiri memancing riak-riakan dalam masyarakat. Sebagai perempuan yang pinangannya tertunda. Jodoh yang belum bertemu dan bertamu, boleh jadi memunculkan involusi konflik tersendiri.

Konflik internal di dalam diri, juga berpotensi mengundang fitnah di lingkungan sosial. Sebagai laki-laki yang sudah lapuk dalam melajang. Barangkali sering menjadi objek kajian di tiap diskusi. Hampir-hampir meraih dominasi sebagai orang yang paling sering dibully. sehingga posisi para jomblo di masyarakat menjadi terasing “The Other”. Korban penindasan emosional. Menerima hukuman sosial dengan cap sebagai kelas masyarakat “yang lain”.

Romantika kehidupan Penyendiri tidak pernah tersentuh oleh kebijakan publik negara. Mereka menanggung ketersiksaan batin. Naluri yang tak tersalurkan. Tentu kita tahu bahwa cinta memang harus dikejar kendatipun Tuhan-lah penentu pada endingnya. Setiap saat menanti kebijakanNYA yang aneh dan ajaib untuk dipertemukan oleh tulang rusuk yang tak kunjung datang. Akan tetapi lingkungan yang tidak islami menghambat ihktiar para penyendiri dalam proses pencarian pasangan hidup.

Belum lagi preferensi Soleh(a) menjadi barang yang antik dan langka. Yang baik agamanya ibarat intan di gurun pasir. Seakan tak ada dalam keberadaannya. Demikian seputar kehidupan sang penyendiri yang jarang diliput sebagai problem sosial. Keadaan para Jones, kondisi mereka yang dilanda mabuk asmara.

Hingga Ibnu Qayyim Al Jauziyah mempertanyakan apakah mabuk cinta itu ikhtiar atau ikhtirari?. Pilihan atau takdir?.

Tidak ingin berdebat, namun argumentansi yang tidak qath’i akan mencederai subtansinya. Merusak dimensi-dimensinya. Memperkusam unsur-unsur yang dikandungnya. Sebagai muslim/muslimah ideologis, apapun persepsi kita tentang cinta kembalilah bercermin kepada islam. Intronspeksi serta retrospeksi diri kalau-kalau ada yang tidak sesuai. Melimitasi rasa haus akan kasih saying, bukan bermaksud menghilangkannya di peredaran. Juga tidak membungkamnya. Bukankah mencintai dalam diam juga berbahaya?.

Sebab ia akan menggorogoti dari dalam dengan fantasi yang radikal. Rasa terpendam mempengaruhi intensitas daya konsentrasi. Namun upaya mereformulasi pemahaman kita dalam merumuskannya. Dalil-dalil cinta yang dilontarkan merupakan representasi dari ideologi yang dianut.

Ideologisasi cinta sebetulnya proses internalisasi secara mendalam mengenai ayat-ayat cinta dalam Islam. Memang betul, hidup berpasang-pasangan adalah sunnatullah. Tapi hubungan yang illegal itu laknatullah. Lebih baik menyendiri mentarbiyah diri meraih ridhoNYA.

Para Penyendiri yang dirahmati Allah, sembari menunggu kereta jodoh datang mengkhitbah, mari berkarya mengejar impian-impian yang lain. Merapat dalam jama’ah memperjuangkan ideologi yang diemban. Memekikkan aspirasi Dkhulu fis silmi kaffah.. Melengking ke seantero jagat yang penuh suka-cita ini.

Sehingga kosakata galau mulai parau beringsut menghilang dalam kamus sang penyendiri. Ber-metamorfosis menjadi aktivis militan yang kerap kali mengkritik dan merajuki rezim, menggugat kebijakannya dengan suara-suara prosa tanpa dusta, mempersoalkan kontribusi Pemerintah terhadap kondisi pergaulan laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat yang tidak syar’i. Pacaran, ikhtilat, khalwat dan berbagai derivasi lainnya. Itulah penyendiri yang terlatih dan pastinya elegan dalam gerakan ideologisnya.

 

Penulis : Suljaris (Mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Inggris UINAM)

Editor : Adji

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here