Lapas palsu-Opini tajam dari KTI

0
60
views

Lapas Palsu

Apakabarkampus.com – Opini- Masih ingatkah kita dengan bait-bait lagu dari seorang eks narapidana Bona Paputungan yang berjudul “Andai aku jadi Gayus Tambunan”? Ekspresi kekecewaan tentang lemahnya hukum di dalam sel tumpah ruah dalam lagu tersebut.

Bagaimana tidak. Bona yang saat itu menjadi narapidana kasus kekerasan rumah tangga, mendapat perlakuan yang normal sebagaimana biasanya napi.

Dipukul dan dihantam pentungan, sampai harus menjalani ritual di dalam sel sesama napi lain, semua telah ia rasakan.

Sementara di satu sisi, ada seorang narapidana mafia pajak kasus korupsi, bisa berlenggak lenggok ke sana ke mari. ke bali, plesiran, makan direstoran, bawa gadget, dan sebagainya, dialah Gayus Tambunan.

“Saya merasakan benar bahwa hukum bisa dibeli.” Kata Bona Paputungan dalam percakapannya kepada Tempo 2011 lalu.
Sebenarnya, kekecewaan serupa -mengenai praktek curang di dalam sel- juga dirasakan oleh masyarakat lainnya.

Tetapi mau dikata apa, narapidana berdompet tebal tetap dapat merubuhkan aparat di dalam sel sekalipun. Sehingga sistem bisa diubah-ubah semaunya, kamar sel bisa disulap jadi hotel sekalipun.

Sel yang semestinya berfungsi sebagai rumah tahanan, dan diharapkan mampu membuat jera para pelaku kejahatan, kini tinggal cerita belaka. Kenyataannya, banyak sel pesanan atau sel palsu yang marak, contoh salah satunya yaitu lapas Sukamiskin.

Jauh dari namanya penghuni-penghuni di dalam lapas itu sangat tak tahan dengan keadaan miskin. Narapidana tak tahan dengan keadaan sumpek, sepi, sebagaimana layaknya kamar tahanan lainnya.

Sementara petugasnya, tak tahan dengan iming-iming rupiah dari dompet tebal napi, intinya tak ingin miskin juga, bukan?

Sungguh memalukan hasil sidak yang baru saja selesai di lapas tersebut. Dilansir dari Harian Fajar 22 Juli 2018, halaman Lapas Sukamiskin, Bandung Jawa Barat tampak begitu asri, dilengkapi dengan hiasan kolam ikan.

Terdapat saung tempat bersantai narapidana dan keluarga, bahkan jika bosan mendera, ada ruang band yang siap menghibur, ada fasilitas olahraga gym, parahnya ada pula bisnis bilik asmara.

Bagaimana soal kamar? Tentu tak ubahnya sebuah hotel yang mewah. Terdapat fasilitas lengkap dan pendingin ruangan (AC). Sebuah kamar bekas tahanan lain, bisa disewakan oleh orang dalam seharga Rp. 400-500 jutaan.

Soal makanan? Tak usah khawatir. Pesan apa pun ada. Asalkan narapidana berdompet tebal. Apapun bisa dinikmati.

Dilakukan pula Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Sukamiskin, mereka yang tertangkap adalah Kalapas, Wahid Husen, dan stafnya Hendry Saputra, yang telah menjalankan bisnis jual beli fasilitas untuk napi korupsi di dalam lapas.

Kemudian juga menahan Fahmi Darmawayansyah, (napi korupsi Bakamala), Inneke Koesherawati (artis, Istri Fahmi) dan Andri (napi umum) (Fajar, 22 Juli 2018).

Lihatlah, sejatinya Sukamiskin tak layak disebut lapas, melainkan sel palsu. Masyarakat benar-benar tertipu. Perampok duit rakyat nyatanya tak dapat hukuman tegas, justru hidupnya lebih makmur dan sejahtera di dalam sel.

Ini bisa menjadi sebab korupsi makin merajalela di negeri ini. Indonesia Corruption Watch mencatat, pada tahun 2017 terdapat 576 kasus korupsi dengan kerugian Negara mencapai Rp 6,5 triliun dan suap Rp 211 miliar (Kompas.com 20 Februari 2018).

Pada akhirnya, semua semakin jelas bahwa nafsu dan keinginan telah menyetir kebanyakan orang untuk berbuat semaunya. Tujuan hidup mempengaruhi cara-cara manusia mengambil langkah dan perbuatan.

Ketika tujuan hanyalah untuk materi, maka sekalipun menempuh jalan maksiat, akan dilakukan. Tetapi sadarlah, bahwa ada hari pembalasan untuk itu semua.

Berapa banyak nyawa yang disusahkan dari praktek curang tersebut. Rakyat miskin tak makan, sementara koruptor makin lancar merampok duit mereka karena tak takut hukum dalam sel.

Toh, mereka punya duit untuk menyetirnya. Yang diberi amanah dalam menegakkan keadilan, juga tak ingat sumpah yang pernah terucap, sebab tujuan hanyalah untuk materi, maka tak apa suap menyuap.

Maka dari itu, kita mesti sadar, bahwa realitas seperti ini merupakan realitas yang sudah demikian parah, rusak, dan memalukan.

Kita butuh sistem baru. Sistem yang mampu menerangi pemikiran-pemikiran setiap orang agar berorientasi bukan pada materi.

Kita butuh sistem baru, yang menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Sistem yang sempurna. Sistem ini tentunya tidak lahir dari nafsu dan kepentingan para begundal yang memakan hak saudaranya sendiri.

Sistem seperti ini hanya akan kita dapatkan dari Dia yang Maha Tahu, Maha Pencipta, yang tentunya paham betul apa dan bagaimana manusia dalam bernegara, mengurusi urusan sosial dan urusan terhadap dirinya sendiri.

Dari mana kita akan dapatkan sistem semacam ini? Jawabannya adalah “Dari mana lagi jika bukan dari Pencipta Yang Maha Adil, dan Tahu segala sesuatunya, serta pemilik Undang-undang dunia yang di dalamnya telah tuntas pembahasan terkait kehidupan manusia sekarang, sebelum dan sesudah kehidupan ini.” Wallahua’lam Bisshawab.(*)

Penulis : Arinda Nurul Widyaningrum (Mahasiswi UINAM)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here