Apakah Tuhan Harus Ikut Khayalanmu

0
54
views

Oleh: Ghaziyah Ufairah

Terinspirasi dari sebuah tulisan di fanspage social media yaitu Prof. Dr. –Ing. H. Fahmi Amhar (lulusan Vienna University of Technology, Austria). Ini adalah sebuah fenomena yang sering terjadi di sekitar kita. Bumi yang dihuni oleh seluruh makhluk hidup maupun benda-benda lainnya yang tetap setia bersama langit dan tanah. Manusia kerap kali disebut sebagai makhluk yang paling sempurna dari yang lainnya.

Kontekstualisasi pun dalam kehidupannya semakin mendalam seiring berjalannya sang waktu. Sehingga muncullah banyak jenis manusia saat ini. Ada manusia individualis, manusia materialistis dan lainnya. Zaman pun berceloteh dengan munculnya manusia baru yang saat ini konon memiliki sebuah lembaga besar di negeri tercinta. Sebut saja JIL (Jaringan Islam Liberal), yang saat ini beredar dan sering menjadi pembicara dia acara-acara besar. Contohnya pada tahun 2008 di Today’s Dialogue mengenai konsep Khilafah Vs Demokrasi, pada tahun 2013 Debat tentang “Awas ! Golput Haram”. Personal mereka menjadi pembicara sekaligus menyampaikan ide yang diemban kepada para penonton.

Sampai dikisahkan ada seorang free-thinkier (yang berfikir bebas) yang menyebarkan video tentang kebesaran alam semesta yang biasanya dipakai untuk sesi inspirasi mengenai kebesaran Allah. Dengan pemikiran mendasar yang dimilikinya adalah liberal secara otomatis hasil dari analisis tentang video tersebut menjadi liberal pula. Dan hal itu mendorong dia untuk menulis “Tuhan terlalu besar untuk mengurusi hal-hal yang kecil, termasuk mengurusi makanan apa yang boleh kita makan atau dengan siapa kita boleh menikah, cara kita berpolitik, bermuamalah dan sebagainya. Tuhan terlalu besar untuk mengurusi kehidupan manusia yang bisa diselesaikan sendiri oleh manusianya”.

Betul, Tuhan memang Maha Besar, dan sebenarnyalah Tuhan tidak membutuhkan manusia yang sangat kecil, apalagi freethinker seperti dia. Tuhan tidak membutuhkan sedikitpun, apapun, dan siapapun itu. Tetapi manusialah yang membutuhkan petunjuk Tuhan. Manusia tanpa petunjuk Tuhan, akan tersesat, atau saling bertengkar tentang bagaimana cara mereka hidup dan meraih kebahagiaan. Hal itulah yang terjadi saat ini banyak terjadi perselisihan dimana-mana, pemberontakan pun menjadi lumrah. Ditambah lagi dengan berbagai kasus korupsi, narkotika, kekerasan dalam rumah tangga, dan lainnya. Ini bukan hanya terjadi di Amerika saja yang telah terdaftar kasus pembunuhan tertinggi dalam hal kepemilikan senjata api, tetapi juga terjadi di Indonesia (negeri tercinta). Pembunuhan melaju begitu cepat, pemerkosaan bukan lagi terjadi di kegelapan malam, pembegalan pun tak tahu waktu dan musim. Ini hanya sebagian saja. Negara yang terkenal sebagai mayoritas muslim tenyata kontradiktif dengan keadaan yang menggoncang sejarah. Sadar ataupun tidak sadarnya kita, hal ini terjadi bukan karena individu yang rusak saja, tetapi hal ini terjad karena kerusakan secara sistemik. Saat ini manusia sedang tersesat tak tahu arah dan tujuan hidup. Inilah yang terjadi ketika manusia tak menoleh kepada Tuhan. Manual instruction (Al-qur’an) tidak dijadikan sebagai aturan, semuanya hanya lembaran kertas yang berdebu di atas lemari dan tempat-tempat lainnya. Tuhan terabaikan dengan segala kemampuan manusia yang sangat terbatas. matapun tertutup dengan segala kesombongan yang mereka miliki.

Karena Tuhan itu “terlalu besar” untuk dijangkau, maka manusia mencari utusan Tuhan, yakni para Nabi yang memang dipersiapkan Tuhan untuk bicara dengan manusia. Untuk itulah para Nabi itu pasti dilengkapi dengan bukti otentik supranatural, bahwa mereka itu memang utusan Tuhan.

Karena itulah, dua hal ini saja yang wajib dicapai dengan akal sehat semata-mata: (1) Bahwa di balik keterbatasan dan keteraturan alam ini ada Zat yang serba Maha, itulah Tuhan yang Esa atau Allah, dan tidak ada pencipta & pengatur alam semesta dan yang pantas dipanjatkan doa selain Dia; dan (2) Bahwa Muhammad itu memang utusan Allah, dengan bukti kitab Al-Qur’an, yang memiliki sisi-sisi supranatural dari aspek estetika sastrawi, logika saintifik, maupun etika juridis. Setelah kalimah syahadah ini, selebihnya harus menggabungkan antara dalil (naqli) dan akal sehat (aqli). Maka akan tahulah kita, bahwa antara lain di balik setiap perintah Allah, seperti soal apa yang boleh kita makan dan dengan siapa kita boleh kawin, aturan apa yang harus dipakai dalam negara itu terletak hikmah dan rahasia kebahagiaan kita.

Tetapi kalau kita mengikuti khayalan, bahwa “Tuhan terlalu besar untuk mengatur urusan manusia yang remeh ini, maka jadilah manusia kehilangan martabatnya. Mungkin manusia akan makan protein dari manusia lain (mungkin dengan argumentasi “daripada mayat-mayat itu dibuang percuma”), atau manusia akan kawin dengan anjing (dengan argumentasi “yang sudah pasti setia dan tidak banyak tingkah”). Tuhan tak akan ikut khayalanmu, karena sebagai kaum muslim kita harus kembali pada aturan Allah. Bukan hanya sekedar ibadah saja tetapi Islam yang diemban secara keseluruhan (kaffah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here