KKN Dalam Kacamata Sistem Pendidikan Sekarang dan Islam.

0
116
views

KKN Dalam Kacamata Sistem Pendidikan Sekarang dan Islam

Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah suatu program yang harus dilalui oleh seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjana.  Menjadi lirikan prioritas untuk merasakannya atau menjadi sesuatu yang sulit untuk dihadapi oleh sebagian orang.

Mengapa KKN disukai oleh sebagian orang? karena hal ini menjadi sesuatu yang membuat mahasiswa banyak merasakan berbagai pengalaman dan kebersamaaan dengan orang dan karakter yang berbeda, serta terjun ke masyarakat dengan menghadirkan inovasi-inovasi baru di wilayah mereka.

Termasuk membangun solidaritas. Dan biasanya akan menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka. Tetapi di sisi lain tak menjadi lirikan ataupun bisa dikatakan menjadi bencana oleh sebagian orang.

Pelanggaran ini disebabkan karena ketidakpatuhan terhadap hukum syara’ atau beberapa pelanggaran lainnya dalam hukum Islam, seperti campur baur antara laki-laki dan perempuan (ikhtilat), atau dalam kurun waktu kurang lebih 45 hari bersama dalam suka duka yang satu tanpa adanya standar baku (Hukum Syara’) sebagai pembatas yang jelas dan tegas, dan masih banyak lagi pelanggaran pergaulan yang terjadi di antara mereka. Ini adalah gambaran umum mengenai perasaan serta testimoni mahasiswa-mahasiwi ber-KKN.

Dalam buku panduan KKN dikatakan bahwa tujuan besar yang didapatkan mahasiswa dari KKN adalah untuk mengoptimalkan pencapaian maksud dan tujuan perguruan tinggi yakni, menghasilkan sarjana yang menghayati permasalahan masyarakat dan mampu memberi solusi permasalahan secara pragmatis, dan membentuk kepribadian mahasiswa sebagai kader pembangunan dengan wawasan berpikir yang komprehensif.

Di atas itu merupakan tujuan positif yang mengandung bagian dari penerapan sistem pendidikan hari ini. Selama 45 hari melakukan kuliah di lapangan disertai dengan program kerja yang tersusun rapi dalam lembaran kertas. Program yang diberikan tentu saja harus sesuai dengan kebutuhan dan problem solving yang terjadi di masyarakat dan harus selesai dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa untuk memberikan solusi kepada masyarakat bukan waktu yang singkat dan mudah. Tetapi membutuhkan waktu yang lama dan keahlian yang mumpuni sebagai dokter masyarakat.

Artinya adalah kita tidak bisa menjadi dokter yang memberikan resep salah yang akan membuat pasien semakin kronis. Akibatnya terjadi malapraktek.

Masyarakat yang jauh dari perkotaan, tentunya dilengkapi dengan fasilitas yang tidak mumpuni. Dengan generasi yang tidak begitu cerdas. Dengan ruang belajar yang tidak sesuai dengan kebanyakan orang belajar dan mempunyai duit berlebih.

Termasuk pengetahuan agama yang sangat minim, musholla yang tidak terisi oleh pemuda-pemuda (bahkan jamaahnya hanya satu, dua orang). Ini membuat miris kita, bahkan setelah pengadaan TPA oleh KKN dan penarikan dilakukan, TPA pun berlalu. Tidak bisa dielakkan bahwa kita pun ikut serta dalam membangun desa tempat kita ber-KKN. Namun apakah ini cukup untuk menjadi solusi bagi mereka? nyatanya TIDAK!.

Masyarakat butuh bukti nyata sepanjang waktu bukan hanya 45 hari yang memberikan pelepas pilu tuk sejenak. Bukan dengan hanya ber-KKN tapi bagaimana caranya agar kita kembali ke sistem pendidikan yang baik dan benar seperti sistem pendidikan Islam.

Karena hanya Islam lah yang mampu mencerdaskan masyarakat dan pemuda serta menyelesaikan setiap permasalahan ummat yang begitu banyak. Menyelesaikan duka lara sampai dengan penyelesaian secara holistik dan tak akan memunculkan permasalahan baru lagi.

Dalam pendidikan Islam, bukan hanya ber-KKN 45 hari tetapi bagaimana caranya meningkatkan fasilitas dan kualitas pemuda di daerah pedesaan. Hingga tak ditemukan pembeda antara masyarakat kota ataupun desa karena mereka memiliki kualitas pemikiran yang sama dan memiliki daya saing yang sama pula.

Sebab Islam terbukti dapat mencerdaskan bangsa, bukan hanya dengan ibadah ritual saja tetapi ia pun mampu menjadi sebagai way of life (pandangan hidup) yang digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan mahasiwa yang berintegritas tinggi.(*)

Penulis : Ghaziyah Ufairah (Mahasiswi UIN Alauddin Makassar)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here