Aksi Mahasiswa Tolak Impor Pangan dihadang polisi.

0
206
views

Apakabarkampus.com – Impor beras, gula dan garam yang baru-baru ini dilakukan oleh pemerintah yang tercatat sebanyak 500.000 ton berasal dari Thailand dan Vietnam menuai kecaman dari kalangan mahasiswa salah satunya Gerakan Mahasiswa Pembebasan kota Makassar.

Jumat, (26/01) Gerakan Mahasiswa Pembebasan kota Makassar menggelar aksi protes terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro dengan rakyat.

Aksi Massa Mahasiswa di hadang polisi di depan Taman Pakui Sayang.

Aksi ini dimulai pada pukul 13.15 Wita dan bertolak dari depan UNM Pinisi, rencananya akan berakhir di Fly Over, namaun di tengah perjalanan tepat di depan Taman Pakui Sayang Pettarani Makassar aksi Gema Pembebasan ini di hadang oleh pihak kepolisian yang sedang menunggu kepulangan Wapres, dan akhirnya Gema Pembebasan tidak sempat sampai di Fly Over sebagaimana izin dalam surat Aksinya.

Para peserta aksi melanjutkan orasi-orasi ilmiahnya dan melayangkan kritikannya terhadap rezim yang dinilai telah salah dalam bertindak mengenai pangan tersebut, terlebih lagi mengingat ungkapan Mendag dengan sedikit sarkastik menegaskan kepemimpinannya sebagai Mendag dan mengatakan itu mau saya kalian mau apa?

Saat aksi dipaksa berhenti dari pihak kepolisian.

 

Pada pernyataan sikap yang dibawa oleh Gema Pembebasan tertulis ada 4 poin pernyataan yang dibacakan oleh Abdul Rifai selaku Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Makassar yang didahului dengan analisis mengenai dampak kebijakan pemerintah tersebut.

“Dicabutnya subsidi bagi para petani, komoditi impor masuk dan membuat bersaing petani lokal, memicu produksi komoditas unggul berdasarkan watak para neolib,” ucap Rifai.

Lanjut dari pada itu, dalam skala yang lebih besar, negara akan bisa bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan sistem impor, lanjutnya.

Akibatnya yang paling parah dengan ketergantungan ini ialah bisa menggadaikan stabilitas di dalam negeri kepada asing, dan bahkan pada titik tertentu ketergantungan ini bisa dijadikan sebagai alat politik untuk mewujudkan tujuan-tujuan pihak asing. Rifai memperjelas.

Abdul Rifai (ketua Gema Pembebasan kota Makassar) saat membacakan pernyataan sikap sebelum bubar.

Maka dari itu, Gerakan Mahasiswa Pembebasan menyatakan, 1. ketahanan pangan Indonesia telah rapuh yang disebabkan kebijakan liberal pada sektor pertanian, 2. menolak adanya impor beras, gula, garam dan komoditi-komoditi lain yang secara ketersediaan sudah ada bahkan surplus, 3. kebijakan impor beras menunjukkan tidak perhatiannya dan gagalnya pemerintah dalam mengentaskan kesejahteraan rakyat, 4. mengajak seluruh rakyat Indonesia terkhusus umat muslim untuk bersatu padu mengembalikan kehidupan Islam dalam institusi Khilafah, karena dengannya akan menjamin kesejahteraan serta mewujudkan Islam rahmatanlilalamin, tutup Rifai. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here