FLP UNM Hadirkan Pemenang Lomba Essay International se-Asia Pasifik 2017.

0
184
views

Apakabarkampus.com – Nur Syarif Ramadhan seorang penyandang difabel yang tergolong low vision bermimpi menjadi penulis sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Ia menjelaskan bahwa awalnya Syarif tertarik dengan genre fiksi dan bukan essay hingga temannya memeriksa tulisannya. Ini ia sampaikan pada acara Sharing Ilmu Penulisan Essay yang diselenggarakan oleh FLP Ranting UNM.

“Awalnya saya tertarik dengan fiksi dan bukan essay, namun setelah teman saya memeriksa, ternyata saya kurang piawai dalam mendiskripsikan sesuatu. Dan saya keterbatasannya di situ”, ungkap Syarif saat memaparkan materinya. Di cafe Sahabat jalan Skarda N Karungrung, Rappocini, Makassar. Sabtu, (17/3).

Dihadiri oleh perwakilan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN)

 

Ia pun melanjutkan. Dan saya awalnya ikut-ikut lomba Essay sehingga saat itu saya mendapatkan penghargaan tahun 2007 juara 3. Terlebih setelah saya bergabung di FLP, sejak itulah saya menekuni Essay, lanjutnya.

Dan baru-baru ini ia menjuarai lomba essay internasional se-Asia Pasifik kategori remaja 25 tahun ke bawah. Dalam lomba ini Syarif meraih juara 3 se-Asia pada tahun 2017.

Musfira ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting UNM merupakan Mahasiswi dari Fakultas Ekonomi UNM menyampaikan pentingnya agar FLP tetap eksis di kampus orange tersebut.

“Kami berharap dengan kegiatan ini kedepannya FLP dapat berkontribusi lebih banyak lagi untuk membantu mereka yang memiliki mimpi menjadi seorang penulis”, ucap Fira.

Tidak lama lagi kami akan melaksanakan Training of Writer (TOWR) dengan tujuan merekrut mereka yang ingin menjadi penulis, dan di sana mereka akan diberikan pelatihan kepenulisan dari para penulis yang berpengalaman, lanjutnya.

“Dan berharap dengan ini, virus literasi dapat tersebar di kampus dan kepada masyarakat pada umumnya”, tutup Fira.

Dalam wawancara, Nur Syarif Ramadhan menuturkan bahwa menjadi seorang difabel, tidak boleh menjadi sebuah alasan untuk tidak bisa berkarya.

Foto bersama setelah kegiatan.. Nur Syarif  Ramadhan (di tengah kemeja abu-abu).

“Inilah yang mau saya sampaikan bahwa seorang difabel itu harus terus berusaha untuk menghasilakn sebuah karya dan tidak boleh hanya sekedar menjadi penonton saja dan akhirnya menjadi kelompok yang terbelakang, apalagi sampai dimanfaatkan oleh orang lain. Maka dari itu tidak boleh lagi ada tindak diskriminatif terhadap mereka yang memiliki kecacatan fisik”, pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here