Andaikan Buku Sepotong Roti

0
59
views

Andaikan Buku Sepotong Roti
Oleh : Bachtiar Adnan Kusuma*

Apakabarkampus.com – Andaikan buku sepotong roti, maka tak lengkaplah sebuah kehidupan baru bagi masyarakat jika belum menempatkan membaca sebagai bagian penting dalam hidupnya. Karena itu, buku, ibarat makanan, jika manusia haus dan lapar, maka ia mencari minuman dan makanan. Nah, jika otak manusia haus dan lapar, maka makanan dan minumannya adalah membaca buku.

Benarkah Makassar menjadi sebuah kota dunia, jika saja membaca dan menulis belum menjadi tradisi bagi masyarakatnya?

Jika Proklamator Bung Hatta masih saja hidup, ia akan sedih dan prihatin melihat wajah pendidikan kita yang semakin hari menunjukkan ketertinggalan dari negara-negara lain di dunia. Bung Hatta adalah Bapak pendiri Bangsa Indonesia bersama Bung Karno yang dikenal memiliki kepedulian besar bagi tumbuhnya minat baca Indonesia. Kecintaan Bung Hatta terhadap buku, membuatnya memboyong puluhan buku-bukunya ikut menyertai saat di buang di Boven Digul. Apa perbedaan Bung Hatta dan Tan Malaka dalam menempatkan buku sebagai benda yang amat dihargainya? Kalau Bung Hatta berhasil membawa puluhan, bahkan ratusan buku-bukunya ke penjara, sementara Tan Malaka ratusan buku-bukunya tenggelam di laut saat ia membawanya ke penjara.

Dan, Indonesia tak bisa dipungkiri bangsa yang belum gemar membaca, dan masih saja tetap di nomor urut sepatu jika kita sandingkan minat baca negara-negara Asean lainnya. Padahal membaca adalah kunci pembuka ilmu pengetahuan. Kalau malas membaca, apalagi tak bisa membaca, ini sebuah pertanda kedangkalan wawasan. Wawasan dangkal, maka pendidikan rendah. Kalau pendidikan rendah, kemiskinan mengancam. Yang terjadi adalah semacam lingkaran setan keterpurukan bangsa ini.

Kalau minat baca rendah, maka pasti ada efek domino setelahnya. Contohnya, anak-anak akan lebih gemar menonton. Anak-anak nyaris habis waktunya di depan TV sekitar empat hingga lima jam perhari atau sekitar 30 hingga 35 jam dalam sepekan. Artinya, setahun anak-anak kita menonton televisi sekitar 1.600 jam. Padahal, buku itu gudangnya ilmu pengetahuan. Dan, perpustakaan gudangnya buku. Artinya perpustakaan itu “maha gudangnya“ ilmu. Tapi coba kita seksamai kondisi perpustakaan sekarang betul-betul menjadi gudang ilmu. Kondisinya memang persis gudang, berantakan dan berdebu. Ironisnya, minim pengunjung dan lebih tepat dijuluki “Museum buku”. Di dalamnya banyak barang-barang antik, usang dan tak terawat. Buku-bukunya seperti kitab-kitab dari zaman Majapahit. Kertasnya sudah menguning dan berlapis debu tebal.

Kampanye Makassar Darurat Membaca dan Menulis. Berkiblat pada pernyataan Dauzan Farook, bahwa senjata untuk melawan kebodohan adalah dengan buku. Bukankah dari buku banyak orang-orang besar lahir mulai dari intelektual, pengusaha, pejabat dan tokoh-tokoh pencerah masyarakat. Ironisnya, Indonesia dengan jumlah penduduknya terbesar 240 juta jiwa hanya mampu menerbitkan sekitar 24.000 judul buku baru pertahun dengan rata-rata cetak perjudul sekitar 3.000 eksemplar, artinya buku baru pertahun beredar hanya 72 juta. Padahal UNESCO menetapkan bahwa 1 orang minimal membaca 7 judul buku baru pertahun( di Indonesia 1 Judul buku baru dibaca 4 orang). Jelaslah, Indonesia berada di urutan ke-60 sebagai salah satu negara paling terendah budaya membacanya dari 65 negara!

Mengapa budaya baca kita rendah? Dalam buku The Accelarated Learning Handbook menyebutkan bahwa sesungguhnya buku adalah alat utama mengobati penyakit yang muncul dalam proses pembelajaran di era sekarang ini. Jadi buku tak hanya sebagai komuditas belaka, tapi lebih dari itu buku adalah alat yang bisa menambah ilmu pengetahuan. Karena itu, gagasan membangun tradisi membaca sebaiknya lebih memusatkan pelibatan masyarakat secara mandiri dan swakarsa. Masyarakat harus terlibat total agar Makassar bisa menjadi kota ikon membaca dan menulis.

Nah, berkaca dari John Wood, menggagas Room to Read adalah sebuah lembaga nirlaba yang dirintis, mantan eksekutif Microsoft yang memiliki wilayah kerja Asia Pasifik. Selepas dari Microsoft, John kemudian bekerja secara sukarela dengan menyediakan banyak buku bagi anak-anak di negara-negara miskin. Ia digerakkan oleh sebuah hasrat yang kuat untuk melakukan sesuatu yang berguna membantu anak-anak yang tak punya akses pendidikan. John berjanji pada kepala sekolah Pasupathi, bahwa dia akan kembali membawa buku. Faktanya sederhana, John kembali memenuhi janjinya mendirikan ruang baca di daerah pedalaman Pasupathi.

Lalu, apa yang perlu dicontoh dari John Wood? Banyak hal yang perlu ditiru dan diteladani dari sosok John Wood. Di antaranya, ia rela meninggalkan karier puncaknya di Microsoft dengan memutuskan mendirikan lembaga nirlaba yang bergerak pada gerakan membaca di dunia. Dengan ketulusan dan keikhlasannya, ia mendirikan 7.000 taman baca dan perpustakaan di Asia Pasifik demi mencerahkan masyarakat dunia terutama yang tak punya akses perbukuan.

Penulis bersyukur karena merintis dan membuka Perpustakaan Lorong Kampung di Parangtambung dan beberapa titik lainnya, oleh Pemerintah Kota Makassar memberikian penghargaan kepada kami sebagai Motivator dan penggagas perpustakaan lorong di Kota Makassar pada Sebagai penggagas Perpustakaan Lorong Kampung di kota Makassar, pada HUT Kota Makassar, November 2017 lalu. Sepotong roti peradaban, kini tumbuh dari lorong kampung di kota Makassar. Selamat Hari Buku 17 Mei 2018.

*) Ketua LPM Parangtambung, Sekjend Asosiasi Penulis Profesional Indonesia

Editor : Puguh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here