Pancasila Penjaga atau penjagal

1
119
views

PANCASILA PENJAGA ATAU PENJAGAL? (Pancasila senjata kriminalkan ulama)

Tentu tidak ada lagi yang meragukan jika hadir narasi pengantar bahwa Nusantara adalah negeri yang bertuhan. Negeri yang mengakui kedudukan agama, sebab telah termaktub dalam sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dituangkan bahwa nusantara ini merdeka disebabkan pertolongan Allah Swt. Sebagaimana dinyatakan “Atas Berkat Rahmat Allah yang maha kuasa…”.

Selain pernyataan bahwa negeri ini merdeka karena pertolongan Allah, juga dituangkan pada falsafah hidup bernegara dengan mengakui eksistensi lima sila yang fenomenal.

Karena negeri ini memiliki keberagaman agama, sehingga negeri ini menjadikan sila pertama sebagai payung bagi setiap pemeluk agama di Indonesia. Maka jelaslah pemeluk agama memiliki kedudukan yang sama dalam mejalankan ritual ibadah dan ajarannya masing-masing.

Penguasa yang berpedoman pada Pancasila harusnya tidak membeda-bedakan ajaran agama yang wajib disampaikan karena begitulah ajaran agamanya. Sebab setiap pemeluk agama memiliki ciri khas serta penekanan tersendiri untuk menyampaikan ajarannya yang merupakan perintah dari Tuhannya yang di junjung tinggi lebih dari apapun.

sementara di sini sudah sangat jelas bahwa Tuhan jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan penguasa yang notabenenya adalah manusia yang ia pun adalah ciptaan Tuhan, Tuhan menurut keyakinannya masing-masing.

Sebagaimana mereka yang beragama Islam, tentu memiliki tugas dan tanggung jawab tersendiri untuk menunaikan serta menyampaikan apa yang diajarkan pada keyakinannya.

Bagi muslim ajaran A to Z musti disampaikan kepada khalayak. Sebab itu telah menjadi konsekuensi pengakuan dari kalimat persaksian yang menyelamatkan hati dan jiwanya bahkan seluruh hidupnya dari praktek-praktek tercela menurut budaya luhur maupun ajaran agama manapun, terkhusus lagi di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai adat Istiadat dan kebenaran agama.

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad SAW adalah Utusan-Nya (yang mengajarkan kepada manusia tentang Islam)”. Kalimat ini lah yang menjadi tolok ukur apakah seseorang memeluk agama Islam atau tidak, dan kalimat ini pula lah yang menjadi penyelamat hati dan jiwa serta seluruh hidup manusia yang memeluk keyakinan Islam.

Bahkan ada satu kebenaran universal yang sudah sama-sama menjadi maklum di kalangan masyarakat, yakni sebuah keyakinan pasti memiliki konsekuensi tersendiri yang sifatnya khas. Setidaknya ia menuntut untuk di yakini dengan benar, diterapkan baik secara individu maupun kelompok, dan terakhir adalah menyebarluaskan ajaran dari keyakinan tersebut.

Seperti itu lah dalam Islam. Tentu konsekuensi dari kalimat tauhid yang dipersaksikan ini menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk menyampaikan apa saja yang telah diajarkan dalam Islam.

Karena Allah SWT telah memerintahkan kepada setiap muslim agar berislam secara total (Q.S 2: 208). Selain berislam secara total, muslim pun diperintahkan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada yang lain (Q.S 3: 104).

Bahkan setiap muslim akan termasuk dalam kategori merugi dan melalaikan waktu jika tidak melakukan aktivitas edukasi dan menyebar luaskan seluas-luasnya ajaran Islam secara kaffah kepada masyarakat tentang ajaran Islam (Q.S 103: 3).

Oleh sebab itu, maka setiap muslim memiliki kewajiban yang sama untuk menyampaikan ajaran Islam (dakwah) kepada masyarakat. Aktivitas ini sama urgensinya kepada kaum intelektual, politisi, masyarakat sipil, dan bahkan kepada ulama. Apalagi Ulama yang telah memiliki ilmu yang luas tentang Islam.

Tentu tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran Islam lebih besar, sebab Ulama adalah pewaris para nabi.
Maka menjadi keharusan bagi Ulama agar berdakwah ke masyarakat untuk menyampaikan seluruh perintah Allah tanpa ada rasa takut sedikitpun terhadap sesuatu yang lain apalagi takut kepada sesama manusia yang hanya di bedakan oleh pangkat, jabatan dan golongan saja di dunia yang penuh dengan tipu daya ini.

Perintah di sini adalah perintah mengajarkan Islam kepada seluruh manusia terkait ajarannya mulai dari akar hingga daun. Mengajarkan tentang akidah, salat, zakat, haji, muamalah, khilafah, dan ajaran-ajaran lainnya.

