Perempuan, Antara Realitas dan Kenyataan Politik

0
124
views

Apakabarkampus.com – Berapa banyak laki-laki di zaman sekarang ini yang memberikan kedudukan mereka sebagai pemimpin pernah memberi pesan yang dikenang sepanjang masa oleh generasi muda kita?

Mengapa saat ini masih saja demokrasi yang amat menjunjung tinggi toleransi dan kesejahteraan manusia, masih banyak beranggapan bahwa tempat perempuan adalah di dalam rumah saja?.

Pertanyaan-pertanyaan hipotetis ini mengawali dialog sekaligus dijawab dengan lugas dan tegas dari dua perempuan politisi Sulsel di Komisi E DPRD Sulsel, Hj. Rusni Kasman, Anggota Komisi E DPRD Sulsel dan Faradilah Abdal, juga anggota Komisi E DPRD Sulsel dari Parta Hanura.

Hj. Rusni Kasman, S.H.M.H. mencoba mengemukakan kegelisahannya melihat kondisi politik perempuan khususnya di Sulsel. Kandidat doktor ini menggugat peran politisi perempuan di DPRD Sulsel dari 15 orang anggota yang berjenis perempuan, lima di antaranya berada di Komisi E DPRD Sulsel yang membidani Pendidikan, Sosial, Tenaga Kerja, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga agar keterwakilan gender di parlemen bisa memenuhi quota 30 persen. Karena itu, Rusni yang diaminkan oleh Faradilah Abdal, menilai keterwakilan perempuan dalam parlemen bisa saja terwujud, asal ada political will dari partai politik dan pemerintah untuk mendudukan perempuan di parlemen.

Jujur harus diakui, kalau secara kuantitas perempuan di Indonesia berjumlah 101.625.816 jiwa menempati 51% dari seluruh penduduk Indonesia.

Sesuai catatan BPS tahun 2000 yang dikutip oleh Bachtiar Adnan Kusuma, aktivis penggerak literasi Sulsel menunjukkan kalau perempuan harus menempati posisi kedua setelah laki-laki. Menurut BAK, pembagian kerja berbasis jenis kelamin telah melandasi terjadinya stratifikasi gender yang membuat perempuan hanya bekerja di jalur domestik, sementara laki-laki di wilayah publik. Apalagi, pekerjaan di sektor domestik acapkali dianggap lebih rendah daripada pekerjaan di wilayah publik.

Karena itu, wajar kalau kedua tokoh perempuan Parlemen Sulsel ini, tak henti-hentinya berjuang untuk meningkatkan kesadaran perempuan yang secara sadar atau tidak telah mengadopsi praktek patriarki.

“Kami bangga punya tokoh perempuan di parlemen yang berjuang terus memperjuangkan hak-hak perempuan lainnya agar terus berkiprah di dunia politik.” Wajar kalau Kakanda Hj Rusni Kasman mengunduh terus menerus sebuah kegelisahan tentang perempuan dan politik, sebuah realitas dan harapan,” kata pemerhati pendidikan Sulsel ini, usai berdiskusi singkat dengan Hj. Rusni Kasman, S.H.M.H. dan Faradilah Abdal, di Lt 7 Gedung Tower DPRD Sulsel, Selasa (18/9).(*)

Editor : Puguh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here