Determinisme Rindu, bukan kata Dilan.

0
198
views
Penulis Suljaris (Jaket coklat) Editor, Adji (Kaos oblong merah)

DETERMINISME RINDU

Preambul almanak 2018 disambut basah dan berasap oleh dua musim yang mengalir deras menyusuri lorong-lorong privat manusia. Kuantitas hujan menggenangi karakter tanah yang cenderung mengawah dan iklim rindu membubung tinggi lalu meletup menebarkan informasi yang kian booming.

Hujan acapkali dijadikan tema oleh para penggiat literasi. Selain karena sifatnya yang membasahi juga rinainya yang menginspirasi. Menyirami relung-relung hati yang kering kerontang akan kasih sayang. Hingga Boy Candra berdoa agar hujan turun lebih lama lagi, sehingga terkurungnya nampak beralasan untuk tidak perlu kemana-mana. Karena ia sangat percaya hujan tak lebih dingin daripada kesendirian yang kerap kali datang bertamu.

Nampaknya Boy Candra curhat di kala hujan. Meratapi kenangan masa silam. Hujan kini tak lagi semenyenangkan dulu katanya. Sekarang hujan turun dengan rasa rindu yang berakhir pilu. (Boy Candra, Senja, Hujan & Cerita Yang Telah Usai: 9-10). kurang lebih sperti itulah.

Syahdan, rindu itu berat. Kata mereka yang sedang kecanduan. Adiksi rindu merekah dalam alunan mesra para pamabuknya. Saat rindu perlahan menginvasi. Mulai menghegemoni alam pikiran. Seluruh organ tubuh untuk ikut mengaminkan. Fenomena yang nampak dari eksistensi penikmat opium rindu memang terlihat sangat menyengsarakan. Tertindas oleh rasanya sendiri.

Apakah merindu adalah kemerdekaan manusia atau keharusan universal?

KBBI memberikan eksplanasi bahwa rindu berarti sangat ingin dan amat berharap terhadap sesuatu. Adalah keniscayaan manusia diadakan di bumi persada berbekal naluri untuk merindu. Baik rindu kepada yang misteri (Gharizah at-tadayyun) maupun rindu terhadap yang materi (Gharizah an-nau dan gharizah al-baqa’).

Mustahil untuk menghindar ataupun berupaya lari dari rindu. Penampakannya bisa saja tersembunyi dari kacamata manusia. Namun realitasnya, tak mungkin berpisah darinya sebab rindu tersebut telah Tuhan tetapkan sebagai bagian dari fitrah manusia.

Itulah yang dimaksud dengan determinisme rindu. Realitasnya included dari diri manusia. Mau tidak mau, suka tidak suka, hal itu melekat darinya dan Sudah diluar dari kemauan manusia. Namun harus dipahami di balik entitas yang menguasai dirinya, manusia memiliki kemerdekaan memilih yakni lingkaran yang dia kuasai.

Aktualisasi rindu amat tergantung dari vokalisasi yang digunakan. Sebagai muslim yang taat tentu perwujudan yang menyeruak adalah apa-apa saja yang direstui oleh syariat. Misalkan rindu kepada ia yang terawat indah di dalam ingatan, cinta yang sudah menyunsum dalam tulang.

Maka solusinya adalah wa ankihul ayaama minkum…(QS.24:32). Toh menyatakan cinta untuk menikah di jalan Allah bukanlah suatu perbuatan yang tercela bukan?. Jika juga belum siap dan bisa atau masih gagap untuk berijab kabul, maka alternatif lain adalah dengan bersaum sebagai tameng pengendali energi rindu yang berampere tinggi.

Karena akhir-kahir ini marak beredar petitih ”Jangan rindu. Berat. Biar aku saja”. Sebagai respon ideologis untuk mengkaji secara argumentatif. Sebab rindu yang bebas nilai akan mempredasi sasaran yang menjadi target tanpa filter yang menyaring. Islamisasi rindu adalah bagian dari upaya menghukumi fakta merindu dari sudut pandang islam.

Bagaimana merindu kepada yang Maha?

Kajian ini concern berbicara masalah rindu vertikal. Rindu dalam tafsir teologis. Bagaimana kemudian manusia merumus rindu dalam berubudiah kepada penciptanya sebagai abdi yang acapkali rapuh mempersembahkan dedikasi terbaiknya.

Apakah cinta yang melahirkan rindu ataukah cinta bagian dari istrumen rindu?.

Bang Noe ketika menafsirkan lirik lagu ruang rindu menjelaskan bahwa bukan rindu yang datang dari cinta. Bukan cinta duluan kemudian rindu. Tapi semua cinta merupakan menifestasi rindu kepada yang Maha. Ada yang kosong di dalam diri manusia kemudian mencoba mengisinya dengan cinta.

Dari cinta si kecil kepada mainannya, cinta anak kepada orang tuanya, cinta istri kepada suaminya, maka rindu kepada yang Maha menjadi asas dalam mencintai. Begitu menyesakkan kalau yang didamba  adalah kembali dan segera bertemu dengan yang Maha. Perjalanan tidak berarti apa-apa lagi jika yang diharapkan hanyalah kembali

Kerinduan kepada Tuhan kadang dekat, kadang demikian berjarak. Karena yang memang estetis dalam hidup adalah dinamika. Dekat dan bahagia sepanjang waktu bukanlah kebahagiaan. Nikmatnya hujan saat cuaca memanas, nikmatnya tidur karena ngantuk, dan nikmatnya pertemuan saat sedang dilanda kekeringan rindu.

Nah, saat merasa berjarak dengan Tuhan. Apa yang sanggup kita lakukan?. Sedangkan setting kapan ngantuk saja tidak bisa. Apatah lagi merasa dekat atau merasa jauh dengan Tuhan. Namun kesemuanya tidak menjadi persoalan, tak usah bermelankolis, sok bersedu-sedan tiada tara.

Cukup bernelangsa dengan elit. Justru patut disyukuri, karena tatkala mendekat kembali, suatu kenikmatan yang tak terhingga yang dalam radar kekuasaan kita adalah beribadah entah dengan bergumam dalam renungan, tafakur sembari berzikir dan tercenung sambil menenun selaksa doa.

Ketika menghadap Tuhan (Sholat dll). Merasa tidak sanggup membayangkanNya, resapilah bahwa Tuhan sedang memandang kita. Dia memandang dengan kerlinganNya. Karena kita adalah kekasih. Dan yakinlah kita akan bersua di dalam ruang kerinduan, sebab rindu pun merupakan sebuah rangkain perjalanan kembali yang mungkin disebut sebagai rumah abadi. Menetap di sana untuk selama-lamanya.

Jarak adalah wadah potensial bersemainya rindu, maka pertemuan di ruang rindu adalah proses menuju pulang. Ruang rindu sendiri sarat dengan maksud semiotik. Hemat saya, ruang rindu patut dimaknai sebagai tempat sujud (Rumah ibadah), tempat para perindu mengekspresikan kerinduannya kepada yang Maha.

Penulis : Suljaris Djamil (Mahasiswa UINAM dan Aktivis Muslim Makassar)

Editor : Adji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here