Praktikum Lapangan Mahasiswa Biologi Di Enrekang Desa Kaluppini

2
277
views

Apakabarkampus.com-Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam menjalankan kehidupan masyarakat. Pada beberapa daerah adat istiadat merupakan suatu hal yang cukup penting dan sakral di setiap daerah. Enrekang yang terkenal akan gunung-gunungnya yang menjulang tinggi, makanan khasnya yaitu nasu cempa dan dangke serta terkenal akan adat istiadat yang begitu kental. Sehingga, membuat rasa penasaran dunia akan daerah tersebut terkhusus Mahasiswa Biologi Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar untuk melakukan praktikum lapangan mata kuliah Etnobotani dan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA). Mulai dari tanggal 31 Desember 2017-02 Januari 2018 di Desa Kaluppini Kec. Enrekang Kab. Enrekang. Tujuan dari kegiatan tersebut yaitu untuk mengkaji bagaimana masyarakat setempat memanfaatkan tumbuhan atau etnik yang khas/unik desa Kaluppini.

Wawancara dan foto bersama warga desa Kaluppini
Pembagian plakat

Desa Kaluppini merupakan kawasan sumber daya alam yang tergolong melimpah sehingga masyarakat setempat memanfaatkan tumbuh-tumbuhan mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah dan biji dalam kehidupan. Baik untuk dikomsumsi, dijadikan obat dan dijadikan sebagai bahan proses adat di daerah tersebut. Didapatkan sumber dari warga setempat yaitu sando pea (dokter/dukun yang menyembuhkan penyakit) yaitu berbagai macam tumbuhan yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit yaitu daun sirih sebagai obat demam, paria sebagai obat batuk, paria dan jagung sebagai obat lidah yang putih, daun sirih sebagai obat demam dan untuk antiseptik pertama bagi bayi baru lahir dan untuk ibunya. Kunyit untuk mengobati cacar, pisang batu mengobati anak-anak yang susah makan. Serta kunyit sebagai zat pewarna alami, daun cemba sebagai campuran masakan nasu cemba, daun pandan sebagai parfum dan masi banyak lagi tumbuh-tumbuhan lain yang digunakan.

Semangat gotong royong warga Desa Kaluppini
Puncak acara maulid Nabi

Didapatkan sumber lain dari pemangku adat yaitu bapak Devi masyarakat Kaluppini memiliki struktur adat yaitu 7, 8 dan 13. Menurut mereka angka 7 dikatakan 7 lorong tentara yang memiliki fungsi untuk menjaga, 8 tomasituru atau dewan adat yang memiliki fungsi untuk memberhentikan, mengangkat dan mengawasi. Sedangkan angka 11 di Kaluppini angka 11 disebut angka sakral karena dimana seseorang mulai dari dilahirkan melalui 13 proses kehidupan hingga menikah dan didampingi oleh 1 sando. Kaluppini terkenal juga akan rumah adatnya dengan 9 simbol yang menggambarkan 9 Kota yaitu Bone, Mandar, Pinrang, Tator, Gowa, Wajo, Soppeng, Luwu dan Enrekang.

Tumbuhan yang dimanfaatkan warga Desa Kaluppini
Sesi makan bersama warga Desa Kaluppini

Hal menarik yang ada di Enrekang desa Kaluppini yaitu maulid nabi (ma’damulu) dimana acara ini merupakan acara terbesar ke-2 desa Kaluppini yang dihadiri oleh 5 dusun (Kaluppini, Kajao, Detta, Lambang dan Ranga). Hal unik di acara ma’damulu tersebut yang pada umumnya di daerah lain menggunakan telur tapi di Kaluppini menggunakan pisang yang disususun seperti halnya monas yang ada di Jakarta. Serta ayam yang berjumlah ratusan dengan diperkirakan jumlah ayam yang terkumpul 509 ekor dan sapi sebanyak 5 ekor. Dipercayai warga setempat semakin banyak yang dikeluarkan atau disedekahkan maka semakin banyak reski yang diperoleh. Acara selanjutnya yang tak kalah unik yaitu makan bersama dengan mengunakan daun pisang dan jati sebagai pengganti piring serta tumbuhan bilah yang digunakan sebagai pengganti mangkuk. Pada perayaan acara besar di desa Kaluppini sering dijumpai atau digunakan tumbuhan pinang, sirih dan kapur (PSK).

Masak besar bersama warga Desa Kaluppini
Ayam disusun dan dicuci sebelum dimasak

Hal menarik yang lain di desa Kaluppini yang perlu di apresiasi dan ditiru yaitu jiwa gotong royong, kebersamaan, saling menolong dan menghargai yang begitu dijunjung tinggi. Pada acara besar mereka bersatu baik anak-anak, remaja, dewasa dan yang berumur tua saling gotong royong menyukseskan acaranya mereka. Selama 3 hari disana kami pun disambut hangat layaknya keluarga. Dengan praktikum lapangan ini sekiranya lebih menambah wawasan kita akan perlunya mempelajari ilmu pemanfaatan tumbuhan (etnobotani) dalam kehidupan. Masyarakat pada umumnya hanya menggunakan tumbuhan sekitar dipercayai mampu mengobati penyakit, namun jika ditanya mengapa mereka menggunakan tumbuhan tersebut dijawabnya karena tumbuhan tersebut digunakan nenek moyang terdahulu sampai sekarang. Serta tidak paham akan kandungan dari tumbuhan tersebut kenapa bisa menyembuhkan, karena mereka tidak memiliki kapasitas akan itu. Maka perlu adanya hubungan timbal balik antara mahasiswa dengan tokoh masyarakat menjelaskan sesuatu yang diketahui. Acara positif yang seperti ini yang mesti untuk didukung oleh pihak kampus sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Dan sekiranya dengan ini, bisa menyadarkan kita semua bahwa sesuatu yang diciptakan oleh Allah swt. tentu tidak ada yang sia-sia, banyak ayat yang memerintahkan kepada kita untuk berpikir dengan diberikannya kita akal sebagai pembeda dari makhluk lainnya. Maka berpikirlah.
Salam lestari. Salam Konservasi (*).

Penulis: Ika Rini Puspita

Editor: Zul Khulafair

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here