Aksi Kaum Terlaknat Semakin Vulgar

0
31
views

Oleh: Nurindah Fajarwati Yusran
Marketing Khansa Property

 

Kaum adam dengan fisik idaman itu lebih suka sesama jenis. Persaingan semakin sulit, tak hanya bersaing dengan wanita lain, tetapi pesaingnya adalah lelaki lain,” sebuah kalimat menggelitik diposting JawaPos.com.

Kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dengan bangga melaunching kegiatan Mister & Miss Gaya Dewata 2018 yang akan dihadiri 80 kandidat dari 40 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Jumlah terbanyak berasal dari Jawa bagian tengah dan timur, yakni sebanyak 28 orang.

Grand final dalam pemilihan ini diagendakan pada Rabu, 10 Oktober 2018 di Bhumiku Convention Hall Denpasar Bali.

Menuju Puncak kegiatan, berbagai kecaman dan penolakan berdatangan, baik dari Muhammadiyah Bali, Forum Peduli Keluarga (FPK), hingga MUI Bali secara langsung mengirimkan surat permohonan meminta aparat kepolisian menindaki secara tepat dan tegas untuk pembatalan kegiatan tersebut.

Evi Risna Yanti, ketua Forum Peduli Keluarga FHUI dalam siaran persnya mengungkapkan, “Kegiatan ini mengiris-iris hati setiap orang tua dan keluarga,” ujarnya.

Forum nasional aktivis LGBT telah nyata kehilangan akal ingin mempertontonkan pada semua orang, hingga membuat para orang tua tidak habis pikir jika istilah “jeruk makan jeruk” dilakukan keluarga terdekat mereka.

Penolakan dari pihak keamanan dan organisasi keagamaan tidak lantas menjadikan kontes ini selesai begitu saja. Dalam rilis Yayasan Gaya Dewata mengisyaratkan, jika penundaan ini hanyalah masalah teknis yang tidak akan menghentikan langkah komunitas mengekspos diri, berbicara secara terbuka dan bangga akan diri mereka serta kontribusinya untuk Indonesia.

Sisa menunggu waktu dan tempat yang tepat untuk benar-benar bersuara. Panitia dibelakang kegiatan ini nyatanya bukan panitia biasa. Yayasan Gaya Dewata (YGD) merupakan salah satu organisasi berbasis komunitas LGBT sejak tahun 1992.

Jika ditelisik, perubahan dramatis yang terjadi dalam sistem politik dan pemerintahan pada Mei 1998 membuka pintu gerakan lesbian, wanita biseksual dan pria transgander (LBT) di Indonesia semakin berkembang dalam cakupan yang lebih luas. Salah satunya dalam kongres perempuan Indonesia pada bulan Desember 1998 di Surabaya secara resmi mengikut sertakan perwakilan dari kaum LBT.

Dalam kongres tersebut, Komisi Pelindungan Indonesia (KPI) menegaskan bahwa mereka secara resmi, termasuk Sektor XV yang terdiri dari orang-orang LBT. Meskipun dibeberapa provinsi yang lebih konservatif terjadi sentimen yang keberatan terhadap pengikutsertaan mereka, di wilayah yang mengenal kerangka ini, pelaku LBT dapat diberdayakan untuk mengorganisir diri. (Laporan LGBT Nasional Indonesia-Hidup Sebagai LGBT di Asia).

Ramainya perilaku terlaknat next generation di masa Nabi Luth as. tidak muncul begitu saja. Penyimpangan sosial yang telah jelas bertentangan dengan fitrah manusia ini semakin hari semakin vulgar setelah legalisasi pernikahan sejenis di AS pada 26 Juni 2015 yang dilakukan langsung oleh Mahkamah Agung AS.

Gencarnya kampanye juga di sokong dana besar yang digelontorkan ke berbagai negara khususnya Indonesia. Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) menggelontorkan dana sekitar Rp 107,8 milyar atau setara 8 juta dolar AS demi mendanai proyek pengembangan komunitas LGBT sejak Desember 2014 hingga September 2017.

Kampanye LGBT kian mengancam semua generasi, khususnya generasi muda. LGBT yang memujakan syahwat merupakan buah liberalisasi pergaulan bebas atas nama Hak Asasi Manusia (HAM).

Serangan LBGT di dunia maya turut membuat banyak sekolah melakukan aksi penolakan dan memperketat pengawasan di media sosial.

Tidak perlu di rehat lagi jika negeri ini darurat LGBT, penanganannya tidak cukup lewat peringatan dari lembaga ataupun ormas yang kontra terhadapnya, negara harus terdepan dan sigap dalam menyelesaikan permasalahan agar tidak semakin menambah keresahan. Mengubah secara parsial berbagai kecaman dan menghentikan kontes bukanlah solusi yang tepat.

Telah menjadi urgensi menetapkan solusi mendasar mencabut akar permasalahan dengan mengharamkan segala bentuk kemaksiatan, mulai dari pacaran, pergaulan bebas, menutupi situs-situs pornografi dan tidak mendiamkan begitu saja pelaku LGBT hidup bebas ditengah masyarakat. Para pelaku LGBT mesti diberikan pendidikan agama agar mereka kembali pada jalan yang benar.

ALLAH swt. secara langsung memberikan peringatan akan rusaknya negeri ini karena kemaksiatan lewat gempa yang bertubi-tubi hampir di seluruh pulau di Indonesia.

Cukuplah peringatan ALLAH swt. untuk mengajak kita kembali pada syariat-Nya. Sebagaimana yang pernah diperlihatkan pada kaum sodom dalam firman-Nya di Al-Qur’an Surah Hud: 82, “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”

 

Editor:
Ma’arif Amiruddin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here