Sebab keseluruhan materi dakwah tersebut merupakan ajaran Islam yang tidak boleh di penggal-penggal, diambil sebagian kecil dan sebagian besarnya dibuang. Ini tidak boleh karena itu adalah perbuatan tercela dan termasuk bermaksiat kepada Tuhan.

Muslim harus tahu bahwa salat itu adalah wajib (Q.S 2:3) dan juga harus tahu bahwa menerapkan aturan Allah dalam segala lini kehidupan adalah wajib (Q.S 5:50). Karena itu Ulama tentu tidak akan menutup-nutupi ajaran Islam yang demikian. Sebab kedudukannya sama dalam Islam, kecualu kepada Ulama yang telah dilabeli oleh Rasulullah dengan sebutan Ulama jahat yang menipu umat Islam.

Jika memang demikian, mestinya Ulama dan aktivis Islam tidak dikriminalkan saat melakukan aktivitas dakwah ketengah masyarakat. Selama apa yang disampaikan memang bersumber dari Islam.

Tapi anehnya, justru hal tersebut beberapa kali terjadi dan terus berulang-ulang. Tidak satu dua orang pengemban yang telah dilaporkan kepada pihak berwajib, bahkan sampai di penjarakan. Bahkan pembubaran paksa kegiatan pengajian pun kerap kali kita jumpai.

Lebih aneh lagi, kalangan yang kerap kali melakukan aktivitas pembungkaman itu adalah organisasi masyarakat tertentu yang bersimbolik Islam dan juga dari aparat keamanan yang merupakan perpanjangan tangan rezim dengan dalih, apa yang dilakukan oleh Ulama dan aktivis Islam akan mengancam keutuhan negeri ini.

Lebih dari itu, kadangkala dalihnya sampai kepada alasan bahwa ajaran yang disampaikan Ulama dan aktivis Islam bertentangan dengan Pancasila.
Hal tersebut memberikan arti bahwa Pancasila dapat di jadikan senjata untuk memberantas sesuatu yang sifatnya mulia.

Kalau memang demikian maka dapat di artikan bahwa Pancasila itu sifatnya subjektif, tergantung siapa yang menungganginya. Sementara narasi lain pun hadir bahwa Pancasila itu sudah final, dan ini sangat membingungkan.

Harusnya bila sudah final, maka tentunya Pancasila harus selalu berpihak kepada kebenaran hakiki, bukan kebenaran versi setiap rezim yang berganti di bumi pertiwi ini untuk menumbangkan siapa saja yang dianggap lawan yang akan mengancaman kelancaran tujuannya menjadi penguasa otoriter.

Oleh karena itu, rezim negeri ini harus memahami dengan benar bahwa penerapan sistem yang katanya sudah benar seperti demokrasi yang di dalamnya ada kebebasan berpendapat dan berkelompok, mutlak diterapkan demi kepentingan bersama. Bukan hanya karena mengacu pada kepentingan rezim secara pribadi.

Rezim harus menjadi contoh bagi masyarakat untuk menegakkan falsafah hidup yang telah final tersebut, bila memang ia sudah final. Akan tetapi, sesuatu yang berasal dari manusia tentu akan memiliki keterbatasan. Sebab akal yang dimiliki oleh manusia adalah lemah dan terbatas dan itu kita sudah sama-sama memahaminya.

Akan tetapi, apabila suatu saat rezim sudah sadar dan telah memahami bahwa segala kerusakan yang terjadi dalam negeri ini bukan semata-mata karena lakonnya, melainkan karena sistem impor dari barat yang dipaksakan untuk terterapkan di negeri ini.

Yang mana sistem hari ini sudah sangat jelas bertentangan dengan Pancasila yang dianggap telah final itu, bahkan bukan hanya Pancasila saja melainkan sistem Impor dari barat ini (Demokrasi) yang telah cacat sejak ia lahir pun sudah sangat jelas bertentangan dengan kepentingan Rakyat Indonesia secara keseluruhan kenapa? Secara kultural Rakyat tidak boleh terjajah secara fisik maupun pemikiran. Secara agama rakyat tidak boleh terjajah karena tidak bebas mengajarkan ajaran agamanya. Secara kebangsaan, bangsa ini tidak boleh terbelakang. Dan secara kenegaraan Indonesia ini tidak boleh di kuasai oleh asing dan aseng.

Maka menjadi hal yang wajar bila apa yang menjadi karya manusia tidak dapat dikatakan sempurna. Sebab negeri yang mengakui adanya Tuhan, tentu kesempurnaan segala sesuatu termasuk ajaran, mutlak ada pada-Nya. Dan olehnya jika ingin kebaikan maka ambillah hukum dari yang sempurna itu bukan justru mengambil hukum dari hasil buatan manusia yang sifatnya lemah, serba kekurangan dan terbatas.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Q.S 5:3).

Penulis : Ismail (Ketua Gema Pembebasan Komsat UNM GUNSAR)

Editor : Adji

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here