Untaian Nasehat Fudhail Bin Iyadh

0
43
views

Apakabarkampus.com – Terkadang kita bingung terhadap suatu perkara, apakah ini benar? Salah? Atau bagaimana? Sebab ustadz ini bilang benar, sementara ustadz yang lain bilang salah.

Perlu kita ketahui bahwa ada beberapa perkara yang memang “mesti” berbeda, hal ini disebut khilaf (perbedaan) diantara para ulama.

Rabu (31/1) malam, MIM (Markaz Imam Malik) kembali menggelar Kajian Spesial yang dibawakan oleh ustadz Herman Hasyim.

Kajian Islam di MIM

Mengangkat tema ‘Untaian Nasehat Fudhail Bin Iyadh’, kegiatan ini dihadiri oleh ratusan jamaah baik laki-laki dan perempuan.

“Kebenaran itu tidak dilihat dari banyaknya orang yang melakukan, tapi kebenaran itu dilihat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Ujar pemateri dengan menggunakan pengeras suara Masjid Nurul Hikmah, jl. RSI Faisal 14 no. 14, Makassar.

Di antara nasehat-nasehat Fudhail Bin Iyadh adalah sebagai berikut:

1. Perhiasan yang paling baik adalah jujur dan berburu harta yang halal.

2. Demi ALLAH, engkau tidak boleh menyakiti anjing dan babi tanpa alasan. Apatah lagi terhadap seorang muslim.

3. Seseorang itu tidak benar-benar bertaqwa, kecuali musuhnya pun merasa aman dari kezalimannya.

Fudhail Bin Iyadh adalah mantan pimpinan penyamun yang suka menghadang para pedang yang lewat di daerahnya. Namun setelah ia mendapatkan hidayah dari ALLAH, ia pun bertaubat kemudian bersungguh-sungguh menuntut ilmu, dan akhirnya menjadi ulama yang cukup terkenal.

Lebih lanjut, ustadz Herman menasehati kita semua untuk tidak menasehati orang lain di depan umum, karna menurutnya, itu bukanlah menasehati, melainkan mempermalukan.

“Jangan membicarakan kejelekan orang lain di suatu majelis, sebab itu adalah menggibah, bukan menasehati.” Katanya.

Beliau kemudian menceritakan tentang sebuah kisah bahwa ada seorang ulama yang di tanya oleh seorang wanita, ketika di tengah pertanyaan, wanita tersebut buang angin. Lantas Syeikh itu mengatakan, “coba ulangi pertanyaan mu, aku tidak dengar.” Maka seketika itu, wanita tersebut kembali suasana hatinya, yang tadinya sangat malu menjadi lebih tenang, karena menganggap Syeikh nya tidak mendengar suara buang anginnya. Padahal sesungguhnya Syeikh tersebut mendengar pertanyaan dan suara buang anginnya, namun lihatlah akhlak seorang ulama, ia berpura-pura tidak dengar hanya untuk menjaga aib dan perasaan wanita tersebut.

Kemudian beliau juga menceritakan tentang kekeliruan sebagai imam di Indonesia, “ucapan ‘assalatu jami’an rahimahkumullah‘ biasa kita dengar pada sebagian imam-imam kita ketika hendak melaksanakan sholat, padahal kalimat itu digunakan untuk memanggil orang-orang untuk sholat gerhana.”

 

Editor:
Ma’arif Amiruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here