Mengembangkan Literasi Para Ulama dari Timur

0
53
views

Apakabarkampus.com – Literasi pemikiran pendidikan Islam yang bersumber dari ulama terkemuka seperti K.H. Abdurrahman Ambo Dalle, H.S. Idrus bin Salim Aljufri, dan ulama lainnya di Nusantara sangat urgen dalam rangka menjadi referensi dalam merekonstruksi bangunan filosofi dan praksis pendidikan Islam di era global saat ini.

Demikian disampaikan oleh Arifuddin M. Arif dalam presentasi makalahnya di panel paralel session pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-18 di IAIN Palu, Rabu (19/09).

Akademisi IAIN ini lebih lanjut mengatakan “Pendidikan Islam, secara eksistensial dipandang tepat sebagai alternatif pendidikan generasi millenial menampilkan konstruksi pendidikan yang tidak sekedar memicu kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual bagi tumbuhnya kearifan personal dan sosial menghadapi ekses globalisasi dan era disrupsi”.

Pakar Pendidikan Islam IAIN Palu ini lebih lanjut memaparkan bahwa “globalisasi telah memunculkan nilai-nilai dan gaya hidu baru dan pada saat yang bersamaan melahirkan problem kehidupan, patologi sosial modern (anomie), dan fatalisme moder karena terjadinya split personality.

Mengapa kondisi ini terjadi? Karena ada nilai yang diabaikan dalam membangun “imunitas” manusia melalui pendidikan dalam rangka survive menghadapi kompetisi global, yaitu nilai dan nalar spiritualitas berbasis nilai ilahiyah, insaniyah, dan alamiyah secara terintegrasi yang semuanya bermuara pada “education and learning to worship”.

Kerangka nilai-nilai ini banyak ditemukan dan dipraktikkan oleh ulama kita dalam desain human being-nya melalui proses pendidikan, sehingga mereka berhasil melahirkan generasi yang memiliki daya survive dan daya fight dalam menghadapi tantangan zamannya. Dan nalar-nalar pendidikan berbasis spiritualitas-rasional ini masih sangat relevan dijadikan landasan bangunan filosofi pendidikan Islam di era modern saat ini, ungkapnya.

Arifuddin yang juga sebagai Direktur Education Development Center (EnDeCe) ini mengatakan “empat pilar pendidikan yang dirumuslan UNESCO, yaitu learning to know (think), learning to do, learning to be, dan learning to live together ternyata belum mampu melahirkan manusia modern yang tangguh secara moral karena mengabaikan “to worshipnya”. Tanpa menapikan dimensi rasional dan kreativitas dalam empat pilar tadi, dimensi spiritual (to worship) sangat urgen dijadikan pilar utama dalam pembentukan insan kamil. Karean dimensi spiritualitas memperkuat “daya tahan” dan “daya ber-Tuhan” menghadapi kehidupan, sedangkan dimensi empat pilar dari UNESCO tadi memperkuat kemampuan survive manusia untuk berkompetisi dalam meraih kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. *)

Editor : Puguh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here