Gema Pembebasan UNM Menghidupkan kembali Budaya Diskusi

0
35
views

Makassar – Apakabarkampus.com – Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komisariat UNM Gunsar menggelar diskusi pelataran yang disebut dengan Gagasan Revolusi Strategi (Garis). Makassar, Kamis, (12/09).

Gerakan Mahasiswa (GEMA) Pembebasan akhir-akhir ini sangat aktif melakukan diskursus ilmiah setelah budaya ini mulai ditinggalkan oleh para masyarakat kampus di era serba cepat ini.

Diskusi ini dimoderatori oleh Fikran dan dinarasumberi oleh Suljaris Djamil Mahasiswa Fakultas Adab UINAM. Diskusi ini pun merupakan diskusi rutin yang diagendakan oleh Gema Pembebasan Komsat Gunsar yang jadwalnya satu kali dalam dua bulan.

Sebagaimana para senior-senior aktivis dahulu yang telah menorehkan sejarah perubahan di Indonesia yang puncaknya di 1998 silam.

Ismail Islam selaku Ketua Gema Pembebasan Komisariat UNM Gunsar menyampaikan bahwa, diskusi pelataran seperti ini memang harus terus dibudayakan di tengah arus pengaruh hedonisme yang kuat.

Di depan perpustakaan Umum

“Jadi begini bang, kita tahu kalau budaya diskusi pelataran ini merupakan sebuah budaya unik warisan para senior aktivis terdahulu yang harus kita jaga dan dilestarikan bersama,” ucapnya.

Ismail menyambung ucapannya, dan kita pun sama-sama tahu kalau hari ini arus hedonisme sangatlah kuat menghantam para masyarakat ilmiah di kampus negeri maupun swasta.

Menurut Ismail, bahwa saat ini telah terjadi perang opini secara terang-terangan, sekalipun masyarakat kampus tidak semuanya sadar akan hal itu. Sehingga kita harus melawan arus opini yang membungkam idealisme mahasiswa.

“Saat ini sudah berlangsung perang opini secara terang-terangan, dan siapa yang paling kuat opininya, maka hegemoni merekalah yang akan mendominasi dan akan mengubah budaya masyarakat secara berangsur,” tuturnya lagi.

Bisa kita lihat, budaya sekarang ini. Ingat, pekerjaan mahasiswa itu ya belajar, bukan fokus mencari duit dan meninggalkan kewajiban moral di kampus. Bahkan ketika kurs rupiah jatuh di cekik dolar pun kebanyakan mahasiswa tenang-tenang saja. Dan ini sungguh bahaya.

“Tapi ini bukan salah mahasiswa, sebab mereka itu adalah korban dari sebuah regulasi yang sengaja dibuat rumit, seperti sistem pendidikan yang dikapitalisasi, sistem ekonomi yang liberal sehingga mencekik leher rakyat kalangan bawah dan mengalihkan tugas dan fungsinya sebagai mahasiswa penyandang status masyarakat ilmiah,” pungkasnya.(*)

Adji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here