Masih adakah Mahasiswa hari ini?

0
235
views

LEMBAGA MAHASISWA SEBAGAI ALAT PERJUANGAN

Lembaga mahasiswa merupakan alat atau wadah perjuangan dengan mengangkat problem pokok mahasiswa dan rakyat.

Problem pokok itu tentu pendidikan yang lumrah, ilmiah dan demokratis sehingga mereka yang ekonominya menengah ke bawah juga dapat menikmati atau berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Konsep ini dimiliki oleh Dewan Mahasiswa di setiap kampus di Indonesia, di mana kedudukan Dewan Mahasiswa setara dengan birokrasi kampus dalam pengambilan kebijakan, tapi hal ini sudah jarang ditemui saat sekarang ini di setiap lembaga internal kampus.

Melirik sejarah, pada tahun 1974 Dewan Mahasiswa dibubarkan dikarenakan hampir semua Dewan Mahasiswa di seluruh kampus di Indonesia mengadakan rapat akbar untuk menolak kedatangan Perdana Mentri Jepang “Kakuei Tanaka” ke Jakarta mengenai penanaman modal asing.

Dalam menyikapi penanaman modal asing itu, hampir semua mahasiswa indonesia melakukan aksi penolakan atau yang kita kenal hari ini dengan peristiwa “Malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI)”.

Dengan kejadian ini, pemerintah saat itu merasa terganggu dan membuat suatu kebijakan yang kita kenal dengan NKK/BKK dan pelarangan mendidirikan organisasi kecuali SMPT dan SMU (OSIS).

Mulai saat itu aktivitas mahasiswa kemudian dikontrol oleh penguasa lewat pihak Rektorat dan Dosen pengajar, mahasiswa kemudian di dorong untuk melakukan kegiatan seperti seremonial, eksklusif atau mengharumkan nama almamater, bahkan mengubah cara kultural dalam penyambutan mahasiswa baru.

Yang menjadi pertanyaan kenapa hari ini kurang mahasiswa yang membicarakan isu tentang dunianya sendiri (sistem pendidikan)?

Semua itu terjadi karna tidak ada pembasisan atau kaderisasi yang dilakukan oleh setiap lembaga intra mahasiswa, karna bisa dibilang di setiap kegiatan mahasiswa itu sudah diatur oleh pihak kampus, sehingga lembaga mahasiswa tidak lagi memiliki nilai tawar dalam kebijakan birokrasi kampus, dengan hal menyangkut kepentingan mahasiswa pun tidak lagi diperjuangkan.

Hampir 80% hari ini mahasiswa malas berlembaga, ini di akibatkan dengan adanya represifitas yang dilakukan oleh pihak birokrat kampus terhadap mahasiswa, dengan metode yang sering dipakai dikampus saat ini yaitu;

1. Diperketat absensi kehadiran yang dimana kuantitas kehadiran 80% harus dipenuhi untuk mahasiswa bisa mengikuti ujian semester.

2. Merepresif nilai mahasiswa jika bertentangan dengan pendapat dosen atau pihak birokrat kampus.

3.Membuat perjanjian sepihak tanpa berdiskusi dulu dengan mahasiswa sebelumnya, seperti pergantian jadwal mengajar dan menambah pertemuan dalam satukali pertemuan.

4. Merepresif mahasiswa yang kritis dengan metode pemanggilan untuk menghadap diruang jurusan dan bahkan memanggil orang tua/wali mahasiswa.

5.Menghilangkan demokratisasi ketika mahasiswa menuntut, dan 6. Pemecatan atau Drop Out terhadap mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di dalam kampus dan lain sebagainya.

Dengan demikian hari ini mahasiswa secara langsung di dorong untuk cepat menyelesaikan studinya, sehingga mahasiswa hampir tidak lagi memiliki waktu untuk mengkaji banyak hal yang berkaitan dengan sistem kampus atau utamanya sistem pendidikan yang ada di bangsa ini.

Sehingga mahasiswa lupa menjawab mengapa pendidikan kian mahal dan tidak lagi ilmiah atau jauh dari nilai demokratisasi.

Tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai proses humanisasi kini tidak lagi melahirkan manusia yang utuh, melainkan melahirkan manusia-manusia setengah robot.

Lembaga mahasiswa yang hakekatnya sebagai lembaga yang mengabdi kepada kepentingan mahasiswa dan orang banyak.

Kini telah terjadi reorientasi di mana lembaga kampus hari ini hanya melahirkan mahasiswa yang intelektualis, mereka banyak mengonsumsi teori tanpa adanya aksi nyata atau keberpihakan kepada kepentingan orang banyak.

Tidak hanya intelektualis melainkan melahirkan pula para aktivis yang di mana pada masa perkuliahan mereka selalu berpikir serta bertindak aktif dalam menyikapi problem keumatan yang terjadi pada bangsa ini, akan tetapi setelah ia selesai menyandang status sebagai mahasiswa, merekapun berevolusi menjadi penindas-penindas baru.

Bukan saja intelektualis dan aktivis melainkan juga banyak yang terjadi pada kehidupan mahasiswa saat ini, di mana mahasiswa berlembaga hanya untuk dijadikan sebagai kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Sehingga kondisi lembaga kampus tidak lagi akomodatif untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa atau aspirasi rakyat, dikarenakan lembaga mahasiswa sudah dikontrol oleh penguasa atau dalam hal ini lewat pimpinan rektorat atau yayasan.

Ditambah lagi hari ini mahasiswa melakukan pergerakan itu sudah terkotak-kotakkan, di mana lembaga A menyikapi persoalan kampus atau persoalan ummat dengan sendirinya dan begitupun dengan lembaga B dan C, sehingga basis massa dari mahasiswa sangat kurang dan bahkan aspirasi tidak lagi di dengar disebabkan banyaknya tuntutan yang berbeda-beda.

Menilik sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia, di mana salah satunya adalah era Reformasi atau runtuhnya rezim Orde Baru yang di bawah kepemimpinan Soeharto sebagai pimpinan negara yang menjabat selama 32 tahun lamanya atau yang kerap kita sebut dengan sistem diktator.

Persolan di atas mampu diselesaikan oleh mahasiswa dan pemuda dikarenakan basis massanya banyak, di mana setiap lembaga mahasiswa baik lembaga internal kampus maupun ekstra kampus bersatu dalam menyikapi setiap problem yang terjadi.

Hal-hal yang demikianlah yang sulit ditemui hari ini dalam kubu mahasiswa, di mana setiap lembaga lebih memilih mengibarkan benderanya sendiri ketimbang bergabung dengan lembaga lain dalam menyikapi persoalan internal maupun eksternal kampus.

Untuk menghindari kemandekan lembaga kita perlu mempelajari dan mengevaluasi serta melakukan perubahan-perubahan dalam sistem kelembagaan sebagai syarat mutlak suatu lembaga yang maju.

Oleh sebab itu kita perlu mempelajari bersama konsep di mana mahasiswa memiliki kedudukan yang setara dengan pihak birokrat kampus, dimana mahasiswa harus ikut serta dalam pengambilan kebijakan yang di dalamnya adalah tentang kurikulum, alokasi dana kemahasiswaan dan peraturan akademik bahkan mahasiswa harus dilibatkan dalam kebijakan ekonomi dan politik di ruang lingkup kampus maupun ekstra kampus.

 

Penulis : Abang Jebra

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here