Dialogika Gema Pembebasan UIT, Revolusi belum usai.

2
250
views

Apakabarkampus – Reposisi Arah Perjuangan Pemuda dan Mahasiswa Memasuki Tahun Politik 2018-2019 oleh Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komisariat UIT berlangsung pada pukul 09.30-13.25 Wita bertempat di Aula Kampus 1 UIT Jalan Rappocini Raya Makassar Senin, (29/01).

Pada Dilogika, Dialog Intelektual Kampus kali ini Gema Pembebasan Komisariat UIT menghadirkan narasumber Abdul Safrin Dg Talli SE.,M.M selaku Dewan Pembina KOMA UIT, Faisal Sahabuddin SE.,M.M selaku Pengamat Politik Sulsel, Fainal Ade S.Ip Aktivis Muslim Analyze Institute, dan Arifin Alfatih selaku Ketua Gema Pembebasan Komsat UIT Makassar.

Satu persatu para narasumber menyampaikan materinya kepada peserta yang kurang lebih 60 orang hadir dari laki-laki dan perempuan yang sangat antusias mengikuti Dialogika yang membahas terkait arah perjuangan pemuda dan mahasiswa.

Abdul Safrin Dg Talli SE.,M.M menyampaikan bahwa semua sistem itu baik hanya saja tergantung dari penggunanya saja, dan gerakan tidak akan sukses kalau tidak murni.

Abdul Safrin Dg Talli SE.,M.M saat menyampaikan materinya.

“Pada dasarnya semua sistem itu baik tapi tidak semuanya benar, tergantung pada penggunanya, dan kalau mau merubah sistem maka boleh saja asalkan perubahan ini adalah perubahan yang total dan lahir dari gerakan murni tanpa tunggangan,” ucap Safrin.

Dan kalau mau merubah sistem ini dengan sistem Islam saya sangat setuju asalkan satu, yakni perubahan secara kaffah, karena selama tidak kaffah semuanya akan sia-sia, Tegas Safrin.

Faisal Sahabuddin SE.,M.M selanjutnya menyampaikan materinya, bahwa sebuah gerakan itu butuh kematangan dan totalitas.

“Sebuah gerakan itu tidak hanya di bangun dari visi dan misi yang murni tetapi gerakan itu harus di bangun dari gerakan yang sudah matang sejak lahir dan penuh dengan totalitas,” tutur Faisal.

Dan untuk melakukan gerakan tersebut dalam meraih perubahan sistem yang kita harapkan maka memang dibutuhkan sinergitas gerakan berupa gerakan di luar sistem dan di dalam sistem, tapi ingat jangan sekali-kali masuk dalam sistem kalau dari diri sendiri belum yakin bahwa begitu kita masuk kita akan menang, karena saya sangat benci dengan kata kekalahan, lanjut Faisal.

Maka dari itu, kalau memang teman-teman ingin melakukan sebuah gerakan yang totalitas, maka saya pun akan siap ikut dan turun melakukan perubahan tersebut, bahkan nyawa saya pun akan saya serahkan demi perubahan yang total, karena memang perubahan total itu butuh pengorbanan yang total pula, pungkas Faisal.

Faisal Sahabuddin SE.,M.M mempresentasekan materinya.

Dari Aktivis Analyze Institute Fainal Ade menuturkan bahwa semuanya kita sudah tau kalau Demokrasi itu adalah sistem gagal.

“Demokrasi sudah gagal dalam skala global tidak terkecuali di Indonesia,
Demokrasi juga terbukti bertentangan dengan Islam,¬†sehingga umat islam harus meninggalkan demokrasi,” ucap Fainal.

Fainal pun melanjutkan, kontestasi Pemilu Pilkada dan Pilpres 2018-2019 tidak akan membawa perubahan berarti bagi Indonesia, sebab Pilkada dan Pilpres hanya mengganti wajah pemimpin dan bukan mengganti sistem, itulah alasan mengapa Indonesia tidak pernah bangkit, lanjutnya.

Mahasiswa dan pemuda muslim harus mengambil sikap politik  baru sebagai bentuk keberpihakannya kepada Islam, mengambil jalan perubahan Islam dengan menegakkan khilafah dan meninggalkan demokrasi, Jelas Fainal.

Arifin Alfatih selaku Ketua Gema Pembebasan Komsat UIT menekankan pada sisi kesungguhan dalam berjuang dan keseriusan pemuda untuk ikut serta dalam pembentukan jamaah yang berjuang demi perubahan dunia yang total.

Suasana forum saat berlangsungnya Dialog.

“Dan sekiranya kita semua sama-sama sepakat kalau ternyata sistem Islam lah yang terbaik dalam hal mengurusi kepentingan umat manusia, olehnya itu kita harus bersungguh-sungguh dalam melakukan kerja-kerja yang revolusioner ini,” tutup Arifin. (*)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here