Pecandu Aksara Bina Warga Lapas Maros Lewat Literasi

0
81
views

Maros, apakabarkampus.com-Komunitas Pecandu Aksara (PA) bekerjasama dengan Pustaka Jeruji Indonesia menggelar Bincang Literasi di Aula Lapas Klas II A Maros, Jalan Raya Kariango Km 3, Kabupaten Maros. Sabtu, (03/02).

Kegiatan yang diikuti oleh komunitas-komunitas literasi di Maros dan warga binaan Lapas Maros ini menghadirkan pembicara diantaranya, Samsu Alam (Pembina Oemar Bakri Community), Liyana Zahirah (Penulis dan Pegiat Pecandu Aksara), Alam Dettiro (Pendiri Pustaka Jeruji Indonesia), Muh Ikhwan (Pendiri Biseang Pustaka), dan Warsianto (Kepala Lapas Klas II A Maros).

Kagiatan ini juga turut dihadiri oleh para pegiat komunitas literasi Oemar Bakri Community (OBC), komunitas Biseang Pustaka dan para pemerhati budaya literasi di Kabupaten Maros.
Samsu Alam selaku Pembina OBC memaparkan makna sebenarnya dari budaya literasi. Menurutnya, literasi tidak hanya dimaknai dengan budaya membaca dan menulis saja.

“Bagi saya, membaca dan menulis itu baru proses literasi saja, Mengaplikasikan hasil bacaan, itulah sesungguhnya makna literasi,” ungkapnya dihadapan puluhan peserta.

 

Hal senada juga diungkapkan Liyana Zahirah. Sebagai salah satu pegiat di komunitas Pecandu Aksara, Liyana mengajak para peserta untuk tidak hanya sekedar membaca lewat media buku saja.

“Budaya literasi tak hanya tentang membaca buku saja, literasi juga terkait pada membaca fenomena alam. Seperti perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, Iqra yang artinya membacalah,” ujar penulis muda ini.

Terkait pendapat Samsu Alam tentang hasil dari literasi yang harus diimplementasikan secara nyata, Pendiri Pustaka Jeruji Indonesia, Alam Dettiro menanggapi bahwasanya Pustaka Jeruji Indonesia telah menerapkan budaya literasi dalam kehidupan sehari-hari warga binaan di Lapas Maros.

“Salah satu aplikasi literasi di tempat ini yakni bagaimana para tahanan bisa memaknai peraturan Lapas, salah satunya melalui perantara Bel. Jika bel berbunyi sebanyak 3 kali maka semua tahanan wajib masuk ke dalam selnya masing-masing. Itulah contoh sederhana pengaplikasian literasi di Lapas Maros ini,” paparnya.

Kepala Lapas Klas II A Maros, Warisanto mengutarakan harapannya kepada semua pihak tak terkecuali komunitas-komunitas literasi yang hadir di kegiatan tersebut.

“Saya harapkan adanya dukungan dari masyarakat khususnya komunitas literasi, sebab tanpa dukungan, jujur kami agak kesulitan mengembangkan minat dan budaya literasi di Lapas ini,” harap Warsianto.

Sejak pertama kali diresmikan, Pustaka Jeruji Indonesia di Lapas Klas II A Maros telah menjadi project percontohan bagi Lapas se-Indonesia, dimana untuk pertama kalinya di Indonesia terdapat perpustakaan yang dibangun di dalam Lapas guna mengajak para warga binaan Lapas untuk gemar membaca dan menulis.

Hal ini pula yang membuat Kemenhunkam RI saat ini tengah mempersiapkan kebijakan remisi atau pengurangan hukuman bagi para warga binaan Lapas yang rajin membaca dan menulis, seperti halnya yang sudah berlaku di negara Brazil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here