Hari Kedua Communication Fair, Berlangsung Kegiatan Anchor Competition dan Talkshow Fotografi

0
95
views

Apakabarkampus.com-Hari kedua pelaksanaan Communication Fair 2018 oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin Makassar dilaksanakan di dua tempat yaitu di aula prof syukur abdullah (Fisip) dan aula prof mattulada (FIB). Selasa 06/03/2018

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan di aula prof syukur abdullah yaitu Anchor Competition yang diikuti oleh 52 peserta dari berbagai instansi yang ada di makassar dan dihadiri oleh berbagai juri dari berbagai media yaitu David Rizal (Presenter SCTV), Gibran Muhammad (Presenter Kompas TV) dan Muhtar Lutfi (Koordinator presenter Celebes TV)

Salah satu peserta mengungkapkan banyak pelajaran yang ia temukan dalam kegiatan ini.

“Ini adalah acara yang menarik, saya banyak belajar dari sini, bertemu dengan teman-teman peserta dan juri yang hebat-hebat dan selalu mengajari saya dengan baik dan saya berharap kegiatan dari Kosmik tidak berhenti sampai disini dan juga publikasi dan sosialisasi juga sebaiknya lebih luas lagi agar peserta kedepannya lebih banyak” Ujar Mitahul jannah mahasiswa Polimas LP3I Tamalanrea selaku peserta.

Disisi lain, peserta yang menaruh minat lebih dalam mengenai fotografi mulai memadati Talkshow Witnes by picture yang dipandu langsung oleh Hariandy Hafid selaku moderator talkshow pada pagi hari ini. Talkshow fotografi ini mengundang dua narasumber yang kompeten dibidangnya, yakni Yusuf Ahmad dan Adek Berry di Aula Prof Mattulada.

Dalam penjelsannya Yusuf Ahmad menjelaskan jika foto dokumenter murni untuk kegiatan tertentu yang kemudian berkembang menjadi fotografi jurnalistik jika nantinya dipublikasi ke media. Fungsi foto dokumenter adalah untuk mendokumentasikan yang disajikan dengan gaya jurnalistik dan artistik.

“Foto dokumenter sifatnya lama atau panjang tidak terikat pada waktu sedangkan foto story adalah foto yang menceritakan sebuah peristiwa dan satu masa saja, dan untuk foto essay, narasi dianggap sebagai hal yang mutlak”. Ujarnya

Dalam penjelasannya pun Yusuf Ahmad menceritakan pengalamannya mengambil foto dokumenter pada suku Bajo yang memakan waktu lama dan sampai saat ini masih dalam pengerjaan.
“kita harus kerjakan apa yang anda sukai misalnya budaya seperi suku bajo selanjutnya menjadi fotografer dokumenter sebaiknya kita meriset terlebih dahulu, meminta izin dan melakukan persiapan yang baik sebelum turun untuk foto.” Tambahnya.

Seorang fotografer akan berbeda jika mempunyai konsep dengan yang tidak. Fotografer jurnalisitk sebagai penyampai informasi. Tanggung jawab pesan yang tidak bisa melihat peristiwa yang terjadi berharap dapat membuat orang berfikir menjadi lebih sehat atau menggugah hati para audience.

Adek Berry menampilkan foto-foto jurnalistik suatu peristiwa, kemudian melanjutkan penjelasannya tentang pentingnya kekuatan konsep dan narasi seorang fotografer yang tentunya perlu waktu dan kemauan yang kuat bukan karena budgetnya.

Lebih lanjut Yusuf Ahmad berpendapat pekerjaan jurnalistik adalah untuk umum, siapapun bisa mengambilnya. Itulah bedanya kita dengan fotografer amatir adalah etika yang kita pegang dengan baik dan tidak memanipulasi foto.

“Dewasa ini fotografer sudah banyak, teknologi sudah canggih tapi sebagai fotografer yang baik harus punya kredibilitas, dan tentunya jujur tidak membuat foto hoax dan semacamnya hanya untuk mendapatkan pujian. Karena semuanya harus dimulai step by step, tidak instan dan hati-hati” ujar Adek Berry dalam sesi sharing talkshow witness by picture.

Penulis: Panitia Pelaksana

Editor: Zul Khulafair

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here