LGBT DIAMINI KEBERADAANNYA DI NUSANTARA

0
83
views

Apakabarkampus.com – OPINI – When I was in the 3rd grade/ I thought that I was gay/ Cause I could draw, my uncle was/ And I kept myroom straight/ I told my mom, tears rushing down my face’ Mackleore & Ryan Lewis- Same Love

Ini adalah petikan lagu Mackleore dan Ryan Lewis, lagu penuh ‘makna’ bagi kaum LGBT sebab berisi dukungan terhadap cinta mereka. Persoalan LGBT hingga detik ini sangat krusial dan tak pernah habis menjadi buah bibir.

LGBT yang merupakan penyakit perilaku menular ini, kini telah menjadi wabah penyakit yang terus menyerang bangsa ini, pelan namun pasti. Sebut saja kasus gay berpesta narkoba oleh kelompok North Face yang digrebek polisi di Sunter Agung, Jakarta Pusat.

Sekelompok pria diduga gay ini diduga akan pesta seks. Pasalnya saat digerebek polisi, rata-rata pria tersebut hanya menggunakan celana dalam. (Liputan6.com, 30/09/18).

Belum lagi kasus kemunculan grup kelompok gay di kalangan pelajar SMP dan SMA di Garut dengan jumlah anggota tidak tanggung-tanggung.

Dilansir oleh detikcom. bahwa grup tersebut beranggotakan 2.500 orang dan hingga saat ini aktivitasnya masih terus berjalan (detikcom,08/10/18).

Anggota dengan umur belia ditambah masih duduk di bangku sekolah cukup mengiris hati berkali-kali. Membayangkan masa depan bangsa ini dengan generasi mudanya yang terjangkiti bibit-bibit LGBT amatlah menyedihkan.

Namun, mau bagaimana lagi bila kenyataan tersebut telah berdiri di depan mata. Lagi, kontes Pemilihan Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 di Bali telah memasuki Grand Final akan diselenggarakan bulan ini di Bhumiku Convention Hall. Kontes ini telah dilaksanakan setiap tahunnya dan tahun ini kembali digelar.

Sebenarnya ini bukan lagi berita baru karena kasus-kasus di atas hanya sebagian kecil dari kasus yang belum terungkap. Meski terungkap tak sebanyak yang tersembunyi namun cukup meresahkan kita.

Belum lagi pesta seks yang mereka lakukan, narkoba, pelecehan seksual hingga pada pembunuhan. Sayangnya penggerebekan-penggerebekan yang terus dilakukan seakan menumbuh-suburkan komunitas ini, satu lorong disumbat maka sepuluh lorong baru siap dibuat.

Fenomena LGBT di negeri ini akan terus mencuat ke permukaan, terlepas dari pro-kontra dari masyarakat.

Secara umum masyarakat menolak kaum LGBT, terlepas Indonesia mayoritas umat Islam. Namun, di sisi lain LGBT tetap diberi ruang untuk mengeksiskan diri di negara ini.

Adanya  ruang-ruang terbuka bagai angin segar bagi mereka (baca: LGBT) untuk mengaminkan keberadaannya di Indonesia.

Di samping itu bantuan berupa dana dan dukungan besar telah dikantongi oleh kelompok LGBT maka tak mengherankan bila langkah mereka tak pernah berhenti di negeri ini.

Perlu diketahui juga salah satu badan PBB, yaitu United Nations Development Program (UNDP) telah mengucurkan dana sekitar 108 milyar untuk mendukung sepenuhnya komunitas LGBT.

Program “Being LGBT in Asia” ini berfokus pada negara Asia Timur dan Asia Tenggara (khusunya Cina, Indonesia, Filiphina dan Thailland). “Inisiatif ini dimaksudkan untuk memajukan kesejahteraan komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks (LGBTI), dan mengurangi ketimpangan dan marginalisasi atas dasar orientasi seksual dan identitas gender (SOGI). Begitu yang diungkap oleh UNDP dalam situs resminya. (News.Detik.com/12/2/2016)

Ditambah lagi dengan sejumlah perusahaan-perusahaan besar milik asing turut menjadi pendukung. Film-film bahkan buku-buku bacaaan ikut mengangkat kisah-kisah mereka dan disebarkan.

Semua ini telah menjadi pengokoh kaki mereka untuk meluruskan jalan demi mencapai cita-citanya. Tampaknya memang penggerebekan tersebut tak mempan sebab tak menimbulkan efek jera.

Adapun pelaku LGBT baru akan dipermasalahkan ketika kegiatan-kegiatan mereka berlangsung berkelompok dan bila masyarakat merasa terganggu karenanya.

Jadi, apabila kegiatan mereka tidak berbentuk kelompok dan mereka melakukannya diam-diam tanpa perlu menimbulkan reaksi maka masyarakat akan aman-aman saja.

Buat apa cari ribut kalau rumah adem-adem, tetangga mau melakukan apa tak masalah asal jangan buat keributan, jangan menganggu. Kira-kira begitulah.

Padahal agama Islam bulat mengatakan LGBT merupakan perilaku menyimpang yang bisa mendatangkan kemaksiatan besar bahkan mengundang murka Allah.

Kebencian Allah terhadap kaum Sodom akibat menyukai sesama jenis ditunjukkan-Nya melalui azab dengan menghancurkan bangsa itu tanpa sisa.

Manusia sebagai makhluk berakal sudah tentu mampu membedakan mana baik dan buruk. Dan penyaluran gharizah nau’ yang mereka lakukan amat bertentangan dengan fitrah, bahkan hal ini sekalipun tidak dijumpai dalam kehidupan hewan.

LGBT jelas merupakan penyimpangan seksual, menafikan tujuan pernikahan yaitu melestarikan keturunan.

Allah Swt. Berfiman dalam QS. An-Nisa: 1 “Wahai manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Sesungguhnya LGBT akan terus bekerja demi melegalkan keberadaannya. Atas nama HAM mereka bebas mengekspresikan diri dan bertindak sesukanya tanpa memedulikan agama.

Atas nama HAM mereka mendapat payung perlindungan dari negara. Padahal sesuatu yang dibenci oleh Allah tak perlu diberi toleransi, tak peduli meski harus menolak suara mayoritas rakyat.

Maka, hanya syariah Islam satu-satunya pemilik solusi tuntas untuk menutup semua akses, melumpuhkan pergerakan-pergerakan bahkan menghapus keberadaan mereka.

“Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.”  QS. Al-Hijr:74.

Penulis : Khaeriyah Nasruddin

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here